Penopang

December 5, 2010

Setiap manusia mempunyai jalan hidupnya masing-masing. Ada yang ditakdirkan untuk menjadi orang kaya, miskin, cantik, tampan, buruk rupa dan sebagainya. Namun dari semua takdir yang diterimanya, manusia masih diberi kesempatan untuk merubah takdir hidupnya dengan jalan berusaha. Tidak ada yang tidak bisa, namun yang ada adalah mau atau tidak. Agar bisa menjadi orang yang “mau”, manusia harus mempunyai harapan dalam kehidupannya. Harapan ini tentulah harapan yang baik untuk dirinya dan orang-orang yang dicintainya.

 

Kehidupan manusia ditopang oleh empat hal pokok. Yaitu, kehendak dimana didalamnya termasuk harapan, keinginan, dan sebagainya. Untuk mewujudkan kehendak, setiap manusia harus mempunyai ide. Setelah mempunyai ide yang tepat, masih ada proses represntasi yang juga mencakup perencanaan serta pelaksanaan. Dan terakhir adalah hadiah dari tiga hal tersebut, kekuasaaan. Kekuasaan disini bukan hanya yang berupa fisik saja namun lebih bersifat kepada phsikis dimana kepuasan menjadi ujungnya.

 

Namun kita acap kali hanya mempunyai kehendak untuk berkuasa tanpa adanya ide dan representasi dari ide tersebut. Kita sering kali ingin terbang menuju puncak gunung padahal jelas-jelas tahu bahwa untuk sampai kepuncak, kita harus berjalan selangkah demi selangakah. Mimpi dan keinginan terlalu meracuni pikiran hingga pada akhirnya kita malah akan terpaku karena sama sekali tidak ada ide untuk mewujudkan kehendak. Tidak jarang pula diantara kita yang sudah berusaha dengan maksimal namun hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Saat kejadian seperti ini menimpa, bagi orang-orang yang sudah terbuai mimpi, kemungkinan besarnya ia akan kecewa dalam kadar berlebihan hingga berujung tak bisa menerima keadaan.

 

Menerima keadaan dan menghadapi kenyataan adalah hal tersulit sekaligus kunci keberhasilan dari kehendak kita untuk memperoleh kekuasaan. Kita sering mendengar ungkapan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, itu tidak bisa disalahkan walaupun tidak ada kesempatan kedua dalam satu peristiwa. Sebab apa yang biasa kita sebut kesempatan kedua, terjadi pada kejadian yang sama namun bukan pada peristiwa yang serupa.

 

Orang yang tidak mampu menerima keadaan apa adanya serta tak mampu menghadapinya, cenderung akan diam dan tidak melakukan apa-apa, walaupun secara fisik dia terlihat sangatlah aktif. Dia akan lebih banyak hidup dalam dunia mimpi penuh warna, sementara ketika terbangun, hanya ada hitam dan kelam didepan mata. Dia akan menjadi pemimpi sejati dan pengeluh nomor wahid.

 

Tapi seperti layaknya dunia yang selalu mempunyai kontra argumentasi untuk mempertahankan keseimbangan. Menerima keadaan apabila dimakan mentah-mentah, kita juga akan menjadi manusia yang tak mau berusaha secara maksimal. Maka dari itu setelah kita bisa menerima setiap kejadian, kita harus bisa menghadapinya untuk memunculkan sebuah kehendak untuk memperoleh kekuasaan yang baru. Dan pada kesimpulannya, kita harus terus menjaga kehendak dan keinginan untuk bisa bertahan hidup.



Loyalitas, Kehormatan, dan Keadilan Dalam Berkelompok

October 11, 2010

Dengan berkelompok kita mempelajari loyalitas, kehormatan, dan keadilan-perilaku moral yang mendasar dari diri kita dan tanggung jawab personal serta kelompok. Pelan-pelan kita akan merasakan bahwa semua adalah satu. Didalam sebuah kelompok dibutuhkan sebuah loyalitas dari individu-individu angotanya. Loyalitas sendiri merupakan insting, hukum tak tertulis yang berlaku bagi semua anggota kelompok khususnya dimasa kritis. Hukum tak tertulis ini merupakan bagian dari system kelompok dan bahkan lebih berpengaruh bila dibandingkan dengan cinta. Kelompok disini bukan hanya sekolompok organisasi massa, partai politik, ataupun negara tapi bisa dimulai dari hubungan pertemanan, berpacaran, pernikahan, dan keluarga.

Kita semua bisa loyal terhadap anggota keluarga yang kebetulan tidak kita sukai, loyal terhadap orang se-etnik walaupun kita tidak mengenalnya secara personal. Loyalitas kelompok ini mempengaruhi individu sedemikian kuat, khususnya apabila salah satu bagian kelompok berkonflik dengan musuh atau seseorang atau persoalan yang berhubungan dengan nilai-nilai personal kelompok ataupun individu itu sendiri. kita juga bisa sangat loyal terhadap pasangan dan membutakan pikiran kita walaupun fakta mengatakan pasangan kita tidak diinginkan oleh kelompok kita sebelumnya. Loyalitas semacam inilah yang pada akhirnya akan menjadi racun dalam kelompok manapun apabila individu-individu didalamnya mengartikan secara sempit. Loyalitas merupakan sifat terindah dari setiap kelompok, mungkin lebih tepat jika kita menyebutnya sebagai sifat yang paling istimewa selama loyalitas tersebut dijalankan sebagai sebuah komitmen dengan bobot yang sama baik individu maupun kelompok.

Selain loyalitas, sebuah kelompok juga membutuh kehormatan untuk mengikatnya menjadi semakin kuat. Setiap kode kehormatan dari kelompok merupakan kombinasi dari tradisi agama, etnik dan ritual. Ritual layaknya “baptis” dalam kelompok secara energitas akan menumbuhkan benih spiritualitas dan kebanggaan dalam setiap anggota baru. Perasaan bangga ini akan memancarkan kekuatan yang mengikat kita untuk menjaga setiap komitmen yang telah menjadi kesepakatan bersama. Kode kehormatan juga akan menimbulkan sebuah pola pikir bersih dimana setiap individu selain akan menjaga kehormatan kelompoknya keluar, juga kedalam. Apabila ada anggota kelompok yang merasa tidak senang kepada yang lain dan ia menceritakan alasan ketidaksenangannya tersebut maka secara langsung kita sudah berhadapan pada satu dilema. Apabila kita sebagai individu sekaligus bagian dari kelompok hanya memiliki loyalitas dan yang lebih celaka lagi kita mengartikan loyalitas itu secara sempit, maka akan memunculkan kemungkinan dimana kita akan menilai kasus diatas hanya dari kepentingan sesaat. Kita cenderung akan menggunakan azas benar dan salah, siapa yang lebih berguna, dan sebagai manusia biasa kita tidak akan bisa lepas dari suatu penilain yang bersifat personal subyektif sehingga setiap keputusan dari azas yang kita gunakan diatas adalah untuk kepentingan pribadi dengan berlindung dibalik kepentingan kelompok. Kehormatan dalam kelompok akan menjadikan kita berpikir lebih panjang demi kepentingan bersama dan untuk waktu yang lebih panjang pula.

Loyalitas dan kehormatan kelompok akan menjaga setiap anggota untuk menjaga komitmennya terhadap kelompok. Sebaliknya, kelompok harus bisa memberikan “keadilan” untuk membalas apa yang telah diberikan oleh anggotanya. Keadilan dalam kelompok bisa berwujud seperti nyawa dibayar nyawa, perlakukan orang lain sebagaimana seharusnya ia diperlakukan, atau sejenis pemberian hukum karma. Keadilan yang diberikan oleh kelompok harus dapat digunakan dalam memepertahankan tatanan sosial yang bisa dijabarkan dengan “membalas tindakan terhadap orang lain yang dianggap membahayakan baik kepada anggota maupun kelompok itu sendiri dimana hal membahayakan tersebut dilakukan tanpa alasan yang jelas.” Selain sebagai pembalasan, keadilan kelompok ini juga dapat diterapkan sebagai sebuah perlindungan kepada setiap individu didalamnya. Namun keadilan kelompok ini tidak diberlakukan tanpa adanya perintah atau kesepakat kelompok, diberikan kepada bagian kelompok yang ingin mengambil keuntungan pribadi, dan kepada setiap orang yang dianggap sebagai ancaman oleh kelompok. Keadilan dalam kelompok bisa juga diartikan sebagai sebuah balas dendam. Karena bisa dapat dipastikan bahwa jika tindakan balas dendam ini dilakukan sendiri oleh individu yang tersakiti, maka tindakan tersebut akan menjadi tidak terkontrol. Untuk meminimalisir aksi balas dendam menjadi benih dendam yang baru, maka disinilah peran keadilan dalam kelompok diperlukan. Jika saja rasa keadilan kelompok ternyata tidak bisa memuaskan secara pribadi atau menghalangi kemajuan kita, maka kita harus memberanikan diri mengambil tindakan yang bersifat murni individu dengan atau tanpa persetujuan dari kelompok selama tindakan kita tidak mengurangi kehormatan kelompok dan siap menanggung resikonya secara personal.

Satu Kesatuan

July 24, 2010

Pada dasarnya kita mempunyai sebuah kesamaan yaitu sama-sama manusia. Manusia sendiri adalah satu kesatuan dari berbagai elemen baik materi maupun imateriil. Ada tangan, kaki perut, kepala, mata kulit, tulang dan sebagainya yang pada akhirnya membentuk kita menjadi manusia. Ada yang bertugas memerintah dan diperintah. Si pemerintah tak pernah lelah dan mengeluh untuk menemukan berbagai cara untuk mencapai apa yang disebut kebahagiaan, demikian halnya dengan yang menerima perintah. Saat otak memerintah tangan kita untuk mengambil gelas, akan menjadi hal yang tidak mungkin bila kemudian dia memegang pisau. Selain patuh pada perintah, seluruh komponen dalam tubuh manusia juga saling mendukung. Apabila kaki kita terantuk batu, maka mata kita akan menangis, mulut kita mengaduh, dan tangan kita akan memegangnya erat erat. Tidak mungkin ketika kaki terluka mulut kita berucap “rasain lo”.

Bukan hanya pribadi, manusia satu dengan yang lainnya juga merupakan satu kesatuan dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Sebagaimana ketidak sempurnaan pada diri manusia secara individual. Secara pribadi, mungkin ada salah satu bagian atau lebih dari tubuh kita yang tidak sempurna atau kurang baik. Hidung pesek, mata juling, kaki pincang, dsb. Untuk merawat diri, kita perlu mencukur kumis, rambut, kuku, pergy ke gym, salon dan lain-lain. Kesatuan antar manusia juga terdapat ketidak sempurnaan. Kita perlu untuk terus memperbaiki diri dengan belajar menjadi manusia seutuhnya. Dalam memperlakukan orang lain, sebisa mungkin kita harus menganggapnya sebagai bagian dari tubuh kita sendiri seburuk apapun dia. Kita dituntut untuk mengerti bahwa setiap manusia mengemban tugasnya masing-masing dan apabila ia dipaksakan untuk mengemban tugas lain maka itu justru akan berakibat semuanya menjadi sakit atau mempesar kemungkinan untuk terluka.

Sebagaimana manusia ketika menjadi wujud pribadi, ia terkena siklus lahir, tua, sakit, dan mati. Suatu ketika mungkin ada bagian tubuh kita yang direlakan untuk diamputasi karena kusta maupun diabetes atau sebab-sebab lain. Demikian juga pola pikir yang kita terapkan pada manusia-manusia lain. Terkadang kita harus berani mengambil keputusan untuk membuang salah satu dari mereka demi menyelamatkan sebagian besar lainnya. Kita memang tidak akan mendapatkan ganti serupa dari bagian tubuh yang sudah kita buang, tapi paling tidak kita akan merasa lebih nyaman dan lebih baik dari semula sebelum kita membuang bagian tubuh tersebut.

Cina dan Diskriminasi Terhadap Mereka

July 24, 2010

Tercatat dalam sejarah, telah berkali-kali etnis Tionghoa ini telah menjadi korban atau dipersalahkan oleh suku-suku mayoritas lainnya. Pembantaian Cina di Jakarta pada 1740 merupakan peristiwa pertama dengan jumlah korban jiwa terbanyak. Tidak kurang dari sepuluh ribu nyawa melayang akibat peristiwa tersebut. Berturut-turut setelahnya peristiwa Geger Pecinan yang menjadi salah satu penyebab pindahnya keraton dari Kartasura ke Sala. Awal abad XX ketika gelora nasionalisme tengah berkembang pesat dengan ditandai munculnya organisasi yang bersifat nasionalisme, kembali etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan akibat persaingan dagang dengan penduduk pribumi yang tergabung dalam SI.Peran pemerintah kolonial dengan politik adu dombanya juga sangat besar dalam memperuncing masalah ini. Kebijakan politik mereka yang menempatkan Tionghoa sebagai warga kelas dua, satu kelas diatas pribumi, tentu saja menimbulkan kebencian dari kalangan penduduk lokal.

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, kebijakan terhadap etnis ini juga tidak kunjung membaik. Pada masa pemerintahan Sukarno, terbit PP No. 10/1956 yang mengharuskan semua pedagang eceran yang berkewarganegaraan asing harus keluar dari desa-desa dan hanya boleh melakukan aktivitas perdagangannya ditingkat kabupaten keatas. Munculnya peraturan menyebabkan puluhan ribu warga Tionghoa yang berada di desa-desa dan kecamatan harus angkat kaki.

Tidak berbeda jauh dengan pendahulunya, rezim Orde baru juga mengeluarkan peraturan yang sifatnya menekan sisi phsikologis warga Tionghoa. Keluarnya Inpres No. 14/1969 yang melarang semua kebudayaan Cina, baik itu tulisan, kesenian, bahkan etnis inipun tidak diperbolehkan lagi menggunakan nama asli Tionghoa yang sudah mejadi identitas bagi mereka.

Solo, kembali kota ini menjadi tempat meletusnya kekerasan terhadap etnis minoritas ini untuk kesekian kalinya. Hanya gara-gara perkelahian antara dua pelajar dimana salah satu pelakunya berasal dari etnis Tionghoa, kota Solo harus menyala bersamaan dengan terbakarnya puluhan toko milik Cina. Kerusuhan pada 19 November 1980 ini dengan sangat cepatnya merambat ke Semarang dan berbagai kota lainnya di Jawa Tengah.

Konflik yang terjadi di Solo pada 1980 ini menunjukkan betapa rawan bangsa kita kepada masalah-masalah yang berbau SARA khususnya jika masalah tersebut menyangkut etnis Tionghoa.

Mengapa selalu Cina?
Tionghoa, adalah salah satu suku bangsa yang sudah cukup lama berada negeri ini. Pengaruh dan sumbangan mereka juga tidaklah sedikit dalam perkembangan bangsa. Bahkan Wali Sanga yang notabene adalah tokoh terbesar dalam dunia Islam di Indonesia juga ada yang berasal dari keturunan ras Mongoloid ini. Namun pada kenyataanya sekarang ini, warga Tionghoa tetaplah dianggap sebagai orang asing oleh orang-orang yang merasa sebagai warga Negara Indonesia “asli”. Kemapanan dibidang ekonomi semakin memperburuk posisi mereka dalam lingkungan sosial sehingga suku ini kerap menjadi sasaran pelampiasan. Ditambah lagi dengan gaya hidup mereka yang dipandang ekslusif kerap menjadi alasan untuk semakin menyudutkan mereka.

Pola perkampungan Cina dimana hanya berbaur dengan masyarakat yang berasal dari satu suku, sedikit banyak juga turut berperan dalam membentuk kesan eksklusif tersebut. Arsitektur rumah dengan dipagari yang tembok tinggi semakin membuat mereka tertutup dari pergaulan masyarakat umum. Selain pola perkampungan dan arsitek perumahan yang cenderung menutup diri, etnis Tionghoa ini biasanya juga menempati daerah perkotaan dan menguasai sektor perdagangan serta ekonomi. Selain itu, perbedaan agama juga berpengaruh sangat besar dalam berbagai gerakan anti Cina di Indonesia. Pandangan ini mengemuka karena di Indonesia bukan hanya kaum Tionghoa saja yang statusnya sebagai pendatang, namun karena perbedaan agama itulah yang mengakibatkan pendatang lain selain Cina tidak terkena imbas aksi amuk massa.

Kecenderungan mereka untuk mengeksklusifkan diri tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Demikian juga dengan kurangnya intensitas mereka bergaul ditengah masyarakat. Tingginya jam kerja mereka juga merupakan alasan yang logis mengapa mereka jarang membaur dengan masyarakat pada umumnya. Bukankah juga terdapat kampung Jawa juga tersebar dibanyak tempat diluar Jawa, di Aceh misalnya? Demikian juga dengan perkampungan Madura dan suku-suku lainnya juga tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Keberadaan mereka disuatu daerah lain toh tidak pernah dipergunjingkan walaupun tidak menutup kemungkinan pernah terjadi gesekan-gesekan sosial diantara mereka.

Dijaman dimana sistem informasi sudah sangat canggih seperti sekarang ini, peran media diharapkan bisa benar-benar bersikap netral tanpa memihak atau berusaha mengambil keuntungan dalam situasi tersebut. Biar bagaimanapun, media media mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk pola pikir masyarakat terhadap suatu opini yang tengah berkembang. Tulisan media massa yang cenderung mengarah untuk menyulut permusuhan, akan jauh lebih berpengaruh daripada ribuan orang yang turun kejalan untuk berorasi.

Biar bagaimanapun Tionghoa mempunyai sumbangsih yang sangat besar terhadap bangsa Indonesia. Dalam cabang bulutangkis misalnya, Rudi Hartono berhasil mencatatkan namanya menjadi manusia yang paling banyak meraih gelar di ajang All England. Demikian juga dengan Susi Susanti dan Alan Budikusuma sebagai peraih medali emas dalam olimpiade Barcelona, saat cabang olahraga ini untuk pertama kalinya diikutsertakan dalam parade olahraga terbesar itu. Adakah diantara kita yang mengetahui nama Tionghoa mereka mereka? Sebaliknya jika ada seorang Tionghoa melakukan kesalahan atau melanggar hukum, kita akan mendapatkan dua nama, Gunawan Santosa alias A Cin sebagai contohnya.
Pemerintah adalah institusi paling bertanggung jawab untuk meminimalisir terulangnya kejadian serupa. Pemerataan ekonomi adalah hal terpenting setelah berbagai peraturan dan Undang-undang yang disahkan yang menyangkut masalah SARA. Kesalahan dengan memberlakukan Undang-undang terdahulu seperti PP No.10 tahun 1956 dan Inpres No.14 1969 tidak boleh terulang lagi.

Tahun 1998 merupakan lembaran hitam bagi sejarah bangsa Indonesia dan golongan etnis Cina. Krisis ekonomi yang berkepanjangan menambah jumlah pengangguran yang diikuti oleh semakin banyaknya warga Negara Indonesia berada dibawah garis kemiskinan seiring dengan harga bahan-bahan pokok terus bergerak naik. Hal ini turut berpengaruh juga pada tindak kriminalitas, khususnya didaerah perkotaan. Yang paling dasyat adalah dengan adanya berbagai kerusuhan bernuansa SARA.
Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998 di Indonesia secara keseluruhan, sempat menggemparkan dunia dan mengakibatkan penderitaan yang luar biasa terhadap tidak saja korban yaitu Etnis Tionghoa, tapi juga kepada para pelaku kerusuhan. Peristiwa tahun 1998 itu, secara tidak langsung telah menempatkan etnis Cina pada posisi inferior dan menjadi obyek sasaran suatu peristiwa. Di tengah berlangsungnya peristiwa tersebut muncul pertanyaan apakah etnis Cina itu bagian dari bangsa Indonesia atau mereka itu orang luar (outsider) yang bukan bagian dari bangsa Indonesia? Pertanyaan ini telah merefleksikan bahwa sesungguhnya selama ini etnis Cina sebagai salah satu bagian dari bangsa Indonesia ini secara terus menerus menjadi sasaran-setidaknya diarahkan menjadi sasaran- dalam peristiwa-peristiwa, terlebih lagi yang berbau rasialisme.

Hal terbaik yang dapat dilakukan sekarang ini untuk mencegah adanya Historian Reconstruction adalah membangun kesadaran yang berhubungan dengan masalah SARA karena setiap manusia adalah obyek dari hal tersebut. Setiap orang harus mau berusaha untuk memahami dan mengerti tentang pola pikir dan kehidupan sesamanya bukan mencari perbedaan. Sebagai mayoritas harus bisa melindungi dan mengayomi, sementara yang minoritas juga harus bisa mengikuti arus mayoritas tanpa harus meninggalkan jati diri mereka.

Dari Sam Po Kong Sampai Demak

July 24, 2010

1405-1425
Armada Tiongkok dinasti Ming dibawah pimpinan laksamana Sam Po Bo menguasai perairan pantai Asia Tenggara.

1407
Palembang yang secara turun temurun sudah menjadi sarang perampok orang-orang Tionghoa Hokkian berhasil direbut dan Cen Ce Yi sang kepala perampok berhasil ditawan dan dibawa ke Peking yang kemudian dihukum pancung. Di Palembang sendiri dibentuk masyarakat muslim Tionghoa bermazhab Hanafi. Kelompok Tionghoa muslim di Palembang ini adalah kelompok muslim pertama yang dibentuk di kepulauan nusantara. Setelah pembentukan di palembang, pada tahun ini juga dibentuk kelompok yang sama di di Kalimantan.

1413
Laksama Sam Po Bo menempatkan Bong Tak Keng untuk mengepalai kelompok-kelompok muslim Tionghoa yang mulai berkembang pesat di wilayah pesisir Asia Tenggara. Bong Tak Keng yang berkedudukan di Campa kemudian mengangkat Gan Eng Cu di Manila. Pada tahun ini juga, Sam Po Bo singgah disemarang dalam rangka perbaikan kapal.

1423
Kelompok-kelompok Tionghoa Muslim berkembang semakin pesat. Melihat keadaan itu, maka Bong Tak Keng memindahkan Gan Eng Cu dari Manila ke Tuban untuk mengepalai kelompok-kelompok Tionghoa muslim diwilayah Jawa, Palembang dan Kalimantan. Waktu itu Tuban masuk dalam wilayah kerajaan Majapahit yang pamornya sudah merosot tajam sejak ditinggalkan oleh Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Karena hampir seluruh kawasan perairan Asia Tenggara pada waktu itu sudah dikuasai oleh armada pasukan Ming, maka Gan Eng Cu beberapa tahun kemudian diberi gelar A Lu Ya (Arya) oleh raja majapahit Rani Suhita.

1424-1449
Kekaisaran Ming mengangkat Ma Hong Fu sebagai duta besar di kerajaan Majapahit. Ma Hong Fu sendiri merupakan menantu dari Bong Tak Keng.

1430
Sam Po Bo merebut daerah Tu Ma Pan di Jawa Timur dan menyerahakannya pada Rani Suhita. Sebagai tanda balas budi, Rani Suhita mengangkat Gan Eng Wan, saudara Gan Eng Cu sebagai bupati. Setelah menjadi bupati ia berganti nama menjadi Aria Suganda. Gan Eng Wan sendiri juga merupakan bupati muslim pertama kerajaan Majapahit.

1431
Laksamana Sam Po Bo wafat.

1436
Gan Eng Cu pergi ke Tiongkok untuk menghadap kaisar Yang Yu. Kaisar kemudian memutuskan kelompok masyarakat Tionghoa Palembang menjadi bawahan Tuban, sementara kelompok yang berada di Kalimantan berdiri langsung dibawah gubernur Nanking. Karena Gan Eng Cu adalah seorang Kapten Cina di Tuban, maka kaisar Ynag Yu menghadiahkan pakaian Mandarin Besar lengkap dengan tanda pangkat berupa ikat pinggang emas.

1443
Gan Eng Cu menempatkan Swan Liong untuk menjadi pemimpin Tionghoa muslim di Palembang. Dalam Babad Tanah Jawi, Swan Liong dikenal dengan nama Arya Damar/Jaka Dilah yang merupakan putera dari Brawijaya dari istri ketiganya yang berasal dari peranakan Tionghoa dari Cangki/Mojokerto. Namun disini ada kerancuan, karena pada tahun itu, (dalam Babad Tanah Jawi yang menempatkan Arya Damar ke Palembang adalah Hyang Wisesa atau Wikramawardhana memerintah Majapahit hanya sampai pada tahun 1427) Rani Suhita sebagai raja Majapahit juga menempatkan Arya Damar sebagai penguasa di Palembang. Jadi ada kemungkinan bahwa Gan Eng Cu memberikan kekuasaan pada Swan Liong di Palembang lebih dikarenakan oleh diangkatnya Swan Liong menjadi adipati disana.

1445
Bong Swi Hoo diperbantukan kepada Swan Liong di Kukang (Palembang). Bong Swi Hoo merupakan cucu dari Bong Tak Keng di Campa. Tahun ini juga Bong Swi Hoo diperintahkan oleh Swan Liong untuk menghadap Gan Eng Cu dan meminta agar bisa menjadi salah satu kapten Cina.

1446
Bong Swi Hoo singgah di Semarang dalam perjalanannya menuju Tuban.

1447
Bong Swi Ho sampai di Tuban dan menikahi puteri dari Gan Eng Cu.

1447-1451
Bong Swi Hoo diangkat menjadi kapten Cina dan ditempatkan di daerah Jiaotung/Bangil, yang terletak dimuara sungai Brantas kiri (Kali Porong).

1448
Bupati Gan Eng Wan mati terbunuh. Daerah Tu Ma Pan pun lepas dari Majapahit. Orang-orang Tionghoa yang beragama Islam/Hanafi banyak pula yang mati terbunuh oleh penduduk lokal yang masih menganut Hindu/Jawa.

1449
Duta besar Tiongkok untuk Majapahit, Ma Hong Fu, singgah di Semarang dalam perjalanan pulangnya ke Tiongkok. Sebelumnya, istri Ma Hong Fu wafat dan dimakamkan secara Islam di Majapahit.

1450-1475
Terjadi kemerosotan pada dinasti Ming hingga menyebabkan semakin jarangnya kunjungan armada-armadanya ke masyarakatnya yang berada di Nan Yang. Karena hal itu pulalah terjadi kemerosotan jumlah pada masyarakat Tionghoa Muslim dan tidak sedikit bangunan-bangunan masjid beralih fungsi menjadi kelenteng. Kejadian semacam itu dapat kita lihat di Semarang, Ancol, Lasem, dll.
Sepeninggal Sam Po Bo, Bong Tak Keng, dan Gan Eng Cu maka Bong Swi Hoo menjadi kepala masyarakat Tionghoa Islam yang jumlahnya makin lama makin merosot, baik itu di pulau Jawa, Kalimantan maupun Palembang. Bong Swi Hoo berinisiatif menganti bahasa Tionghoa dengan bahasa Jawa serta mengorientasikan penyebaran Islam yang semula diprioritaskan kepada Tionghoa yang memang sebelumnya telah Islam beralih kepada orang Jawa atau penduduk lokal. Inilah sebuah keputusan yang pada akhirnya menjungkir balikan keadaan dikemudian hari.

1451
Campa, yang semula beragama Islam/Hanafi di gulingkan oleh masyarakat Budha yang berasala dari Sing Fun An (Pnom Penh). Tahun ini juga Bong Swi Hoo meninggalkan Tionghoa Islam di Jiaotung guna memimpin masyarakat Jawa Islam di Ngampel, dekat muara Brantas Kanan (Kali Mas)

1551-1557
Bong Swi Hoo selain memimipin masyarakat Islam di Ngampel, juga membentuk masyarakat Jawa Islam di pantai utara dan Madura dan masyrakat Tionghoa Muslim yang berada di Tuban, Kalimantan dan Palembang tetap tunduk padanya. Sementara di Jiaotung sendiri masjid Tionghoa berubah menjadi kelenteng Sam Po Kong sepeninggal Bong Swi Hoo.

1455
Kota Jiaotung lenyap setelah dilanda banjir.

1456-1474
Swan Liong membesarkan dua peranakan Tionghoa yaitu Jin Bun (orang kuat) dan puteranya Kin San (Gunung Emas). Meraka berdua adalah saudara satu ibu berlainan ayah.

1474
Jin Bun dan Kin San meninggalkan Palembang untuk menghadap Bong Swii Hoo dan singgah di Semarang terlebih dahulu.

1475
Atas permintaanya sendiri, Jin Bun ditempatkan oleh Bong Swi Hoo disebuah bukit tak bertuan di sebelah timur Semarang. Jin Bun mendapat tugas untuk membentuk masyarakat Jawa Islam di sekitar Semarang, sebagai pengganti masyarakat Tionghoa Muslim yang sudah banyak keluar dari Islam.
Sementara Kin San diperintahkan oleh Bong Swi Hoo untuk menghadap ke Majapahit agar bisa menjadi penghubung antara pihak keraton dan Tionghoa karena sepeninggal Ma Hong Fu otomatis tidak ada lagi orang yang bertugas menjadi semacam duta dari masyarakat Tionghoa. Selain karena pengaruh Bong Swi Hoo, Kin San yang pernah belajar membuat petasan menggunakan ketrampilannya itu agar dapat masuk dan diterima oleh Kertabhumi.

1475-1518
Selama lebih dari empatpuluh tahun, Jin Bun dengan tangan besi memerintah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

1447
Jin Bun merebut kota Semarang dengan tentara Islam Demak yang hanya berjumlah 1000 orang. Jin Bun berhasil menaklukan Semarang dimana kelenteng Samp Po Kong diduduki terlebih dahulu agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak menimpa bangunan bersejarah tersebut. Selain menduduki kelenteng, Jin Bun juga membumihanguskan sebuah perkampungan yang dulunya menjadi kampung Islam di daerah Candi, sebelah selatan Semarang.
Setelah berhasil menaklukan Semarang, Jin Bun kemudian dipanggil untuk menghadap Kertabhumi. Karena merasa Jin Bun adalah puteranya sendiri, maka raja Majapahit ini kemudian mengangkatnya menjadi bupati di Bing Tolo dengan gelar Pangeran Jin Bun.

1478
Bong Swi Hoo wafat. Jin Bun tidak pergi melayat gurunya melainkan dengan tentara Islam ia menyerang Majapahit. Sebenarnya sudah sejak lama Jin Bun ingin menyerang Majapahit, namun karena larangan keras dari Bong Swi Hoo dimana Jin Bun tidak diperbolehkan menggunakan senjata terhadap kerajaan-kerajan yang masih beragama Hindu, khususnya Majapahit maka ia tidak berani membantah. Setelah berhasil menundukan Majapahit, di Semarang Jin Bun kemudian membangun masjid baru.

1478-1529
Kin San menjadi bupati Semarang. Ia kemudian menunjuk putera Gan Eng Cu, Gan Si Cang yang “murtad” menjadi kapten Cina untuk masyarakat Tionghoa bukan Muslim di Semarang. Bersama Gan Si Cang, Kin San membangun kembali penggergajian kayu jati dan galangan kapal yang pernah di bangun oleh Sam Po Bo.

1479
Seorang putera dan seorang murid dari Bong Swi Hoo mengunjungi galangan kapal di kelenteng Sam Po Kong namun keduanya tidak pandai berbahasa Tionghoa.

1481
Atas permintaan pekerja di penggergajian kayu, Gan Si Cang menghadap Kin San untuk meminta ijin agar masyarakat Tionghoa bukan Islam yang bekerja di penggergajian diperbolehkan untuk ikut serta kerja bakti dalam pembangunan masjid agung Demak. Permintaan ini kemudian dikabul oleh Jin Bun.

1486
Pa Bu Ta La (Girindrawardhana/Dyah Ranawijaya/Prabu Natha) seorang menantu dari Kung Ta Bu Mi (Kertabhumi) diangkat menjadi bupati Majapahit menggantikan Njoo Lay Wa (bupati Tionghoa muslim yang ditunjuk oleh Jin Bun untuk memimpin Majapahit setelah berhasil ditaklukan pada 1478) yang mati terbunuh oleh rakyat Majapahit.

1509
Yat Sun, salah satu putera dari Jin Bun menggunjungi galangan kapal di Semarang bersama Kin San. Mereka berdua kemudian memerintahkan untuk melipatgandakan pembuatan kapal, karena Yat Sun hendak menyerang Mao Lok Sa (Malaka) dengan armada Demak.

1512
Yat Sun berangkat menyerang Mao Lok Sa, namun serangan ini gagal karena Yat Sun terlalu tergesa-gesa dan juga kalah dalam persenjataan.

1513
Seorang yang bangsa Ta Cih bernama Ja Tik Su singgah di galangan kapal Semarang untuk memperbaiki kapalnya. Dalam perkembangannya Ja Tik Su kemudian diantar oleh Kin San dan Yat Sun ke Demak hingga pada akhirnya Ja Tik Su menetap dan tidak pernah kembali lagi ke Ta Cih. Kapal model Ta Cih milik Ja Tik Su kemudian ditiru oleh Kin San untuk menambah kecepatan kapal armada Demak yang semula meniru model Jung dari Tiongkok dimana ukuran kapalnya benar-benar besar sehingga kecepatannya menjadi sangat lamban.

1517
Atas undangan dari Pa Bu Ta La, orang-orang biadab berambut merah (Portugis) menjalin hubungan dagang dengan Majapahit. Hal ini diketahui oleh Jin Bun yang kemudian menyerang Majapahit untuk kedua kalinya. Karena istri dari Pa Bu Ta La adalah anak Kertabhumi yang juga merupakan adik bungsu Jin Bun maka Pa Bu Ta La masih diperbolehkan memimpin Majapahit. Namun seluruh kota dan keraton Majapahit dibumihanguskan oleh tentara Demak pada serangan kali ini.

1518
Jin Bun wafat dalam usia 63 tahun.

1518-1521
Yat Sun menggantikan ayahnya sebagai raja Islam di Demak.

1521
Yat Sun kembali menyerang Mao Lok Sa dengan meriam-meriam besar buatan Kin San yang diangkut oleh kapal-kapal model Ta Cih. Yat Sun wafat. Di Demak sendiri terjadi huru-hara tentang siapa yang akan menjadi penggantinya di Demak.

1521-1546
Tung Ka Lo, saudara Yat Sun menggantikannya sebagai Sultan di Demak.

1526
Kin San yang pandai berbahasa Tionghoa ikut dalam ekspedisi armada Demak kedaerah barat untuk menundukkan masyarakat Tionghoa di Sembung.

1527
Pa Bu Ta La wafat. Toh A bo, seorang putera dari Tung Ka Lo kemudian menduduki Majapahit. Putera puteri dari Pa Bu Ta La lebih memilih melarikan diri ke Pasuruan dan Panarukan karena tidak bersedia masuk Isam.

1529
Kin San wafat dalam usia 74 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Demak.

1529-1546
Muk Ming, seorang putera dari Tung Kang Lo menggantikan kedudukan Kin San sebagai bupati Semarang.

1541-1546
Dengan bantuan dari masyarakat Tionghoa bukan Islam di Semarang. Muk Ming berhasil menyelesaikan pembuatan 1.000 jung besar yang masing-masing bisa menampung 400 prajurit. Pembuatan jung secara besar-besaran ini dikarenakan oleh keinginan Tung Ka Lo yang hendak merebut pulau-pulau rempah-rempah dilaut timur.

1546
Armada Demak menyerang ke timur. Tung Ka Lo wafat dan digantikan oleh Muk Ming. Terjadi perang saudara antar sesama keturunan Jin Bun yaitu antara Muk Ming dan Ji Pang Kang yang sama-sama merasa berhak menjadi raja di Demak. Tentara Demak berhasil dikalahkan, selain masjid, seluruh kota dan keraton Demak dibumihanguskan. Tentara Muk Ming yang terdesak kemudian mundur ke Semarang, namun disini mereka kembali di kepung. Selain kelenteng dan masjid seluruh kota Semarang berhasil dibakar oleh tentara Ji Pang Kang termasuk penggergajian kayu jati dan galangan kapal. Muk Ming dan orang-orang Tionghoa bukan Islam banyak sekali yang mati terbunuh. Ja Tik Su kemudian menobatkan Putera Muk Ming menjadi sultan Demak, namun kemudian juga mati terbunuh.
Tentara Ji Pang selain berperang melawan Demak, juga diserang oleh tentara Peng King Kang. Ji Pang Kang berhasil dibunuh. Peng King Kang kemudian mendirikan negara Islam jauh dipedalam.

Diambil dari Kronik Tionghoa Kelenteng Sam Po Kong Semarang dalam “Runtuh-nya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara”. Prof. DR. Slamet Muljana!

Aby

June 22, 2010
Selamat malam kuucapkan padamu yang telah mendatangkan resah gelisah dan tak tentu arah
Puteri dengan penutup kepala renda sutra berwarna jingga
Wajah pesonamu hanyalah titipan semata yang hilang pada akhirnya
Tapi dibalik itu ada sebuah hati bersih terhias siraman cahayaNya
Walau kau tak sempurna, bukankah semua demikian adanya?
Disaat luka kau berusaha tetap tertawa, menahan sakit itu sendiri
Selalu bilang tak apa, padahal kutahu kecewa tengah mencabik kalbu
Mencoba tersenyum agar disekelilingmu turut dalam larut
Walau tak pernah jumpa, ada rasa suka dalam tatapan mata
Namun kau terlalu jauh untuk dapat kurengkuh
Hidup ini nyata bukan sebatas dunia maya
Tapi kupercaya, tulus do’a tak kenal batas ruang atau waktu
Kan kuhapus semua cerita, cita, dan cinta
Hanya tersisa kenangan dan selarik kata
Semoga kau bahagia, layak dan memang seharusnya kau mendapatkan itu
Puteri tempat ternyatakannya segala impian
Akan datang orang terbaik yang melindungimu berjalan
Menunjukan tempat yang selalu diliputi cahaya benderang
Menuntun kearah samudera penuh pencerahan
Melangkah dibawah naungan kasih pencipta alam
Aku dan semua kan tertawa riang sambil menaburkan kembang
Serta bercerita pernah mengenalmu dengan penuh kebanggaan

Manusia dan Citra Diri

June 8, 2010

Hampir setiap manusia selalu berusaha untuk mencitrakan dirinya sebagai “orang baik”. Beragam cara dilakukan untuk sampai pada citra tersebut. Mulai dari berkata santun, berpenampilan sewajarnya, menasehati orang lain yang “berkelakuan buruk” dan sebagainya. Orang yang merokok, minum, memakai narkotika, bertattoo, gondrong, dan berbagia hal sejenisnya biasanya akan dicap masyarakat sekitarnya sebagai orang yang bercitra tidak baik. Pada dasarnya setiap manusia mempunyai kebaikan dan kejahatan dalam dirinya. Tidak ada satupun yang benar-benar baik ataupun sebaliknya, namun karena pencitraan itulah pada akhirnya kebanyakan manusia lain menilai hanya dari satu sisi saja.

Rahwana contohnya. Ia dikenal sebagai biang kejahatan dimuka bumi dengan menebarkan segala macam angkara murka. Tapi ia dikenal sebagai tokoh kejahatan karena orang-orang kebanyakan orang hanya mengenal cerita tentang penculikan Shinta dan tidak banyak orang yang tahu kalau Alengka menjadi kerajaan terbesar dan memiliki kemakmuran luar biasanya adalah karena jasa-jasanya. Contoh lainya adalah Yudhistira atau dalam cerita pewayangan di Jawa ia juga dikenal sebagai Puntadewa. Ia adalah satria berdarah putih yang hanya sekali melakukan kebohongan hingga berakibat kematian Durna, gurunya sendiri. Dan tentunya yang lebih parah adalah ketika ia memutuskan untuk mempertaruhkan istrinya Druphadi di arena judi. Toh ia tetap dikenal sebagai orang baik dan dengan berbagai dalih pula orang-orang mempertahankan citra itu.

Manusia membutuhkan jatuh terperosok untuk belajar bagaimana caranya berdiri tapi kebanyakan dari mereka malu ketika ada orang lain yang melihatnya jatuh atau orang lain hanya melihatnya pada saat ia sudah mencengkeramkan kakinya sedemikian kuat tanpa pernah mau melihat apa yang terjadi sebelumnya. Kita hanya melihat apa yang nampak saja sehingga penampakan itu akan dengan mudah menggiring kita pada sebuah kesimpulan yang bersifat menghakimi.

Dalam fihi ma fihi, Jalaluddin Rumi membagi ilmu pengetahuan menjadi dua. Ilmu materi dan ilmu religius. Ilmu materi adalah apa yang “dilihat” dan ilmu religius adalah apa yang “diketahui” dan kebanyakan dari kita adalah orang yang berilmu materi. Disini saya cenderung setuju dengan Schopenhauer yang mengatakan “pada dasarnya semua manusia mempunyai kemunafikannya sendiri yang disebutnya sebagai kebaikan.” Yang kemudian hal senada juga diungkapkan Nietzsche “Kebenaran adalah sebuah kesalahan yang tanpanya kita tidak bisa hidup”. Semua orang pada awalnya akan mengutuk Nietzsche yang mengatakan kalau Tuhan sudah mati. Orang-orang yang mengutuk dia, hampir semuanya hanya melihat apa yang telah diucapkan tanpa mempelajari latar belakang apa yang dijadikan sebagai alasan dia untuk mengeluarkan pendapat itu.

Memang penampilan dan pencitraan adalah hal pertama yang akan dilihat oleh orang lain. Namun yang patut disayangkan adalah, kita cenderung akan langsung kecewa pada orang yang semula dikenal dengan citra baik kemudian berbuat satu kesalahan. Kita akan langsung menghujat, mencibir, bahkan “membunuhnya”. Kita sudah terlalu mebiasakan diri dengan menyalahkan orang lain hanya dari apa yang kita lihat, dan yang paling parah adalah kita selalu merasa segala yang kita lakukan adalah benar. Kita baru sadar bahwa apa yang kita lakukan adalah salah saat semuanya sudah terlambat, ketika kita sudah benar-benar jatuh dan kebiasaan kita selanjutnya adalah mengeluh dan berusaha melimpahkan kesalahan itu kepada orang lain. Jika hal yang kita lakukan benar, kita akan merasa menjadi orang yang paling benar. Namun bila yang terjadi sebaliknya, kita akan berusaha melepaskan diri atau paling tidak mencari teman. Itulah kita diakui maupun tidak!

Do’a Seorang Penakluk

June 7, 2010

Antara awang-awang di tempat para mega

Menahan himpitan langkah menuju neraka

Dibatas kota sewaktu senja jadi berhala

Tak henti angin coba mengipas bara

Dan rembulan malam tak lagi punya pesona

Sungai tlah beku sebab hujan yang ragu

Hingga melati itu berbungapun tak mau

Tak sempat lagi belati mekar diatas permadani

Akibat sunyi sepi membungkus diri

Yang entah sampai kapan akan berhenti

Lihatlah disana tak ada lagi gunung terjal

Semua tinggal tanah datar tanpa aral

Tak nampak langit kelam mengarak mendung tebal

Pertanda bosan persiapkan badai yang hampir pasti gagal

Betapa bosan bila prahara tak datang

Terlalu menjemukan tanpa tantangan

Harus ada ingin untuk tergenggam

Semoga berjumpa digaris depan

Senandung Cintaku

June 7, 2010

Biar cinta, terhalang panjangnya rel kereta

Tak akan berpaling aku jika tak diganti Luna Maya

Walaupun kasih tak seindah lagu Bon Jovi

Aku kan selalu menyayangi asal kau tak mendahului

Kita seperti rentenir dan nasabah

Tak peduli walau mungkin akan ada musibah

Bagaikan traktor dengan sawah

Hanya berniat menyuburkan meski dengan cara membelah

Layaknya Nadal dengan tanah liat

Biarpun kotor, tapi memberi gelar banyak

Dirimu adalah kesempurnaan seorang puteri, hingga banyak yang ingin memiliki

Lihatlah di senayan penuh sesak dijejali para pengantri sebagai sebuah bukti

Cinta menggiringku untuk selalu memuja namun tak bisa selalu diurutan pertama

Karena terkadang aku masih punya iman untuk menjadikan Tuhan sebagai segalanya

Orang berkata, “biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”

Namun bagiku, “kalau ada anjing menggonggong kita timpuk saja dengan batu”

Cinta kita kan teruji seiring pergantian hari

Kalau terlalu berat itu, bersama kita masih bisa lari

Biarkan semua berjalan apa adanya

Usah cari sengsara dengan makan sepiring berdua

Tak perlu kau menginginkan romantisme cinta seperti cerita film India

Karena itu hanya trik kamera dan kepintaran sang sutradara

Aku tulus mencintai, jadi tolong jangan kau sakiti

Dirimu satu tak terganti, walau kau rela di poligami

Sebagian besar akan kuberikan pada saatnya nanti, kata-katamu tentu kuturuti

Namun kumohon jangan kau pinta aku keliling Pulau Jawa dengan berjalan kaki

Antara Israel dan Thomas Hobbes

June 2, 2010

Dalam beberapa hari terakhir tentu mata kita tidak lepas dari pemberitaan media tentang serangan militer Israel kepada kapal Mavi Marwara yang berisi tidak kurang dari 700 relawan dari 40 negara dan bahan bantuan untuk penduduk Gaza. Kejadian yang amat sangat menyita perhatian dunia ini memang layak mendapat kecaman serta kutukan karena selain peristiwa ini tidaklah manusiawi, juga tempat kejadiannya berada di wilayah perairan internasional. Pemerintah Israel berdalih, bahwa serangan tersebut adalah upaya pembelaan diri karena telah lebih dulu mendapat serangan dari para relawan didalam kapal. Namun rasanya orang paling tolol sekalipun bisa mementahkan pendapat tersebut, karena tidak mungkin para relawan kemanusiaan bisa menyerang pihak militer Israel yang telah mengepung kapal tersebut dengan armada darat dan lautnya. Dilihat dari segi manapun, serangan militer negara yahudi tersebut tidak bisa dibenarkan bahkan didalam negerinya sendiri juga timbul pro dan kontra dari kalangan kalangan kabinet yang merasa tidak diikutsertakan dalam rapat pengambilan keputusan.

Sebagai sesama manusia saya pribadi turut menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh militer Israel. Tapi disisi lain ada semacam keinginan untuk menerima perlindungan yang sama dari negara terhadap warga negaranya seperti apa yang telah dilakukan oleh Israel. Negara yahudi tersebut telah melakukan berbagai cara, bahkan cara-cara bar bar demi satu kepentingan, yaitu memastikan negara dan rakyatnya terjamin dari ancaman pihak manapun. Disatu sisi, Israel telah berhasil melakukan tindakan pencegahan walaupun dengan cara yang amat sangat memalukan. Namun disisi lainnya penyerangan yang merupakan pelanggaran ke limapuluh dua yang dilakukannya adalah wujud nyata dari ketakutan berlebih serta apatisme yang keterlaluan. Apatisme Israel ini tentu adalah hal wajar, karena mereka tentu sangatlah tahu bahwa negaranya adalah sebuah negara paling dibenci di muka bumi.

Pandangan saya sebagai orang yang buta dalam hal ilmu negara dan politik luar negeri, Israel adalah penjahat bagi orang luar, namun pahlawan bagi rakyatnya. Ia ibarat seorang bajingan setelah keluar dari pintu rumahnya, tapi sangat hangat dalam usahanya menjaga setiap jengkal rumah serta penghuninya bahkan hanya dari seekor nyamuk sekalipun. Melihat dari sekian banyak yang telah dilakukan Israel selama ini, sepertinya negara tersebut berhasil menerapkan pemahaman terbalik tentang konsep negara yang ditawarkan oleh Thomas Hobbes yang mengasumsikan bahwa kebutuhan terbesar manusia adalah keinginannya untuk bertahan hidup karena itulah diperlukan sesuatu agar bisa memanfaatkan keinginan terbesar manusia tersebut sehingga akan memunculkan totalitas kepatuhan. Sesuatu yang dimaksudkan disini adalah ketakutan atau menciptakan perasaan takut kepada setiap warga negara agar mau tunduk pada setiap peraturan-peraturannya. Bila manusia diancam dan dibuat takut, ia akan dapat mengendalikan emosi dan nafsunya sehingga kehidupan sosial dapat terjamin. Dan Israel adalah negara sukses menerapkan sistem tersebut secara terbalik didalam ketatanegaraannya.

Tapi apapun yang dijadikan sebagai alasan Israel, rasanya itu akan menjadi tidak masuk akal apabila mengisolasi Gaza dari dunia luar. Itu adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditolelir lagi. Peristiwa yang terjadi di laut tengah baru-baru ini juga akan berdampak pada negara-negara lain, Indonesia contohnya. Kejadian tersebut akan menggoreskan luka baru khususnya pada umat Islam disini dan akan memunculkan kemungkinan pembalasan dendam dari mereka dengan jalan aksi-aksi teror terhadap Israel dan pendukungnya karena pemerintah kita dianggap tidak bisa berbuat banyak. Jadi, setelah berbagai upaya diplomatik yang ditempuh oleh pemerintah dan LSM lainya baik itu melalui dewan keamanan PBB maupun Mahkamah Internasioal, pemerintah dan aparat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan aksi terorisme yang sepertinya tidak mati bersama Noordin dan Dulmatin.