Archive for the ‘Untuk Bangsaku’ Category

Kisah Penghuni Terakhir Kamp Kusta di Bokor

January 4, 2012

Tan Cuan Sei (70), Thian Sin (67), dan Ong Siu Lan (66), adalah tiga sekawan senasib seperjuangan. Mereka adalah penghuni terakhir kamp pengasingan bagi penderita kusta di hulu Sungai Bokor, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Meranti.

SYAHDAN perkampungan kusta yang kini sudah kosong itu terbentuk kala zaman penjajahan Jepang. Ketika itu di kawasan Tebingtinggi, Selatpanjang banyak warga ditemukan menderita penyakit kusta dan oleh Jepang dan mereka diasingkan karena dianggap aib bagi keluarga.

Sejak itu, setiap ditemukan penderita kusta, selalu dikirim ke kamp pengasingan ini. Sebagian besar dari penghuni kamp ini adalah warga keturunan Tionghoa. Dulunya, mereka tinggal di gubug-gubug kayu. Namun sekitar empat tahun belakangan, mereka mendiami sebuah rumah permanen. Rumah ini layaknya sebuah asrama dengan banyak kamar.

Tapi kini, kamp pengasingan itu telah kosong. Tan Cuan Sei, Thian Sin, dan Ong Siu Lan, adalah penghuni terakhir kamp tersebut. Tiga sejawat yang telah renta ini, sejak 11 Agustus 2011 tinggal di sebuah panti di Kelurahan Kampung Baru, Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Pertengahan Desember lalu, Tribun, berkesempatan bertatap muka langsung dengan ketiga penghuni terakhir kampung kusta itu. Diperhatikan secara sekilas, tidak ada sedikitpun perbedaan tiga orang tersebut dengan orang yang sudah berusia lanjut.

Rambut sudah memutih, kulit keriput, dan ketika tersenyum atau berbicara, tampak gigi yang sudah tidak utuh. Namun jika diperhatikan lebih seksama, barulah terlihat perbedaan mencolok dibanding orang normal lainnya. Ketiga orang ini menyimpan cerita sangat mengejutkan.

Duduk paling dekat dengan pintu adalah Tan Cuan Sei. Meski telah rikuh, sisa-sisa kekekaran tubuhnya masih terlihat. Tingginya sekitar 165 cm. Bertelanjang dada, mengenakan celana pendek hijau, ia memulai kisahnya. Menurutnya, ia mulai memiliki tanda-tanda terkena kusta sejak ia berusia sekitar 10 tahun. Saat itu, singkatnya di bagian muka sebelah kiri, tepatnya di atas bibirnya, terdapat bercak merah.

Sontak, melihat tanda-tanda itu, orangtua dan anggota keluarg Cuan Sei lainnya, menyangka ia terkena kusta. Sejak saat itulah, hidupnya berubah total. Anggota keluarganya mulai menjaga jarak dengannya. Demikian pula dengan teman-temannya di bangku sekolah Tionghoa. Dirasakan Cuan Sei, mereka mulai mengucilkannya.

Seiring perjalanan waktu, bercak merah di wajahnya tidak juga hilang. Dugaan ia terkena kusta pun semakin santer. Hal itu kian menyiksanya. Pada akhirnyan Cuan Sei keluar dari sekolah.  Saat itu, ia mengaku sudah belajar hingga kelas 8 sekolah Tionghoa.

Meskipun sempat bersekolah, namun Cuan Sei tidak lancar berbahasa Indonesia. Dibantu seorang penerjemah, Bakhtiar, Tribun, menyimak kisah Cuan Sei. Karena tak kunjung sembuh, lanjut Cuan Sei, meskipun sudah berusaha diobati ala kadarnya, menjadikan Cuan Sei semakin terpukul. Ia mulai mengucilkan dirinya. Sehari-hari, ia hanya mengurung diri di kamar. Praktis, ia keluar dari kamar, hanya untuk makan, mandi dan sedikit kebutuhan mendesak lainnya.

Lama kelamaan, Cuan Sei pun semakin tertekan. Kian hari, ia semakin dikucilkan. Ia merasa sendiri. Tak tahan lagi, dengan sukarela, ia meminta kepada anggota keluarga untuk mengantarkannya ke Bokor. Tidak beberapa lama setelah menyampaikan keinginannya, ia diantarkan keluarganya untuk memulai pengasingannya.

“Saya masih ingat betul. Saya diantarkan ke Bokor tanggal 10 Desember 1960,” kata Bakhtiar menerjemahkan kenangan Cuan Sei.

Kali pertama menginjakkan kaki di Bokor, menurut ceritanya, di tempat itu sudah diisi oleh puluhan orang pengidap kusta. Pada tahun itu, menurutnya, mereka tinggal di gubug-gubug yang terbuat dari kayu. Cuan Sei menuturkan, ia mengetahui benar-benar terkena kusta, justru setelah di Bokor. Pasalnya, seiring berjalannya waktu, ruas jari kedua tangan dan kaki kanannya berkurang satu persatu. Ketika Tribun menemuinya, Cuan Sei bahkan sudah tidak bisa lagi mengangkat kedua belah tangannya tegak lurus kedepan.

Selain jemari tangan dan kakinya yang tidak utuh, kakek yang tidak menikah seumur hidupnya ini juga mempunyai masalah baru. Ia juga menderita katarak. Penyakit ini mengakibatkan pandangan matanya menjadi kabur.

Tidak ketika hidup saja penderita kusta di Kampung Bokor dikucilkan. Saat meninggalkan pun,  jenazah mereka dikubur ‘ala kadarnya’ tanpa nisan sebagai penanda.

TAN Cuan Sei (70) yang telah bercerita panjang lebar tentang bagaimana sejarah awal kedatangannya ke kamp pengasingan bagi penderita kusta di hulu Sungai Bokor, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, memang penghuni terakhir kamp paling tua. Namun ia bukanlah penghuni terlama.

Thian Sin (67), yang duduk disebelah Cuan Sei saat diwawancarai, ternyata lebih senior dibanding dirinya bergabung di Kampung Kusta Bokor. Menurut Thian Sin yang berperawakan sedang, ia datang beberapa minggu sebelum Cuan Sei tiba di Bokor.

Total 51 tahun Thian Sin menjadi penghuni Kampung Kusta Bokor, sebelum akhirnya tinggal di sebuah panti di Kelurahan Kampung Baru, Tebingtinggi, Meranti, sejak 11 Agustus 2011 lalu.

Thian Sin juga menyimpan cerita memilukan selama setengah abad tinggal dipengasingan.

Ketika saya bertemu dia, pertengahan Desember lalu, Thian Sin mengaku sudah menjadi penghuni Bokor sejak usia 16 tahun. Tidak berbeda jauh dengan Cuan Sei, ia juga tidak fasih berbahasa Indonesia. Gigi bagian depannya yang sudah tak lengkap, membuat apa yang diucapkan Thian Sin membutuhkan pendengaran ekstra.

Berbeda dengan Cuan Sei yang secara sukarela menetap di Bokor, Thian Sin mengaku mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat tempat tinggalnya di Selatpanjang.

Hampir serupa dengan kisah Cuan Sei, Thian Sin disangka menderita penyakit menular itu pada usia sekitar10 tahun. Saat itu, ada bercak-bercak merah di kulit mukanya. Tepatnya di sekitar hidungnya.

Disangkakan menderita kusta, ia pun mendapat perlakuan diskriminatif dari teman-teman sebayanya.Perlakuan tersebut akhirnya memaksa Thian Sin meninggalkan sekolahnya. Menurutnya, ia meninggalkan bangku sekolah ketika masih kelas 4 sekolah Tionghoa.

Thian Sin mengungkapkan, awalnya, anggota keluarganya tidak begitu mempersoalkan bercak merah di hidung Thian Sin. Ia pun masih diperlakukan sama dengan anggota keluarga lainnya.

Petaka terjadi ketika rumah orangtuanya habis terbakar. Kejadian itu memaksa seluruh keluarga Thian Sin pindah ke daerah lain, meski masih di wilayah Selatpanjang.

Di tempat tinggal barunya inilah, ia mulai mendapat masalah. Warga di sekitar tempat tinggalnya tidak bisa menerima kehadiran Thian Sin. Tidak kuat menahan tekanan, akhirnya ia pun dikirim ke Bokor.

“Menurut cerita yang saya dengar, ketika itu (generasi pertama orang-orang kusta yang dibuang ke Bokor) ada sekitar 30 orang. Semuanya berasal dari daerah yang kini masuk Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Bengkalis,” kata Thian Sin.

Selama 51 tahun hidup bersama penderita kusta, bercak merah di wajahnya
sama sekali tidak bertambah. Hanya saja, menurut Thian Sin, hidungnya jadi sedikit lebih pesek dibandingkan sebelumnya.

Jika diperhatikan lebih seksama, hidung Thian Sin memang tampak berbeda dengan hidung manusia normal kebanyakan. Demikian juga dengan jarak antara bibir dan hidungnya yang tampak tidak proporsional.

Thian Sin menambahkan, menjadi penghuni Bokor lebih dari lima dasawarsa, ia menjumpai puluhan orang. Namun jumlahnya hanya berkisar 20 orang hingga 30 orang saja. Pasalnya jumlah pendatang baru diimbangi dengan jumlah pengidap kusta yang meninggal.

Menurut penuturannya, apabila ada orang yang meninggal di Bokor, pengidap kusta saling bahu membahu menguburkan jenazah. Keterbatasan membuat mereka menguburkan jenazah rekannya dengan ala kadarnya.

Tidak ada pemuka agama yang memimpin doa. Bahkan, mereka pun tidak memberikan batu nisan ataupun tanda lain yang mengisyaratkan kalau di situ ada sebuah makam. Areal pemakaman juga hanya berada di sekitar areal rumah mereka.

Walaupun 51 tahun hidup di Bokor, Thian Sin tidak mengetahui angka pasti berapa jumlah pengidap kusta yang meninggal di tempat itu. “Makamnya juga ala kadarnya,” ucapnya.

Kejadian yang merenggut kehidupan Ong Siu Lan (66), 43 tahun lalu tetap abadi dalam ingatannya. Meski telah sepuh, memorinya masih kuat mengingat kekejaman sang suami dan mertua.

ONG Siu Lan adalah satu-satunya perempuan dari tiga penghuni terakhir Kampung Kusta Bokor yang tersisa. Termuda dari ketiga penghuni kamp pengasingan bagi penderita kusta di hulu Sungai Bokor, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Meranti, Siu Lan mengaku jika ia paling sebentar mendiami kamp.
“Hanya selama 43 tahun,” ujarnya singkat, ketika ditemui pertengahan Desember 2011 di sebuah panti yang kini menjadi tempat tinggalnya di Tebingtinggi, Meranti, setelah meninggalkan kamp pengasingan Agustus 2011.

Kisah pilu pun tak jauh dari kehidupan Siu Lan, hingga akhirnya berlabuh di kamp pengasingan.
Ia disangka mengidap kusta saat usia pernikahannya baru enam bulan. Ketika itu, mertuanya melihat ada bercak-bercak merah di lengannya.

Kecurigaan keluarga suaminya semakin menjadi karena bercak merah tersebut tidak segera hilang. Tidak lama berselang, ia akhirnya dipaksa untuk meninggalkan rumah menuju Bokor.Untuk membuat Siu Lan mau “diungsikan” ke Bokor, suami dan mertuanya mengancam akan melaporkan dirinya ke petugas pemerintah. Mendengar ancaman itu, tentu saja Siu Lan jadi semakin tertekan dan takut.

Sebenarnya, kisah Siu Lan, ia menolak ketika hendak diantarkan ke Bokor. Namun ia tak kuasa, setelah mertua lelaki, suami dan seorang tetangga memaksanya.

“Saya sempat melompat dari perahu, tapi diseret kembali untuk naik,” kata Siu Lan yang kehilangan ibu jari tangan kanannya karena kusta ini.

Ia juga menyimpan cerita memilukan. Dua tahun hidup di Bokor, stok pakaian yang ia gunakan sehari-hari mulai menipis. Karena tidak mungkin meminta kepada penghuni Kampung Kusta Bokor lainnya, akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah mertuanya.Tidak tanggung-tanggung, ia pulang ke rumah mertuanya yang juga berada di Pulau Rangsang dengan berjalan kaki. Bersama seorang rekannya yang juga berasal dari daerah tempat tinggal mertuanya, Siu Lan berjalan selama sehari semalam.

“Dari Bokor ke rumah mertua saya, harus berjalan kaki masuk keluar hutan,” cerita Siu Lan.

Sesampainya di rumah mertuanya, bukannya mendapatkan pakaian, ia malah kembali diperlakukan tidak menyenangkan. Siu Lan kembali di usir.

“Akhirnya saya kembali ke Bokor. Mau kemana lagi selain ke sana,” katanya.

Ia menerangkan, jumlah wanita pengidap kusta di Bokor tidak begitu banyak. Seingatnya selama 43 tahun menghuni Bokor, hanya ada empat atau lima orang wanita saja yang menghuni Bokor.

“Namun tidak ada anak-anak yang diasingkan ke Bokor,” imbuhnya.

Rumpun bambu
Potret miris kelompok yang terlupakan ini, makin memilukan hati ketika mereka bercerita bagaimana cara bertahan hidup. Tan Cuan Sei, Thian Sin, Ong Siu Lan dan sejawat mereka yang telah meninggal, mengandalkan kerajinan tangan dari bambu untuk memenuhi kehidupan hidup sehari-hari.
Menurut Cuan, di daerah sekitar tempat tinggalnya, banyak ditemukan rumpun bambu.

Rumpun bambu tersebut, tidak tumbuh dengan sendirinya. Melainkan ditanam oleh generasi penghuni Bokor sebelum mereka. Sadar akan kebutuhan mereka akan rumpun bambu, selain menebang, mereka juga menanamnya.
Dalam satu minggu, penghuni kamp tersebut biasanya memproduksi sepuluh buah anyaman bambu. Sayang, ketika berkunjung ke rumah tinggal mereka, seluruh kerajinan tersebut sudah habis terjual.

Saat masih di Bokor, ketika kerajinan anyaman bambu sudah siap dipasarkan, Tan Cuan Sei dan Thian Sin lah yang diserahi tugas menjualnya. Hasil karya mereka, di jual di tanah kelahiran mereka, Selatpanjang.
Untuk menjual hasil karya mereka ke Selatpanjang, butuh perjuangan ekstra. Keduanya harus menggunakan sampan. Dengan kusta yang dideritanya, Tan Cuan Sei dan Thian Sin mendayung sampan selama 3 jam hingga 4 jam.

Di Selatpanjang sudah ada seorang yang siap membeli karya mereka. Namun harganya tidak bisa dipatok. Pasalnya, menurut keterangan keduanya, sang pembeli tetap membeli karya mereka dengan alasan kemanusiaan.

“Tidak jarang kami dibayar berkalilipat dari harga sebenarnya,” ucap Cuan Sei.

Ada cerita menarik mengenai pembeli benda kerajinan anyaman bambu mereka. Menurut penuturan Cuan Sei, ia sudah menjual hasil anyaman sejak puluhan tahun lalu. Bahkan saat ini, si pembeli tetap itu merupakan generasi ketiga.

“Dulu yang membeli kakeknya dan sekarang cucunya yang selalu membeli barang dagangan kami. Namanya Bi Han Ning,” kata Cuan Sei.

Cuan Sei menambahkan, ketika berada di Selatpanjang untuk menjual kerajinan tangan, awalnya ia sering mampir ke rumah orangtuanya. Sekadar ingin mengobati rindu, beristirahat ataupun melepas lapar dan dahaga. Namun menurutnya, keluarganya sudah benar-benar menutup pintu untuk Cuan Sei. Saat bertandang, katanya, ia memang disuguhi minum atau makanan. Tapi, minuman dan makanan itu diletakkan di depan pintu.

Suplai obat-obatan
Selain mengandalkan hasil penjualan hasil kerajinan, mereka juga mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Ada sebuah yayasan yang membantu menyuplai pemenuhan kebutuhan pokok mereka.
Sementara untuk keperluan obat-obatan, mereka mendapatkan bantuan dari organisasi Katholik. Thian Sin mengisahkan, pada tahun 1980-an, seorang pastur dengan beberapa perwakilan gereja secara rutin berkunjung ke Bokor.

Awalnya, lanjut Thian Sin, pastur berkewarganegaraan Italia bersama rekan-rekannya datang setiap bulan. Namun karena akses transportasi yang sulit, akhirnya rombongan ini datang sekali setiap dua bulan dalam rentang waktu enam hingga tujuh tahun. Namun setelah itu, sang pastur asal Italia tersebut tidak pernah lagi mengunjungi mereka.

“Namun saya lupa siapa nama pastur tersebut. Peristiwanya sudah lama sekali. Sekitar 20 tahun lalu,” ucapnya.

Berdasarkan penelusuran Tribun, pastur tersebut bernama Albino Orsi. Saat ini, sang penolong yang sudah berumur hampir 90 tahun tengah terserang Parkinson. Albino Orsi, kini menjalani perawatan di rumah induk Xaverian Parma, Italia.

Bantuan juga datang dari pemerintah. Beberapa tahun lalu, kata Cuan Sei, pemerintah setempat (saat itu Pulau Rangsang masih masuk kawasan Kabupaten Bengkalis) membangun rumah (semacam asrama) permanen untuk mereka. Namun sayangnya, mereka tidak lama menghuni asrama ini.

“Tentu kami lebih memilih tinggal di sini (Selatpanjang),” lanjut Cuan Sei.

Setelah berada di Selatpanjang, ketiganya mengaku sangat senang. Mereka merasa kembali menjadi orang normal, meskipun tinggal di areal yang cukup jauh dari keramaian. Ketiganya mengaku tidak merasa khawatir lagi apabila ada di antara mereka yang sakit. Mereka bisa segera meminta bantuan kepada penduduk sekitarnya.

Kamp pengasingan bagi penderita kusta di hulu Sungai Bokor, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Meranti, sudah ditinggal Siu Lan, Cuan Sei, dam Thian Sian, sejak Agustus 2011. Kini mereka menghabiskan sisa umur di sebuah panti di Kelurahan Kampung Baru, Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Ya, mereka lega bisa kembali ke kampung halaman, setelah dikucilkan puluhan tahun. Meski gurat- gurat penderitaan belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya ketiga sejawat ini kembali merasa dimanusiakan.

Adalah Ketua Bidang Kepemudaan Paguyuban Sosial marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Cabang Selatpanjang, Han Hai yang ngotot membawa mereka “pulang”. Ketika ditemui di kantor Ikatan Pemuda PSMTI Selatpanjang, pertengahan Desember 2011 lalu, pria 50 tahun yang lebih dikenal dengan nama Atai ini mengatakan sudah lama mendengar tentang keberadaan para penderita kusta di Bokor. Namun baru pada Juni 2011 ia berkesempatan mengunjungi para penderita kusta tersebut. Saat itu bertandang ke Bokor, ia diajak Persatuan Wanita Tionghoa Indonesia (Perwanti) yang ketika itu tengah melaksanakan bakti sosial.
Sesampainya di Bokor, ia merasa sangat terkejut. Asrama tersebut hanya diisi oleh tiga orang. Selain itu, usia mereka juga sudah renta. Ditambah lagi dengan keberadaan seorang wanita dan Tan Cuan Sei yang juga mengalami gangguan penglihatan karena katarak.

Hal yang paling membuatnya haru adalah ketika mendengar keinginan Tan Cuan Sei yang hendak mengakhiri hidupnya. Bukan tanpa sebab, Cuan Sei ingin bunuh diri karena frustrasi dengan beratnya beban hidup yag ditanggung selama di pengasingan.

Keterangan Atai, Thian Sin mempunyai seorang anak angkat. Yakni anak dari adiknya yang tinggal di Batam, Kepulauan Riau. Sementara Ong Siu Lan juga masih mempunyai keluarga di Tanjung Balai.
Rencananya, kedua orang tersebut hendak pergi ke tempat sanak keluarga yang masih tersisa. Thian Sin ke Batam dan Ong Siu Lan ke Tanjung Balai. Sementara Tan Cuan Sei tidak tahu harus kemana.

Oleh karena itulah, kata Atai, Cuan Sei berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Pada pertemuan itu, Tan Cuan Sei juga berpesan kepadanya, agar Kabid Kepemudaan PSMTI Selatpanjang ini mengurus jenazah dan pemakamannya.

“Sekarang siapa yang tidak terharu dan tersayat hatinya mendengar permintaan semacam itu. Meskipun kusta, dia juga manusia. Mempunyai hak hidup yang sama,” ujar Atai berapi-api.

Sepulang dari Bokor, Atai lantas membicarakan masalah tersebut dengan PSMTI dan yayasan lain yang mengurus keberadaan mereka di Bokor. Ia meminta izin agar diperbolehkan membawa ketiganya pulang ke Selatpanjang.

Terjadi perbedaan pendapat. Akar perbedaan itu adalah sifat kusta yang menular. Tentu saja ada yang khawatir apabila ada orang dengan kusta di lingkungan sekitarnya. Setelah melalui perdebatan, sekitar sebulan kemudian, akhirnya Atai memperoleh izin untuk membawa ketiganya pulang.

“Syaratnya harus ada surat keterangan dokter yang menerangkan kalau penyakit mereka tidak menular,” imbuhnya.

Sebagai langkah awal sebelum membawa mereka pulang, Atai memeriksakan kondisi ketiganya di UPTD Rangsang Barat. Bersama lima orang temannya, ia membawa ketiganya menggunakan sepeda motor ke Puskesmas tersebut.

Bukan perkara mudah membawa mereka ke Puskesmas. Pasalnya, mereka harus menempuh perjalanan melintasi jalan yang tidak mulus. Ditambah lagi, mereka juga harus menggunakan perahu untuk sampai di camp. Setelah diperiksa, tim medis menyatakan, kusta yang diderita ketiganya sudah tidak menular kepada orang lain. Di sini, Atai berpisah dengan ketiga pengidap kusta tersebut. Bersama rekannya, ia pulang ke Selatpanjang. Sementara Tan Cuan Sei, Thian Sin dan Ong Siu Lan, pulang ke Bokor untuk berkemas-kemas.
Namun mereka belum bisa pindah saat itu juga. Pasalnya, saat itu adalah bulan tujuh. Dalam kepercayaan mereka, bulan tujuh merupakan bulan hantu.

“Jadi baru pada bulan Agustus lah mereka pulang ke Selatpanjang,” ujarnya.

Sesampainya di Selatpanjang, mereka bertiga lalu ditempatkan di bangunan yang dulunya merupakan panti jompo. Sebelum kedatangan mereka, bangunan tersebut kosong. Setelah berada di Selatpanjang, kebutuhan hidup mereka kini ditanggung oleh berbagai yayasan termasuk Ikatan Pemuda PSMTI.

“Dalam waktu dekat, saya ingin memeriksakan mata Cuan Sei yang terkena katara,” tuturnya.

Meskipun kebutuhan hidup mereka ditanggung, namun bukan berarti ketiga pengidap kusta ini menjadi malas. Tan Cuan Sei, Thian Sin dan Ong Siu Lan tetap membuat anyaman bambu. Di sisi lain, persahabatan di antara ketiganya sepertinya sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Dikisahkan Atai, sehari setelah tiba di Selatpanjang, Thian Sin pergi ke rumah anak angkatnya di Batam.

Namun, Thian Sin tidak betah tinggal bersama anak angkatnya. Sebulan kemudian ia pun memilih pulang ke Selatpanjang untuk berkumpul bersama kedua temannya.

“Sebagian besar hidup saya, saya habiskan bersama mereka. Mereka lebih dari sekadar sahabat,” ucap Thian Sin menutup perjumpannya dengan Tribun.

Kusta masih ditemukan
Staf pengelola program kusta Kabupaten Kepulauan Meranti, Fitri Rahmawati ketika dihubungi Tribun, akhir Desember 2011 mengatakan, Bokor sebagai tempat pembuangan pengidap kusta sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang.

Hal itu dikarenakan ketika itu banyak masyarakat yang menganggap kusta merupakan penyakit kutukan. Sehingga, si penderita akan mengalami dua hal mengerikan. Pertama, dia mengidap kusta  dan kedua, mendapat stigma negatif dari masyarakat.

Fitri mengungkapkan, pada 2008 lalu ia pernah berkunjung ke Bokor. Ketika itu, ia merupakan tenaga kesehayan di UPTD Anastata, Rangsang Barat. Ketika berkunjung ke sana, menurutnya ada lima orang penderita. Kelima orang tersebutsaat itu sudah sembuh secara medis. Masa pengobatan penderita kusta tersebut telah selesai.

“Pengobatan terhadap kusta antara 6 bulan hingga 12 bulan,” ucapnya.

Namun ditambahkannya, para pengidap kusta tersebut tidak mau pulang ke kampung halamannya. Alasan mereka, kata Fitri, malu dan khawatir kalau mereka tidak diterima oleh masyarakat sekitar. Ditambah lagi, ada seorang mantan pengidap kusta yang sudah tidak mempunyai sanak famili.

“Karena itu, mereka memilih bertahan di Bokor,” imbuhnya.

Saat ini menurut Fitri, secara nasional kasus kusta di Kabupaten Kepulauan Meranti sudah dieliminasi. Artinya jumlah pengidap kusta sudah berada di bawah 1 persen dari total jumlah penduduk. Meskipun demikian, yang paling dikhawatirkannya adalah pihaknya masih terus menemukan kasus baru pengidap kusta. Pada tahun 2011 hingga tri wulan ketiga, ia menemukan sebanyak 12 orang pengidap kusta baru di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti.

Fitri menambahkan, sebagian besar kasus kusta baru ditemukan di Desa Bungur, Kecamatan Rangsang Barat. Masih satu kecamatan dengan Bokor. Di wilayah ini, katanya terdapat dua orang anak-anak dan dua orang yang sudah cacat karena kusta.

“Di Bungur, pengidap kusta yang masih menjali proses perawatan (minum obat secara rutin) dan temuan kasus baru, sekitar 10 orang,” ujar Fitri.

Diakui Fitri, tenaga medis untuk menangani masalah kusta di Meranti masih sangat kurang. Bahkan, Fitri mengungkapkan, hanya ada satu orang petugas puskesmas di seluruh kawasan Meranti yang mempunyai kompetensi dalam penanganan kusta.

“Tahun depan kami akan melakukan pelatihan kepada petugas kesehatan mengenai pengelolaan program kusta,” imbuh Fitri.

Kendala lain yang dihadapi oleh pihak Diskes Meranti adalah kondisi geografis wilayahnya. Di Bungur misalnya. Wilayah ini cukup sulit dijangkau. Meskipun demikian, pihaknya tetap melakukan berbagai kegiatan dalam pengelolaan program kusta. Dalam satu tahun, pihak Diskes Meranti melakukan survei ke lapangan sebanyak dua kali.

Selain itu, pihaknya juga melakukan berbagai penyuluhan terkait ancaman kusta. Hasilnya cukup menggembirakan. Menurutnya, sudah banyak warga masyarakat yang benar-benar mengerti apa itu kusta dan cara penularannya.

Semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai kusta, diharapkan, penyebaran penyakit ini akan semakin bisa ditekan atau bahkan hingga hilang sama sekali. Fitri pun menegaskan, kusta bukanlah penyakit keturunan, kutukan, karma, ataupun guna-guna. Kusta bisa sembuh dengan pengobatan secara teratur.

Penularan kusta juga tidak mudah. Seseorang tertular kusta, biasanya setelah yang bersangkutan melakukan kontak berat secara terus menerus dengan penderita. Itupun, risikonya hanya 5 persen hingga 10 persen.

Cina dan Diskriminasi Terhadap Mereka

July 24, 2010

Tercatat dalam sejarah, telah berkali-kali etnis Tionghoa ini telah menjadi korban atau dipersalahkan oleh suku-suku mayoritas lainnya. Pembantaian Cina di Jakarta pada 1740 merupakan peristiwa pertama dengan jumlah korban jiwa terbanyak. Tidak kurang dari sepuluh ribu nyawa melayang akibat peristiwa tersebut. Berturut-turut setelahnya peristiwa Geger Pecinan yang menjadi salah satu penyebab pindahnya keraton dari Kartasura ke Sala. Awal abad XX ketika gelora nasionalisme tengah berkembang pesat dengan ditandai munculnya organisasi yang bersifat nasionalisme, kembali etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan akibat persaingan dagang dengan penduduk pribumi yang tergabung dalam SI.Peran pemerintah kolonial dengan politik adu dombanya juga sangat besar dalam memperuncing masalah ini. Kebijakan politik mereka yang menempatkan Tionghoa sebagai warga kelas dua, satu kelas diatas pribumi, tentu saja menimbulkan kebencian dari kalangan penduduk lokal.

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, kebijakan terhadap etnis ini juga tidak kunjung membaik. Pada masa pemerintahan Sukarno, terbit PP No. 10/1956 yang mengharuskan semua pedagang eceran yang berkewarganegaraan asing harus keluar dari desa-desa dan hanya boleh melakukan aktivitas perdagangannya ditingkat kabupaten keatas. Munculnya peraturan menyebabkan puluhan ribu warga Tionghoa yang berada di desa-desa dan kecamatan harus angkat kaki.

Tidak berbeda jauh dengan pendahulunya, rezim Orde baru juga mengeluarkan peraturan yang sifatnya menekan sisi phsikologis warga Tionghoa. Keluarnya Inpres No. 14/1969 yang melarang semua kebudayaan Cina, baik itu tulisan, kesenian, bahkan etnis inipun tidak diperbolehkan lagi menggunakan nama asli Tionghoa yang sudah mejadi identitas bagi mereka.

Solo, kembali kota ini menjadi tempat meletusnya kekerasan terhadap etnis minoritas ini untuk kesekian kalinya. Hanya gara-gara perkelahian antara dua pelajar dimana salah satu pelakunya berasal dari etnis Tionghoa, kota Solo harus menyala bersamaan dengan terbakarnya puluhan toko milik Cina. Kerusuhan pada 19 November 1980 ini dengan sangat cepatnya merambat ke Semarang dan berbagai kota lainnya di Jawa Tengah.

Konflik yang terjadi di Solo pada 1980 ini menunjukkan betapa rawan bangsa kita kepada masalah-masalah yang berbau SARA khususnya jika masalah tersebut menyangkut etnis Tionghoa.

Mengapa selalu Cina?
Tionghoa, adalah salah satu suku bangsa yang sudah cukup lama berada negeri ini. Pengaruh dan sumbangan mereka juga tidaklah sedikit dalam perkembangan bangsa. Bahkan Wali Sanga yang notabene adalah tokoh terbesar dalam dunia Islam di Indonesia juga ada yang berasal dari keturunan ras Mongoloid ini. Namun pada kenyataanya sekarang ini, warga Tionghoa tetaplah dianggap sebagai orang asing oleh orang-orang yang merasa sebagai warga Negara Indonesia “asli”. Kemapanan dibidang ekonomi semakin memperburuk posisi mereka dalam lingkungan sosial sehingga suku ini kerap menjadi sasaran pelampiasan. Ditambah lagi dengan gaya hidup mereka yang dipandang ekslusif kerap menjadi alasan untuk semakin menyudutkan mereka.

Pola perkampungan Cina dimana hanya berbaur dengan masyarakat yang berasal dari satu suku, sedikit banyak juga turut berperan dalam membentuk kesan eksklusif tersebut. Arsitektur rumah dengan dipagari yang tembok tinggi semakin membuat mereka tertutup dari pergaulan masyarakat umum. Selain pola perkampungan dan arsitek perumahan yang cenderung menutup diri, etnis Tionghoa ini biasanya juga menempati daerah perkotaan dan menguasai sektor perdagangan serta ekonomi. Selain itu, perbedaan agama juga berpengaruh sangat besar dalam berbagai gerakan anti Cina di Indonesia. Pandangan ini mengemuka karena di Indonesia bukan hanya kaum Tionghoa saja yang statusnya sebagai pendatang, namun karena perbedaan agama itulah yang mengakibatkan pendatang lain selain Cina tidak terkena imbas aksi amuk massa.

Kecenderungan mereka untuk mengeksklusifkan diri tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Demikian juga dengan kurangnya intensitas mereka bergaul ditengah masyarakat. Tingginya jam kerja mereka juga merupakan alasan yang logis mengapa mereka jarang membaur dengan masyarakat pada umumnya. Bukankah juga terdapat kampung Jawa juga tersebar dibanyak tempat diluar Jawa, di Aceh misalnya? Demikian juga dengan perkampungan Madura dan suku-suku lainnya juga tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Keberadaan mereka disuatu daerah lain toh tidak pernah dipergunjingkan walaupun tidak menutup kemungkinan pernah terjadi gesekan-gesekan sosial diantara mereka.

Dijaman dimana sistem informasi sudah sangat canggih seperti sekarang ini, peran media diharapkan bisa benar-benar bersikap netral tanpa memihak atau berusaha mengambil keuntungan dalam situasi tersebut. Biar bagaimanapun, media media mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk pola pikir masyarakat terhadap suatu opini yang tengah berkembang. Tulisan media massa yang cenderung mengarah untuk menyulut permusuhan, akan jauh lebih berpengaruh daripada ribuan orang yang turun kejalan untuk berorasi.

Biar bagaimanapun Tionghoa mempunyai sumbangsih yang sangat besar terhadap bangsa Indonesia. Dalam cabang bulutangkis misalnya, Rudi Hartono berhasil mencatatkan namanya menjadi manusia yang paling banyak meraih gelar di ajang All England. Demikian juga dengan Susi Susanti dan Alan Budikusuma sebagai peraih medali emas dalam olimpiade Barcelona, saat cabang olahraga ini untuk pertama kalinya diikutsertakan dalam parade olahraga terbesar itu. Adakah diantara kita yang mengetahui nama Tionghoa mereka mereka? Sebaliknya jika ada seorang Tionghoa melakukan kesalahan atau melanggar hukum, kita akan mendapatkan dua nama, Gunawan Santosa alias A Cin sebagai contohnya.
Pemerintah adalah institusi paling bertanggung jawab untuk meminimalisir terulangnya kejadian serupa. Pemerataan ekonomi adalah hal terpenting setelah berbagai peraturan dan Undang-undang yang disahkan yang menyangkut masalah SARA. Kesalahan dengan memberlakukan Undang-undang terdahulu seperti PP No.10 tahun 1956 dan Inpres No.14 1969 tidak boleh terulang lagi.

Tahun 1998 merupakan lembaran hitam bagi sejarah bangsa Indonesia dan golongan etnis Cina. Krisis ekonomi yang berkepanjangan menambah jumlah pengangguran yang diikuti oleh semakin banyaknya warga Negara Indonesia berada dibawah garis kemiskinan seiring dengan harga bahan-bahan pokok terus bergerak naik. Hal ini turut berpengaruh juga pada tindak kriminalitas, khususnya didaerah perkotaan. Yang paling dasyat adalah dengan adanya berbagai kerusuhan bernuansa SARA.
Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998 di Indonesia secara keseluruhan, sempat menggemparkan dunia dan mengakibatkan penderitaan yang luar biasa terhadap tidak saja korban yaitu Etnis Tionghoa, tapi juga kepada para pelaku kerusuhan. Peristiwa tahun 1998 itu, secara tidak langsung telah menempatkan etnis Cina pada posisi inferior dan menjadi obyek sasaran suatu peristiwa. Di tengah berlangsungnya peristiwa tersebut muncul pertanyaan apakah etnis Cina itu bagian dari bangsa Indonesia atau mereka itu orang luar (outsider) yang bukan bagian dari bangsa Indonesia? Pertanyaan ini telah merefleksikan bahwa sesungguhnya selama ini etnis Cina sebagai salah satu bagian dari bangsa Indonesia ini secara terus menerus menjadi sasaran-setidaknya diarahkan menjadi sasaran- dalam peristiwa-peristiwa, terlebih lagi yang berbau rasialisme.

Hal terbaik yang dapat dilakukan sekarang ini untuk mencegah adanya Historian Reconstruction adalah membangun kesadaran yang berhubungan dengan masalah SARA karena setiap manusia adalah obyek dari hal tersebut. Setiap orang harus mau berusaha untuk memahami dan mengerti tentang pola pikir dan kehidupan sesamanya bukan mencari perbedaan. Sebagai mayoritas harus bisa melindungi dan mengayomi, sementara yang minoritas juga harus bisa mengikuti arus mayoritas tanpa harus meninggalkan jati diri mereka.

Dari Sam Po Kong Sampai Demak

July 24, 2010

1405-1425
Armada Tiongkok dinasti Ming dibawah pimpinan laksamana Sam Po Bo menguasai perairan pantai Asia Tenggara.

1407
Palembang yang secara turun temurun sudah menjadi sarang perampok orang-orang Tionghoa Hokkian berhasil direbut dan Cen Ce Yi sang kepala perampok berhasil ditawan dan dibawa ke Peking yang kemudian dihukum pancung. Di Palembang sendiri dibentuk masyarakat muslim Tionghoa bermazhab Hanafi. Kelompok Tionghoa muslim di Palembang ini adalah kelompok muslim pertama yang dibentuk di kepulauan nusantara. Setelah pembentukan di palembang, pada tahun ini juga dibentuk kelompok yang sama di di Kalimantan.

1413
Laksama Sam Po Bo menempatkan Bong Tak Keng untuk mengepalai kelompok-kelompok muslim Tionghoa yang mulai berkembang pesat di wilayah pesisir Asia Tenggara. Bong Tak Keng yang berkedudukan di Campa kemudian mengangkat Gan Eng Cu di Manila. Pada tahun ini juga, Sam Po Bo singgah disemarang dalam rangka perbaikan kapal.

1423
Kelompok-kelompok Tionghoa Muslim berkembang semakin pesat. Melihat keadaan itu, maka Bong Tak Keng memindahkan Gan Eng Cu dari Manila ke Tuban untuk mengepalai kelompok-kelompok Tionghoa muslim diwilayah Jawa, Palembang dan Kalimantan. Waktu itu Tuban masuk dalam wilayah kerajaan Majapahit yang pamornya sudah merosot tajam sejak ditinggalkan oleh Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Karena hampir seluruh kawasan perairan Asia Tenggara pada waktu itu sudah dikuasai oleh armada pasukan Ming, maka Gan Eng Cu beberapa tahun kemudian diberi gelar A Lu Ya (Arya) oleh raja majapahit Rani Suhita.

1424-1449
Kekaisaran Ming mengangkat Ma Hong Fu sebagai duta besar di kerajaan Majapahit. Ma Hong Fu sendiri merupakan menantu dari Bong Tak Keng.

1430
Sam Po Bo merebut daerah Tu Ma Pan di Jawa Timur dan menyerahakannya pada Rani Suhita. Sebagai tanda balas budi, Rani Suhita mengangkat Gan Eng Wan, saudara Gan Eng Cu sebagai bupati. Setelah menjadi bupati ia berganti nama menjadi Aria Suganda. Gan Eng Wan sendiri juga merupakan bupati muslim pertama kerajaan Majapahit.

1431
Laksamana Sam Po Bo wafat.

1436
Gan Eng Cu pergi ke Tiongkok untuk menghadap kaisar Yang Yu. Kaisar kemudian memutuskan kelompok masyarakat Tionghoa Palembang menjadi bawahan Tuban, sementara kelompok yang berada di Kalimantan berdiri langsung dibawah gubernur Nanking. Karena Gan Eng Cu adalah seorang Kapten Cina di Tuban, maka kaisar Ynag Yu menghadiahkan pakaian Mandarin Besar lengkap dengan tanda pangkat berupa ikat pinggang emas.

1443
Gan Eng Cu menempatkan Swan Liong untuk menjadi pemimpin Tionghoa muslim di Palembang. Dalam Babad Tanah Jawi, Swan Liong dikenal dengan nama Arya Damar/Jaka Dilah yang merupakan putera dari Brawijaya dari istri ketiganya yang berasal dari peranakan Tionghoa dari Cangki/Mojokerto. Namun disini ada kerancuan, karena pada tahun itu, (dalam Babad Tanah Jawi yang menempatkan Arya Damar ke Palembang adalah Hyang Wisesa atau Wikramawardhana memerintah Majapahit hanya sampai pada tahun 1427) Rani Suhita sebagai raja Majapahit juga menempatkan Arya Damar sebagai penguasa di Palembang. Jadi ada kemungkinan bahwa Gan Eng Cu memberikan kekuasaan pada Swan Liong di Palembang lebih dikarenakan oleh diangkatnya Swan Liong menjadi adipati disana.

1445
Bong Swi Hoo diperbantukan kepada Swan Liong di Kukang (Palembang). Bong Swi Hoo merupakan cucu dari Bong Tak Keng di Campa. Tahun ini juga Bong Swi Hoo diperintahkan oleh Swan Liong untuk menghadap Gan Eng Cu dan meminta agar bisa menjadi salah satu kapten Cina.

1446
Bong Swi Hoo singgah di Semarang dalam perjalanannya menuju Tuban.

1447
Bong Swi Ho sampai di Tuban dan menikahi puteri dari Gan Eng Cu.

1447-1451
Bong Swi Hoo diangkat menjadi kapten Cina dan ditempatkan di daerah Jiaotung/Bangil, yang terletak dimuara sungai Brantas kiri (Kali Porong).

1448
Bupati Gan Eng Wan mati terbunuh. Daerah Tu Ma Pan pun lepas dari Majapahit. Orang-orang Tionghoa yang beragama Islam/Hanafi banyak pula yang mati terbunuh oleh penduduk lokal yang masih menganut Hindu/Jawa.

1449
Duta besar Tiongkok untuk Majapahit, Ma Hong Fu, singgah di Semarang dalam perjalanan pulangnya ke Tiongkok. Sebelumnya, istri Ma Hong Fu wafat dan dimakamkan secara Islam di Majapahit.

1450-1475
Terjadi kemerosotan pada dinasti Ming hingga menyebabkan semakin jarangnya kunjungan armada-armadanya ke masyarakatnya yang berada di Nan Yang. Karena hal itu pulalah terjadi kemerosotan jumlah pada masyarakat Tionghoa Muslim dan tidak sedikit bangunan-bangunan masjid beralih fungsi menjadi kelenteng. Kejadian semacam itu dapat kita lihat di Semarang, Ancol, Lasem, dll.
Sepeninggal Sam Po Bo, Bong Tak Keng, dan Gan Eng Cu maka Bong Swi Hoo menjadi kepala masyarakat Tionghoa Islam yang jumlahnya makin lama makin merosot, baik itu di pulau Jawa, Kalimantan maupun Palembang. Bong Swi Hoo berinisiatif menganti bahasa Tionghoa dengan bahasa Jawa serta mengorientasikan penyebaran Islam yang semula diprioritaskan kepada Tionghoa yang memang sebelumnya telah Islam beralih kepada orang Jawa atau penduduk lokal. Inilah sebuah keputusan yang pada akhirnya menjungkir balikan keadaan dikemudian hari.

1451
Campa, yang semula beragama Islam/Hanafi di gulingkan oleh masyarakat Budha yang berasala dari Sing Fun An (Pnom Penh). Tahun ini juga Bong Swi Hoo meninggalkan Tionghoa Islam di Jiaotung guna memimpin masyarakat Jawa Islam di Ngampel, dekat muara Brantas Kanan (Kali Mas)

1551-1557
Bong Swi Hoo selain memimipin masyarakat Islam di Ngampel, juga membentuk masyarakat Jawa Islam di pantai utara dan Madura dan masyrakat Tionghoa Muslim yang berada di Tuban, Kalimantan dan Palembang tetap tunduk padanya. Sementara di Jiaotung sendiri masjid Tionghoa berubah menjadi kelenteng Sam Po Kong sepeninggal Bong Swi Hoo.

1455
Kota Jiaotung lenyap setelah dilanda banjir.

1456-1474
Swan Liong membesarkan dua peranakan Tionghoa yaitu Jin Bun (orang kuat) dan puteranya Kin San (Gunung Emas). Meraka berdua adalah saudara satu ibu berlainan ayah.

1474
Jin Bun dan Kin San meninggalkan Palembang untuk menghadap Bong Swii Hoo dan singgah di Semarang terlebih dahulu.

1475
Atas permintaanya sendiri, Jin Bun ditempatkan oleh Bong Swi Hoo disebuah bukit tak bertuan di sebelah timur Semarang. Jin Bun mendapat tugas untuk membentuk masyarakat Jawa Islam di sekitar Semarang, sebagai pengganti masyarakat Tionghoa Muslim yang sudah banyak keluar dari Islam.
Sementara Kin San diperintahkan oleh Bong Swi Hoo untuk menghadap ke Majapahit agar bisa menjadi penghubung antara pihak keraton dan Tionghoa karena sepeninggal Ma Hong Fu otomatis tidak ada lagi orang yang bertugas menjadi semacam duta dari masyarakat Tionghoa. Selain karena pengaruh Bong Swi Hoo, Kin San yang pernah belajar membuat petasan menggunakan ketrampilannya itu agar dapat masuk dan diterima oleh Kertabhumi.

1475-1518
Selama lebih dari empatpuluh tahun, Jin Bun dengan tangan besi memerintah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

1447
Jin Bun merebut kota Semarang dengan tentara Islam Demak yang hanya berjumlah 1000 orang. Jin Bun berhasil menaklukan Semarang dimana kelenteng Samp Po Kong diduduki terlebih dahulu agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak menimpa bangunan bersejarah tersebut. Selain menduduki kelenteng, Jin Bun juga membumihanguskan sebuah perkampungan yang dulunya menjadi kampung Islam di daerah Candi, sebelah selatan Semarang.
Setelah berhasil menaklukan Semarang, Jin Bun kemudian dipanggil untuk menghadap Kertabhumi. Karena merasa Jin Bun adalah puteranya sendiri, maka raja Majapahit ini kemudian mengangkatnya menjadi bupati di Bing Tolo dengan gelar Pangeran Jin Bun.

1478
Bong Swi Hoo wafat. Jin Bun tidak pergi melayat gurunya melainkan dengan tentara Islam ia menyerang Majapahit. Sebenarnya sudah sejak lama Jin Bun ingin menyerang Majapahit, namun karena larangan keras dari Bong Swi Hoo dimana Jin Bun tidak diperbolehkan menggunakan senjata terhadap kerajaan-kerajan yang masih beragama Hindu, khususnya Majapahit maka ia tidak berani membantah. Setelah berhasil menundukan Majapahit, di Semarang Jin Bun kemudian membangun masjid baru.

1478-1529
Kin San menjadi bupati Semarang. Ia kemudian menunjuk putera Gan Eng Cu, Gan Si Cang yang “murtad” menjadi kapten Cina untuk masyarakat Tionghoa bukan Muslim di Semarang. Bersama Gan Si Cang, Kin San membangun kembali penggergajian kayu jati dan galangan kapal yang pernah di bangun oleh Sam Po Bo.

1479
Seorang putera dan seorang murid dari Bong Swi Hoo mengunjungi galangan kapal di kelenteng Sam Po Kong namun keduanya tidak pandai berbahasa Tionghoa.

1481
Atas permintaan pekerja di penggergajian kayu, Gan Si Cang menghadap Kin San untuk meminta ijin agar masyarakat Tionghoa bukan Islam yang bekerja di penggergajian diperbolehkan untuk ikut serta kerja bakti dalam pembangunan masjid agung Demak. Permintaan ini kemudian dikabul oleh Jin Bun.

1486
Pa Bu Ta La (Girindrawardhana/Dyah Ranawijaya/Prabu Natha) seorang menantu dari Kung Ta Bu Mi (Kertabhumi) diangkat menjadi bupati Majapahit menggantikan Njoo Lay Wa (bupati Tionghoa muslim yang ditunjuk oleh Jin Bun untuk memimpin Majapahit setelah berhasil ditaklukan pada 1478) yang mati terbunuh oleh rakyat Majapahit.

1509
Yat Sun, salah satu putera dari Jin Bun menggunjungi galangan kapal di Semarang bersama Kin San. Mereka berdua kemudian memerintahkan untuk melipatgandakan pembuatan kapal, karena Yat Sun hendak menyerang Mao Lok Sa (Malaka) dengan armada Demak.

1512
Yat Sun berangkat menyerang Mao Lok Sa, namun serangan ini gagal karena Yat Sun terlalu tergesa-gesa dan juga kalah dalam persenjataan.

1513
Seorang yang bangsa Ta Cih bernama Ja Tik Su singgah di galangan kapal Semarang untuk memperbaiki kapalnya. Dalam perkembangannya Ja Tik Su kemudian diantar oleh Kin San dan Yat Sun ke Demak hingga pada akhirnya Ja Tik Su menetap dan tidak pernah kembali lagi ke Ta Cih. Kapal model Ta Cih milik Ja Tik Su kemudian ditiru oleh Kin San untuk menambah kecepatan kapal armada Demak yang semula meniru model Jung dari Tiongkok dimana ukuran kapalnya benar-benar besar sehingga kecepatannya menjadi sangat lamban.

1517
Atas undangan dari Pa Bu Ta La, orang-orang biadab berambut merah (Portugis) menjalin hubungan dagang dengan Majapahit. Hal ini diketahui oleh Jin Bun yang kemudian menyerang Majapahit untuk kedua kalinya. Karena istri dari Pa Bu Ta La adalah anak Kertabhumi yang juga merupakan adik bungsu Jin Bun maka Pa Bu Ta La masih diperbolehkan memimpin Majapahit. Namun seluruh kota dan keraton Majapahit dibumihanguskan oleh tentara Demak pada serangan kali ini.

1518
Jin Bun wafat dalam usia 63 tahun.

1518-1521
Yat Sun menggantikan ayahnya sebagai raja Islam di Demak.

1521
Yat Sun kembali menyerang Mao Lok Sa dengan meriam-meriam besar buatan Kin San yang diangkut oleh kapal-kapal model Ta Cih. Yat Sun wafat. Di Demak sendiri terjadi huru-hara tentang siapa yang akan menjadi penggantinya di Demak.

1521-1546
Tung Ka Lo, saudara Yat Sun menggantikannya sebagai Sultan di Demak.

1526
Kin San yang pandai berbahasa Tionghoa ikut dalam ekspedisi armada Demak kedaerah barat untuk menundukkan masyarakat Tionghoa di Sembung.

1527
Pa Bu Ta La wafat. Toh A bo, seorang putera dari Tung Ka Lo kemudian menduduki Majapahit. Putera puteri dari Pa Bu Ta La lebih memilih melarikan diri ke Pasuruan dan Panarukan karena tidak bersedia masuk Isam.

1529
Kin San wafat dalam usia 74 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Demak.

1529-1546
Muk Ming, seorang putera dari Tung Kang Lo menggantikan kedudukan Kin San sebagai bupati Semarang.

1541-1546
Dengan bantuan dari masyarakat Tionghoa bukan Islam di Semarang. Muk Ming berhasil menyelesaikan pembuatan 1.000 jung besar yang masing-masing bisa menampung 400 prajurit. Pembuatan jung secara besar-besaran ini dikarenakan oleh keinginan Tung Ka Lo yang hendak merebut pulau-pulau rempah-rempah dilaut timur.

1546
Armada Demak menyerang ke timur. Tung Ka Lo wafat dan digantikan oleh Muk Ming. Terjadi perang saudara antar sesama keturunan Jin Bun yaitu antara Muk Ming dan Ji Pang Kang yang sama-sama merasa berhak menjadi raja di Demak. Tentara Demak berhasil dikalahkan, selain masjid, seluruh kota dan keraton Demak dibumihanguskan. Tentara Muk Ming yang terdesak kemudian mundur ke Semarang, namun disini mereka kembali di kepung. Selain kelenteng dan masjid seluruh kota Semarang berhasil dibakar oleh tentara Ji Pang Kang termasuk penggergajian kayu jati dan galangan kapal. Muk Ming dan orang-orang Tionghoa bukan Islam banyak sekali yang mati terbunuh. Ja Tik Su kemudian menobatkan Putera Muk Ming menjadi sultan Demak, namun kemudian juga mati terbunuh.
Tentara Ji Pang selain berperang melawan Demak, juga diserang oleh tentara Peng King Kang. Ji Pang Kang berhasil dibunuh. Peng King Kang kemudian mendirikan negara Islam jauh dipedalam.

Diambil dari Kronik Tionghoa Kelenteng Sam Po Kong Semarang dalam “Runtuh-nya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara”. Prof. DR. Slamet Muljana!

Antara Israel dan Thomas Hobbes

June 2, 2010

Dalam beberapa hari terakhir tentu mata kita tidak lepas dari pemberitaan media tentang serangan militer Israel kepada kapal Mavi Marwara yang berisi tidak kurang dari 700 relawan dari 40 negara dan bahan bantuan untuk penduduk Gaza. Kejadian yang amat sangat menyita perhatian dunia ini memang layak mendapat kecaman serta kutukan karena selain peristiwa ini tidaklah manusiawi, juga tempat kejadiannya berada di wilayah perairan internasional. Pemerintah Israel berdalih, bahwa serangan tersebut adalah upaya pembelaan diri karena telah lebih dulu mendapat serangan dari para relawan didalam kapal. Namun rasanya orang paling tolol sekalipun bisa mementahkan pendapat tersebut, karena tidak mungkin para relawan kemanusiaan bisa menyerang pihak militer Israel yang telah mengepung kapal tersebut dengan armada darat dan lautnya. Dilihat dari segi manapun, serangan militer negara yahudi tersebut tidak bisa dibenarkan bahkan didalam negerinya sendiri juga timbul pro dan kontra dari kalangan kalangan kabinet yang merasa tidak diikutsertakan dalam rapat pengambilan keputusan.

Sebagai sesama manusia saya pribadi turut menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh militer Israel. Tapi disisi lain ada semacam keinginan untuk menerima perlindungan yang sama dari negara terhadap warga negaranya seperti apa yang telah dilakukan oleh Israel. Negara yahudi tersebut telah melakukan berbagai cara, bahkan cara-cara bar bar demi satu kepentingan, yaitu memastikan negara dan rakyatnya terjamin dari ancaman pihak manapun. Disatu sisi, Israel telah berhasil melakukan tindakan pencegahan walaupun dengan cara yang amat sangat memalukan. Namun disisi lainnya penyerangan yang merupakan pelanggaran ke limapuluh dua yang dilakukannya adalah wujud nyata dari ketakutan berlebih serta apatisme yang keterlaluan. Apatisme Israel ini tentu adalah hal wajar, karena mereka tentu sangatlah tahu bahwa negaranya adalah sebuah negara paling dibenci di muka bumi.

Pandangan saya sebagai orang yang buta dalam hal ilmu negara dan politik luar negeri, Israel adalah penjahat bagi orang luar, namun pahlawan bagi rakyatnya. Ia ibarat seorang bajingan setelah keluar dari pintu rumahnya, tapi sangat hangat dalam usahanya menjaga setiap jengkal rumah serta penghuninya bahkan hanya dari seekor nyamuk sekalipun. Melihat dari sekian banyak yang telah dilakukan Israel selama ini, sepertinya negara tersebut berhasil menerapkan pemahaman terbalik tentang konsep negara yang ditawarkan oleh Thomas Hobbes yang mengasumsikan bahwa kebutuhan terbesar manusia adalah keinginannya untuk bertahan hidup karena itulah diperlukan sesuatu agar bisa memanfaatkan keinginan terbesar manusia tersebut sehingga akan memunculkan totalitas kepatuhan. Sesuatu yang dimaksudkan disini adalah ketakutan atau menciptakan perasaan takut kepada setiap warga negara agar mau tunduk pada setiap peraturan-peraturannya. Bila manusia diancam dan dibuat takut, ia akan dapat mengendalikan emosi dan nafsunya sehingga kehidupan sosial dapat terjamin. Dan Israel adalah negara sukses menerapkan sistem tersebut secara terbalik didalam ketatanegaraannya.

Tapi apapun yang dijadikan sebagai alasan Israel, rasanya itu akan menjadi tidak masuk akal apabila mengisolasi Gaza dari dunia luar. Itu adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditolelir lagi. Peristiwa yang terjadi di laut tengah baru-baru ini juga akan berdampak pada negara-negara lain, Indonesia contohnya. Kejadian tersebut akan menggoreskan luka baru khususnya pada umat Islam disini dan akan memunculkan kemungkinan pembalasan dendam dari mereka dengan jalan aksi-aksi teror terhadap Israel dan pendukungnya karena pemerintah kita dianggap tidak bisa berbuat banyak. Jadi, setelah berbagai upaya diplomatik yang ditempuh oleh pemerintah dan LSM lainya baik itu melalui dewan keamanan PBB maupun Mahkamah Internasioal, pemerintah dan aparat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan aksi terorisme yang sepertinya tidak mati bersama Noordin dan Dulmatin.

Semoga Aku Terampuni

May 26, 2010

Bangsaku, seberapa banyak persediaan air matamu?

Hingga bahagiamu seperti tak lebih dari sekali putaran bumi.

Saudaraku, kapan kita akan saling membantu?

Sampai tersisa sedikit kemiskinan yang meminta mati

Kawan, tahukah kau ada jutaan anak mengemis dijalanan?

Yang kita ekploitasi air matanya

Kita koyak ratapan mereka hingga sampai batas toleransi kemanusian

Tanpa pernah melakukan apapun selain sebatas pembicaraan

Tuhan menyuruh kita menahan lapar agar bisa merasakan pedihnya perut keroncongan

Bukan semata untuk memperberat timbangan

Tangan-tangan berbekal besi akan sampai sebentar lagi

Lalu untuk apa kita menyusun rencana hingga mulut berbusa kalau tak berani hadapi?

Supaya apa teriakan berapi-api kalau pada akhirnya lari?

Tiap hari kita terus menimbang untung dan rugi

Otak kita berputar tanpa henti demi kepentingan pribadi

Disini tidak dibutuhkan terlalu banyak kejeniusan

Yang kita perlukan adalah sebuah tindakan

Kita akan menjadi seorang bajingan rendahan

Bila selalu menuntut perbaikan, namun itu harus menguntungkan

Kita tidak akan lebih dari sekumpulan buaya-buaya liar

Akan merasa lapar saat yang lain mendapatkan mangsa segar

Seorang anak manusia menyanyat dagingnya sendiri untuk seekor elang

Pemimpin bertangan kasar karena terlampau sering memanggul sekarung gandum dimalam buta untuk mereka yang papa

Pejabat tinggi di diagnosa kurang gizi karena tak mau korupsi

Penculik wanita yang tak mau memperkosa karena hanya menginginkan cinta

Tak perlu kita sampai pada mereka

Usah meniru mereka sebab jaman telah berganti

Buang keinginan menjadi seperti dia

Jangan terburu berkorban diri karena tubuh molek kekasih hati masih ingin kita tiduri

Siapa bilang hidup adalah pengorbanan?

Bukankah kita sendiri yang menjatuhkan pilihan?

Tak usah memikirkan urusan sesudah mati

Sebab kita melakukan semuanya disini

Maafkan aku, yang menjadikan teriakan perut lapar sebagai bahan tulisan

Semoga aku terampuni, sebab berbagai pemerkosaan kujadikan inspirasi

Aku pantas sendiri, karena belum bisa memberi walau hanya sepotong roti

Raden Patah, Keturunan Peranakan Tionghoa?

March 5, 2010

Tahun 1968, Prof.DR. Slamet Muljana menerbitkan buku yang berjudul Runtuh-nya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara yang dalam perkembangannya, buku tersebut kemudian dilarang oleh kejaksaan agung pada tahun 1971 karena isinya yang controversial yakni sebagian Walisongo merupakan orang Cina atau pernakan Cina. Penelitian yang dilakukan oleh Slamet Muljana adalah dengan membandingkan tiga sumber yaitu Babad Tanah Jai, Serat Kanda dan Nakah dari kelenteng Sampokong yang ditulis oleh Portman kemudian dijadikan kutipan oleh Ir. M.O. Parlindungan dalam Tuanku Rao.

Residen Portman sendiri ditugaskan oleh pemerintah colonial untuk menyelidiki apakah raden patah itu orang Cina karena dalam Babad Tanah Jawi ia bergelar Panembahan Jimbun dan dalam Serat Kanda ia dikenal sebagai Senapati Jimbun. Sang residen akhirnya mengeledah kelenteng Sam Po Kong di Semarang dan mengangkut naskah berbahasa Tiongkok yang ada di sana. Naskah yang diangkut berjumlah tiga tikar dengan usia rata-rata 400 tahun. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Portman kemudian dicetak lima buah yang masing-masing untuk Gubernur Jendral, Peradana Mentri Coljin, Mentri jajahan, arsip negara di Rijswijk Den Haag, dan tentunya untuk dia sendiri dengan kode GZG (Geheim Zeer Geheim) uitsluitend voor Dienstgebruik ten Kantore. Untuk menyelidiki siapa sebenarnya Raden Patah, Portman juga menggunakan Babad Tanah Jawi sebagai salah satu pendukung walaupun babad sendiri bukan sumber sejarah murni karena banyaknya mistifikasi didalamnya.

Diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, bahwa Prabu Brawijaya selain menikah dengan Ni Endang Sasmitapura juga mepunyai istri yang berasal dari Campa dan Cina peranakan puteri dari Babah Ban Hong. Putri Campa merupakan istri ketiga dari prabu Brawijaya merasa tidak senang dengan putri Cina dan meminta sang raja untuk mengusirnya. Permintaan ini akhirnya dikabulkan dan putri Cina tersebut dihadiahkan kepada putra sang prabu Arya Damar yang hendak berangkat ke Palembang untuk menjadi Adipati. Arya Damar sendiri merupakan anak Brawijaya dari Ni Endang Sasmitapura. Bayi dalam kandungan putri Cina tersebut itulah yang kemudian lahir di Palembang yang kemudian di identifikasi sebagai Raden Patah.

Pertanyaan menarik selanjutnya adalah siapa Prabu Brawijaya yang beristrikan Ni Endang Sasmitapura yang juga ayah Raden Patah? Didalam Serat Kanda, Brawijaya yang beristrikan Ni Endang Sasmitapura juga menyebut dirinya sebagai Hyang Wisesa. Hyang Wisesa didalam Pararaton adalah Wikramawardhana suami dari Kusumawardhani yang memerintah majapahit pada 1389-1427. Ni Endang Sasmitapura yang disebut dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda sebagai istri Brawijaya tidak begitu jelas asal-usulnya (walaupun terlihat sebagai salah satu tokoh sentral). Sementara kronik Tiongkok dari kelenteng Sam Po Kong menyebutkan bahwa Hyang Wisesa selain menikah dengan Kusuwardhani juga mempunyai istri peranakan Cina dan dari pernikahan itu ia mempunyai anak bernama Swan Liong. Swan Liong mengasuh dua orang anak laki-laki bernama Jin Bun dan Kin San. Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Swan Liong adalah Arya Damar. Swan Liong sendiri bukanlah keturunan langsung dari Raden Wijaya (Pendiri Majapahit) karena Wikramawardhana ayah Swan Liong adalah menantu dari Hayam Wuruk.

Berita dari Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda akan menggiring pembacanya kepada kesimpulan bahwa Arya Damar (Swan Liong) adalah saudara satu bapak lain ibu dengan Jin Bun, perlu dipertanyakan kembali karena, Jin Bun atau Raden Patah meninggal pada tahun 1518 dalam usia 63 tahun. Dari situ dapat diketahui kalau Jin Bun dilahirkan pada tahun 1455 sementara pada tahun itu Wikramawardhana sudah meninggal dunia. Penugasan Arya Damar menjadi Adipati di Palembang sendiri terjadi pada tahun 1433, jadi otomatis yang menempatkannya bukanlah Hyang Wisesa melainkan Rani Suhita (1427-1447). Dari uraian diatas rasanya jelas bahwa Jin Bun bukanlah saudara satu ayah dengan Arya Damar.

Kronik Tionghoa menceritakan bahwa Swan Liong mengasuh dua anak laki-laki yaitu Jin Bun dan Kin San. Jin Bun merupakan anak raja Majapahit yang bernama Kung Ta Bu Mi. Raja majapahit yang mempunyai pengucapan mirip sekali dengan Kung Ta Bu Mi adalah Kertabhumi yang memerintah pada 1474-1478. Jika memang benar putri Cina yang diberikan kepada Swan Liong merupakan istri Kertabhumi, maka proses penghadiahan tersebut dilaksanakan jauh sebelum Kertabhumi menjadi raja Majapahit.

Tahun 1474, Jin Bun dan Kin San sama-sama menolak tawaran Swan Liong untuk menggantikan posisinya sebagai adipati di Palembang. Kedua anak muda ini memilih pergi ke tanah Jawa secara sembunyi-sembunyi. Keberangkatan Jin Bun dan Kin San ini bertepatan dengan tahun kematian Bhre Singawardhana yang disebut dalam pararaton sebagai Bhre Prabu Moksa Ring Kedathon karena kematian tiba-tibanya. Singawardhana digantikan oleh pamannya Kertabhumi yang juga merupakan ayah dari Jin Bun. Penolakan Jin Bun untuk menggantikan Swan Liong menjadi adipati Palembang dimungkinkan karena ayahnya menjadi raja Majapahit. Namun pada akhirnya Jin Bun lebih memilih berhenti di Ampel setelah sebelumnya singgah di Semarang sementara Kin San melanjutkan perjalanan ke Majapahit sendiri.

Tercatat dalam kronik Tionghoa bahwa Jin Bun hanya satu tahun berada di Ampel dan kemudian lebih memilih untuk membuka lahan sendiri di kaki gunung Muria. Selama tiga tahun di Jawa, Jin Bun telah mempunyai banyak pengikut dari golongan Islam fanatik baik dari kalangan Tionghoa maupun non Tionghoa. Tahun 1477, Jin Bun kemudian menyerang Semarang dan berhasil menduduki seluruh kota kecuali kelenteng Sam Po Kong. Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda tidak menceritakan adanya pendudukan kota Semarang oleh Jin Bun. Keduanya hanya menyebutkan bahwa pada tahun itu Brawijaya (Kertabumi) memanggil patih Gadjah Mada (dalam Babad Tanah Jawi hampir semua Maha Patih Majapahit pasca Hayam Wuruk bernama Gadjah Mada) untuk menanyakan apakah telah terjadi pemberontakan di Semarang. Tidak di jelaskan apa jawaban Gadjah Mada atas peristiwa itu, hanya disebutkan bahwa sesudah itu Brawijaya memanggil Raden Kusen yang menerangakan bahwa pemimpin pasukan di Semarang adalah saudaranya (dari uraian Babad Tanah Jawi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Raden Kusen adalah Kin San saudara satu ayah dari Jin Bun yang telah berhasil menduduki Semarang).

Cerita selanjutnya menyebutkan bahwa Jin Bun kemudian dipanggil untuk menghadap Brawijaya. Setelah berhadapan denga Jin Bun, Brawijaya merasa ada kemiripan antara dia dan Jin Bun sehingga diputuskan untuk menganugerahi Jin Bun daerah Bintara dan diangkat menjadi adipati disana. Satu tahun kemudian, Jin Bun memutuskan untuk menyerang Majapahit. Dalam kronik Tionghoa, penyerangan ini berhasil menjadikan Kertabumi sebagai tawanan dan mengangkut benda pusaka Majapahit yang berjumlah tujuh gerobak untuk dibawa ke Demak. Karena Kertabhumi merupakan ayah kandung dari Jin Bun maka ia diperlakukan dengan sangat baik dan keraton tidak dibumihanguskan. Namun terjadi perbedaan versi dalam cerita penaklukan Majapahit ini. Dalam Serat Kanda disebutkan bahwa Sunan Kudus dan Kalijaga memimpin pernyerbuan. Awalnya Sunan Kalijaga menolak penggunaan senjata karena raja Majapahit tidak pernah menghalangi penyebaran Islam di wilayahnya. Penyerangan ini ternyata berhasil dan membuat Brawijaya serta Gadjah Mada mengungsi ke Sengguruh. Setelah mengetahui keberadaan raja terakhir Majapahit dan maha patihnya, Demak mengadakan penyerbuan untuk kedua kalinya yang membuat Brawijaya mengungsi ke Bali. Peristiwa kedua inilah yang dimaksudkan dalam candra sengkalan Sirna Ilang Kertining Bumi sebagai tanda keruntuhan Majapahit sebagai negara yang berdaulat penuh.

Penggaru Rahasia

March 1, 2010

ADEGAN I

Ditanah terbuka, nampak sesosok tubuh terbujur kaku, masih terlihat jelas bahwa ia meninggal karena mengalami siksaan yang sedemikan berat. Disebelahnya duduk seorang laki-aki yang tengah menangis dan ditangan kanannya memegang sekuntum mawar.

Orang II:

Sahabatku tercinta: “tidakkah kami telah mengharamkan dunia bagimu?”.  Kau sama sekali tidak menghendakinya. Dirimu adalah semerbak kekal dalam kuntum mawar, mutiara tersembunyi dilubuk lautan. Adakah sekarang dunia lebih berharga dengan pengorbananmu? Karena darah yang kau semburkan untuknya? Kita menempuh jalan ini bersama-sama, tapi kau meninggalkanku. Kau mencintai dan kau berikan seluruh cinta itu padaku dengan murah hati, namun aku tidak bisa memberikan apa-apa. Setiap kali engkau melihat cahaya, kerinduanmu pada Tuhan memuncak. Kini kau telah kembali padaNya. Meletakan mawar merah didada mayat tersebut.

Kalau saja aku memilih keyakinan sepertimu, tentu nasib kita akan sama. Ketika dihadapkan kepada jaksa, kata-kata kaburlah yang terucap. Aku adalah orang yang telah membunuhmu……..  akulah yang telah membunuhmu. Orang II pergi, lampu langsung gelap.

ADEGAN II

Diruang tamu, Orang I  dan  Orang II nampak  tengah bercakap-cakap.

Orang II:

Kawan, dengarkan aku. Kita tidaklah berasal dari dunia ini, maka dari itu ia telah membuat kita tersesat. Percepat saja langkah menuju Tuhan. Terbanglah untuk menggapai berkas-berkas cahaya yang mengalir.

Orang I:

Tapi coba kau katakan padaku. Matahari ini, yang terselubung dalam lipatan waktu, bangkit perlahan-lahan tiap pagi dan membersihkan tidur dari mataku. Setelah itu ia melanjutkan pengembaraannya  menempuh jalan-jalan, menyeberangi taman-taman, tempat peristirahatan, rumah sakit, pemandian dan dengan jemarinya yang membara ia mengumpulkan gambar serta bayang-bayang bumi yang terbakar. Lalu ditenunnya mereka menjadi sebuah jubah tempat semua darah mengalir. Setiap sore ia menggosok mataku agar segera terbangun dari pesona ekstase kemudian pergi lagi untuk memasuki penjaranya yang gelap. Katakan, apakah penglihataku ini salah?

Orang II:

Tidak! Kamu memandang kearah matahari yang benar. Aku sendiri memandang kelubuk hati, yang membuatku hormat dan gembira karenanya. Didalamnya terdapat pepohonan yang tengah berbuah ranum, malaikat, pemuja, bulan, matahari, sungai-sungai, dan permata. Semua rahasia dan bayangannya terlihat jelas. Masing-masing dalam bentuknya yang paling indah, masing-masing dalam bentuknya yang paling sempurna.

Orang I:

Mengapa Tuhan memberikan pencerahan pada hatimu? Tahukah kau mengapa?

Orang II:

Itulah jalan satu-satunya untukku. Janganlah kau merasa iri, bukankah ikatan persaudaraan antara kita melarangmu untuk berprasangka buruk dan menghitung hadiah-hadiah yang telah diberikan majikan kepada hambanya?

Orang I:

Tidak, aku tidak iri kepadamu. Mengapa Tuhan Yang Maha Mulia memberikan, dan menurunkan cahayaNya yang gemerlapan kepada orang-orang tertentu yang dipilihNya saja? Mereka diberi petunjuk agar dapat memberi kesembuhan pada dunia yang sakit, mencurahkan cahaya tersebut kepada hati orang-orang malang, karena cahaya Tuhan tidak akan pernah habis apabila menyinari si kaya, demikian juga dengan orang-orang yang tercerahkan. Cahaya dalam dirinya tidak akan berkurang walaupun setiap hari dibagikan kepada si miskin.

Orang II:

Ah tidak! Aku cemas jika terjebak ditengah khalayak, maka aku akan memalingkan pandangan pada dunia, tergila-gila pada kekuasaan, harta dan kemakmuran. Sementara ketika kesengsaraan menghimpit, segera aku berlindung. Dengan sendirinya cahaya tersebut akan padam dari hatiku……. aku tidak mau itu.

Orang I:

Andai kita bisa mengelak dari dunia. lantas bagaimana kita mesti bergaul dengan kejahatan?

Orang II:

Kejahatan? Aku bingung. Apa yang kau maksud dengan kejahatan?

Orang I: penuh kecemasan

Kemiskinan orang-orang yang miskin, kelaparan orang-orang yang lapar. Dimata mereka yang malang aku melihat nyala api yang mengandung suatu makna…… suatu makna…… namun aku tidak tahu apa itu. Kata-kata yang berpijar dari kilauan mata mereka. Terkadang aku merasa mengetahuinya.

Orang II:

Mengapa engkau harus sedemikian cemas?

Orang I:

Mata itu berujar “sekarang lihatlah aku. Kau cemas memandang kearahku? Tuhan akan mengutuk kemunafikanmu” dan kadang menurutku mata itu berkata “rasa belas kasihan telah menyusut dimatamu. Kau cemas, kebanggaanmu melemah. Semoga Tuhan mengampunimu”. Apa yang membuat terkoyaknya jiwa dan kecemasan selalu memenuhi hatiku? Ternyata adalah tatapan mata yang memandang pedih serta diam-diam bertanya “dimana Tuhan?”.

Orang II:

Engkau terlalu mengkhawatirkan suatu penampakan sekilas. Sudahlah, Tuhan tidak akan melupakan siapapun yang terus mengingatNya.

Orang I:

Ya! Dia yang maha agung memang tidak akan melupakan siapapun, baik yang menurut ataupun yang ingkar. Tapi aku adalah manusia yang mempunyai kewajiban untuk saling mengingatkan.

Lihatlah sipir penjara itu, yang berdiri dengan tegaknya sambil terus mencambuki punggung tahanan. Rasakan, diatas pundak lelaki dan wanita yang terbelunggu itu. Tanyakan pada mereka kapan terakhir kali merasa merdeka. Para pejabat-pejabat kerajaan ini bagaikan dewa-dewa yang tak sudi turun kebumi. Kau tentu telah melihat budak-budak dan mereka yang terhina. Dengar! Iblis telah menaklukan bumi Tuhan. Katakan padaku, bagaimana aku bisa menutup mata dari dunia? dan hal seperti apa yang bisa membuatku tidak merasa bersalah?

Orang II: menenangkan

Tenang sahabatku, tenangkan dirimu……. Apakah kau lupa bahwa sebuah negara akan menjadi besar jika rakyat dan pemimpinnya saling percaya dan mendukung? Raja yang adil akan menjadi sia-sia ketika rakyatnya tidak mematuhi. Sudahkah rakyat membantu pemimpin yang mereka pilih sendiri? Bekerjasama bahu membahu? Dan yang paling penting memberikan kepercayaan sepenuhnya? Belum temanku….. belum. Kebanyakan dari mereka hanya pasrah sambil menunggu perbaikan tanpa pernah berusaha memperbaiki diri sendiri. Orang-orang seperti itukah yang ingin kau perjuangkan nasibnya? Pernahkah kau mendengar cerita, mereka memperbaiki diri setelah beramai-ramai meneriakan tuntutan perbaikan? Tidur dan bermimpi!!! Itulah pekerjaan mereka. Ketika terbangun kehidupan begitu pahit terasa. Lalu apa yang dilakukan? Mereka mengeluh dan saling menyalahkan. Tenangkan dirimu sahabatku……. Mulai sekarang jika matamu terbuka maka hatimu akan merasa bersalah.

Orang I:

Tidak! Justru sebaliknya. Dari rasa bersalah itu, aku memperoleh pencerahan dari kepala sampai kaki. Hasrat terbesarku, membantu merubah mimpi-mimpi mereka menjadi keinginan terdalam untuk merasakan surga.

Terdengar suara orang yang mengetuk pintu.

Orang I:

Siapa?

Tamu:

Saya syeik……

Orang I:

Betapa indahnya kesendirian batin kita. Begitu menyenangkannya bercakap-cakap dengan leluasa. Namun rasanya, hari begitu kikir. Biarkan dia masuk, ia pemuda yang baik hati. Kau mengenalnya bukan?

Orang II:

Ya aku mengenalnya, juga menyukainya.

Orang I:

Masuklah.

Tamu tersebut adalah seorang pemuda. Ia masuk dengan nafas yang terengah-engah dan nampak tengah kebingungan.

Orang I:

Sahabatku, dari wajahmu, nampaknya kau sedang mengalami kesulitan?

Tamu:

Ya syeik. Karena sekarang kita tidak akan baik-baik lagi. Baru saja aku mengunjungi sepupuku, seorang jaksa. Ia mengatakan bahwa penguasa sedang mencurigai anda.

Orang I:

Aku dicurigai? Mengapa?

Tamu:

Mereka berkata bahwa anda telah mengumpat sultan dan menghasut rakyat. Sepupuku tersebut meminta untuk segera memberitahukan masalah ini kepada anda, sekaligus meminta anda untuk lebih berhati-hati.

Orang I:

Apa yang mereka tuduhkan? Mengapa aku didakwa? Karena aku bercakap-cakap dengan beberapa temanku? Mengatakan bahwa jantung negeri adalah rajanya? Keadilan kekuasaan tergantung pada keadilan raja? Aku berkata pada para sahabatku, mengatakan pada mereka “jika kau berada diatas kekuasaan, jangan lupa menuangkan anggur kedaulatan kedalam mangkuk keadilan” atau aku didakwa karena berteriak “kita semua sedang berjalan menuju kematian, namun terlalu banyak dari kita yang menjauh dari pemilik kematian”.

Tamu:

Penguasa menuduh bahwa anda berkomplot dengan pemberontak dan menganjurkan kepada mereka untuk segera mengambi alih kekuasaan.

Orang I:

Mereka adalah para pemimpin bangsa yang juga merupakan sahabatku. Jika bisa berkuasa, mereka menjanjikan padaku untuk menjalankan pemerintahan yang adil dan tidak berbuat curang, memberikan seluruh hak rakyat, dengan demikian, rakyat akan melaksakan kewajibannya dengan ikhlas dan sepenuh hati. Pemimpin bangsa seperti itu adalah orang-orang yang paling aku harapkan didunia. Karena itulah kuhilangkan rasa haus mereka dengan pikiran dan kusegarkan hati mereka dengan kata-kata.

Orang II:

Satu-satunya teman bagi kita adalah kebebasan malam. Air mata kecemasan terhadap dunia, lagu kerinduan yang dalam, kesadaran terhina, merupakan keriangan hati pecinta setelah menerima pencerahan. Bila beban kesepian terasa berat bagi kita, maka biarkan ia tinggal bersama anak-anak kemiskinan dan kefakiran, yang lebih puas berputus asa daripada berharap. Katakan padaku, yakinkah kau pada orang-orang yang kau sebut sebagai pemimpin bangsa tersebut tetap menganggapmu sebagai sahabat apabila telah berkuasa nantinya?

Orang I:

Aku tidak peduli apakah mereka masih menjadi sahabatku atau tidak. Paling penting bagiku adalah kata-kataku tetap diingat dan dilaksanakan ketika kekuasaan ada ditangan mereka.

Orang II:

Bagaimana kau bisa yakin kalau kekuasaan akan jatuh ketangan mereka? Belum tentu mereka mengikutimu. Karena, mungkin mereka hanya menbenci orang-orang yang sekarang berada diatasnya.

Orang I:

Kalau hal itu terjadi, mungkin aku telah gagal, namun tidak dengan perkataanku, sebab telinga yang masih mampu mendengar akan datang menjemputnya. Melalui telinga pendengarku, perkataan tersebut akan merasuk kedalam hati. Hati yang terasuki akan terdorong untuk memperkuat lengan beserta tangan. Beramai-ramai mereka akan bergerak menuju cahaya dan tidak akan kembali lagi sampai dapat menemukan matahari yang berkilauan untuk menerangi jiwa orang-orang yang kalah dan menderita.

Tamu:

Aku cemas akan jatuh banyak korban. Apa yang anda rencanakan?

Orang I:

Seorang manusia diciptakan menurut gambaran Tuhan. Memiliki jiwa yang bisa menimbang, karena itu ia harus bisa bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tamu:

Maukah anda mengungsi dan berdiam dipersembunyian sampai keadaan benar-benar aman?

Orang I:

Mengungsi? Adakah persembunyian itu syurga, hingga orang tertindas harus menetap disana? Bisakah kutemukan keadilan dipengungsian? Sudah tidak akan lagi terdengar ratap tangis orang yang dicambuk oleh tirani disana?

Tamu:

Dalam jaman yang gila, dipenuhi oleh kerakusan, Tuhan tidak akan menurunkan mukjizat untuk menyelamatkan satu generasi yang sudah mati walau kematian belum tiba.

Orang I:

Betapa kelirunya kau anakku, aku tidak memohon mukjizat kepada Tuhan. Aku hanya berusaha tetap dekat sehingga suatu saat nanti dapat bergabung dengan teman-temanku yang telah berada disisiNya terlebih dahulu.

Tamu:

Kekhawatiran tak bisa membuatku mengerti maksud anda. Ijinkan saya pergi untuk meminta petunjuk.

Orang I:

Mengapa tidak kau cari petunjuk itu dihatimu sendiri?

Tamu:

Saya kurang berpengalaman dalam masalah seperti ini. Saya ingin bertanya pada orang-orang yang lebih tahu. dengan ijin anda, perbolehkan saya pergi.

Orang I:

Baiklah, sampaikan salamku pada orang yang bisa memberimu petunjuk.

Tamu tersebut keluar dengan tergesa-gesa.

Orang II:

Orang yang baik. Dia mencintaimu.

Orang I:

Cinta seperti itulah yang memisahkannya dariku. Kadang-kadang dalam cintanya dia khilaf dan mengaburkan cintanya pada Tuhan dalam pribadiku.

Orang II:

Maksudmu?

Orang I:

Dia mencintaiku dalam Tuhan lebih dari mencintai Tuhan dalam diriku. Dia tidak semestinya takut dan tidak semestinya pula menasehatiku untuk mengungsi menyelamatkan diri. Ingatkah kau pada nasehat guru kita ketika menganugerahkan jubah ini? Dia mengatakan “anakku, cinta yang sejati adalah kematian pecinta agar dia bisa hidup dalam kekasihnya. Kau bukan seorang pecinta pabila belum bisa mengesampingkan pribadimu dan mengandaikan Dia”. Karena itulah aku ingin menyempurnakan cintaku. Terlalu lama menimbang semakin membuatku bingung dan sakit karena himpitan rindu. Ia tadi menanyakan apa rencanaku, akan kudatangi khalayak ramai dan kukakatan tentang apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Orang II:

Pelan-pelan teman….. pakaian yang kau kenakan memisahkanmu dari orang-orang.

Orang I:

Maksudmu jubah ini? Jika ini merupakan belenggu pada anggota tubuh yang mengikatku dalam rumah sendiri, menghadapkanku pada dinding bisu sebagai penghalang antara aku dan semua sahabat-sahabatku untuk bisa saling mendengarkan, aku akan mencampakkannya…. lihatlah, aku akan membuangnya.

ADEGAN III

Suatu siang disebuah taman nampak tiga orang yang masing-masing mempunyai cacat fisik tengah asyik bercakap-cakap.

Si Bungkuk:

Teman, dengarlah. Aku sangat mencintai syeik yang budiman itu, namun aku ragu apakah ia mampu meluruskan punggungku yang bungkuk ini.

Si pincang:

Ketika mendengarkan kata-katanya, kakiku ini serasa dapat diluruskan. Layaknya seekor burung yang dapat terbang dilangitku sendiri. Namun sekarang, saat ia jauh dariku, bayang-bayang keraguan akan kekuatanku sendiri datang lagi. Susah payah, kuseret kembali kaki celaka ini. Berjalan menuju neraka kepiluan, kemiskinan dan kemelaratan.

Si Kusta:

Demikian juga aku sewaktu melihatnya. Matahari seolah-olah mendengar keluhanku untuk melenyapkan bintik-bintik hina dikulit ini. Aku merasa tampan, berjalan dengan penuh percaya diri dan kebanggaan tanpa cacat serta noda. Tapi begitu dia telah jauh, kututup kembali diriku dengan kain rombengan untuk menyembunyikan nyeri, duka cita, nestapa dan penyakitku.

Si Bungkuk: terdiam beberapa saat.

Sudahlah! Memang benar apa yang dikatakannya. Kita orang kecil dan menderita, nikmati saja semua anugerah yang diberikanNya.

Si Pincang:

Aku sependapat denganmu. Nikmatilah semuanya dengan ikhlas, semua akan terasa indah.

Si Kusta:

Hei pincang…. kata-katamu tak ubahnya seorang khatib. Kau mengucapkan itu hanya untuk menghibur dirimu!

Si Pincang:

Bukan begitu teman. Kata-kata yang diucapakan syeik itu kurasa benar adanya. Tuhan masih melihat kita. Dibalik ini semua, pasti ada hikmahnya. Hanya saja, karena selama kita terlalu banyak menggerutu dan mengeluh, kita tidak sadar dengan cintaNya.

Tiga orang tersebut kemudian pergi kesudut panggung dan terus asyik berbicara. Tak lama kemudian, masuklah serombongan sufi dan berdiri ditengah panggung.

Sufi I:

Syeik kita telah melepaskan baju kebesarannya.

Sufi II:

Memang begitu adanya. Namun apakah ia mampu melepaskan hati bersama lepasnya jubah? Atau mengenyahkan Tuhan yang bersemayam dihatinya?

Sufi III:

Jubah adalah lambang dan tanda kepangkatan. Kita bangga pada pakaian ini. Setelah menerimanya, dunia ini seakan tidak ada lagi dan sayap-sayap keinginan habis terpotong bersama menempelnya tenunan ini dikulit kita.

Sufi II:

Benarkah pakaian kebanggaan dan kebesaran ini mampu mencegah kita untuk tidak lagi melihat ketidakadilan? Atau bisakah ia mencegah mata kita untuk tidak melihat penindasan?

Sufi I:

Jubah ini memang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku juga khawatir kalau  melepaskannya, kita akan seperti manusia kebanyakan. Terlibat dalam peristiwa kehidupan mereka: menjilat penguasa, saling menikam diatas panggung politik, serta bergabung dengan orang yang tidak punya nurani.

Sufi III:

Hal ini sangat membingungkan. Aku rasa kita tidak akan bisa memutuskan perkara ini.

Para sufi berjalan menuju sudut panggung lainnya sambil terus berbicara. Kemudian masuklah petani, pedagang dan sastrawan. Mereka berkumpul ditengah panggung. Tak lama berselang, dua orang petugas juga turut masuk, dan langsung berjalan kesudut depan panggung. Dari luar panggung terdengar suara Orang I.

Orang I:

Mari datanglah padaku wahai orang-orang asing, miskin, tertindas, sakit, dan menderita. Mendekatlah padaku dengan hati remuk, tangan patah, dan tubuh bercucuran darah. Mejaku telah terbentang. Bersama-sama, mari nikmati roti Tuhan, majikan kita. Berkumpullah dihadapanku, akan kutunjukan jalan menuju Tuhan dan apa saja yang bisa membuatNya senang.

Pedagang:

Siapa orang tua yang berteriak itu?

Petani:

Ia ingin memberi petunjuk, jalan menuju Tuhan?

Sastrawan:

Laki-laki tua itu tolol, betapa banyak kita jumpai setiap harinya orang-orang seperti itu didaerah berkumpulnya rakyat miskin. Ketika sudah lagi tidak menemukan jalan, maka Tuhan menjadi pilihan terakhir.

Pedagang:

Betul katamu. Lebih baik kita pergi saja dari tempat ini. Aku telah meninggalkan anakku yang bodoh untuk menjaga kedai. Jika datang pembeli seorang gadis cantik, maka harga yang ditawarkan menjadi dua kali lipat.

Petani:

Aku baru saja menjual gandum dan hasil panen dipasar tadi pagi. Lebih baik aku segera pulang kerumah dan membawa uang. Jika terus mengikuti langkah kaki, ia akan membawaku kekedai minuman ataupun tempat pelacuran. Habislah seluruh uangku disana.

Sastrawan:

Terikasih Tuhan. Engkau telah memberikan ilham untuk tulisanku. Aku akan menyusunnya,,,,, menceritakan seorang petani yang menjual gandumnya dipasar, kemudian setan menggoda untuk membelanjakan uangnya di tempat pelacuran. Pada akhirnya ia kehabisan uang, pulang tidak membawa apa-apa, padahal anak-anaknya tengah menanti kepulangan sang ayah ditengah suasana lapar, dan…… dan……. ya! Aku pasti dapat menyelesaikan cerita ini. Sebagai penutup cerita, akan kutambahkan pesan, “waspadalah terhadap tipu daya wanita”.

Ketiga orang tersebut segera menyingkir kesudut panggung bersama Si Bungkuk, Kusta dan Pincang. Orang I memasuki panggung dengan didahuli oleh suaranya. Tiga orang sufi mulai memperhatikan khotbah Orang I. Dua orang petugas yang semula diam, mulai berbisik-bisik dengan tatapan mata penuh curiga pada Orang I.

Orang I:

Tuhan menginginkan kebaikanNya terlaksana dan cahayaNya bersinar. Maka dari hembusan kemahakuasaan, Dia pertunjukan wujud dari lempung, meniupkan ruh, menyelimuti, menghiasi, dan jadilah ciptaanNya, manusia!. Kita adalah cermin, dimana Ia menikmati keindahanNya yang tidak tertutup oleh tabir apapun. Karena itu, jika hati manusia murni, maka yang maha kuasa akan senang. Namun apabila hati kita menyeleweng, maka Ia akan memalingkan wajah dan meninggalkan kita dengan penuh kemurkaan.

Pedagang:

Kasihan orang itu. Seluruh rambutnya telah beruban, pakaiannya compang-camping dan yang lebih parah lagi, ia tidak waras.

Orang I tidak mengindahkan kata-kata pedagang dan raut wajah orang-orang disekitarnya yang mencibir dan mengejek.

Orang I:

Tahukah kalian apa yang terjadi bilamana seseorang dimurkai tuannya? Dunia terasa sempit, benda-benda terlihat membingungkan hati, sinar matahari laksana jilatan api yang bergerak bagai nyala aneka warna diwajah langit dan bumi, sang rembulan tak ubahnya bola besi raksasa yang kapan saja bisa runtuh diatas kepala, dan tanah seperti akan menghimpitnya, layaknya wanita yang terus menangis untuk melepaskan semua gundah hati.

Kini, disamping penderitaan, dibawah panji-panji penindasan, prajurit-prajurit kemiskinan berbaris menyokong bala tentara kejahatan yang akan membalas dendam. Mahluk-mahluk itu, dipimpin oleh setan sebagai bendahara kerajaan. Pembunuhan, pencurian, penghasutan, pengkhianatan, rayuan kemarahan, kekerasan, pemerkosaan, dan tirani, itulah calon-calon pasukan tambahan yang juga sekaligus menjadi warga negara.

Petani:

Aku sama sekali tidak mengerti dengan kata-kata orang tua itu. Tapi sepertinya, kata-katanya tidak salah.

Orang I:

Negara ini telah berada dijurang kehancuran. Tidakkah kalian semua lihat, tangan-tangan besi penguasa yang dibantu pentungan petugas merobohkan rumah-rumah. Dengarlah ratapan orang miskin yang tidak mampu membayar biaya rumah sakit kemudian diusir secara hina. Rasakan kelaparan mereka yang dengan mata terbuka menyaksikan para pejabat menikmati hidangan pesta ditengah sidang. Namun yang lebih menyakitkan, tangan-tangan kasih kita telah terpotong, persatuan sudah tercerai berai karena hanya hak kita sendiri yang selalu diperjuangkan.

Semua yang ada berjalan kearah orang I dan mulai tertarik mendengarkan khotbahnya.

Pedagang:

Apa yang mesti kita lakukan untuk memperbaikinya?

Satrawan:

Haruskah kita mengangkat senjata dan melawan?

Si kusta:

Atau, kita pergi saja dari negeri ini dan mencari penghidupan baru di negara lain?

Orang I:

Mengangkat senjata dan melawan katamu? Pergi kenegara lain untuk mendapatkan kehidupan baru? Betapa kerdilnya pemikiran kalian. Kekerasan akan semakin memperburuk keadaan. Dan pergi bukanlah suatu penyelesaian. Untuk memperbaiki keadaan ini, perbaikan moral adalah langkah pertama. Karena kebobrokan yang sekarang terjadi merupakan imbas dari kemerosotan mental dan moral. Jika telah berhasil memperbaiki mental dan moral sendiri, barulah beramai-ramai meneriakkannya pada orang lain. Selama ini, suara kita hanyalah kebohongan belaka. Selalu bergemuruh menyampaikan perbaikan, namun tidak pernah pernah berkaca pada diri pribadi. Hanya bisa menuntut tanpa pernah mau duduk bersama untuk membicarakan jalan keluar. Semuanya berusaha menjadi menjadi guru. Selalu merasa dialah yang paling pantas didengarkan. Tidak ada seorangpun punya salah, bisanya hanya menyalahkan tanpa pernah mau disalahkah atau merasa bersalah.

Sufi I:

Lantas?

Orang I:

Bersihkanlah kalbu agar dapat menangkap dan memantulkan gambaran Tuhan. Mulailah dari pribadi kita sendiri. Lalu bagaimana cara kita untuk membersihkan kalbu sehingga dapat menangkap serta memantulkan gambaran Tuhan? Membaca kitab suci? Menahan lapar? Menyisihkan harta? Ya! Itu benar. Tapi itu adalah langkah pertama untuk mencapaiNya, langkah yang dilakukan oleh kaki. Yang Tuhan kehendaki adalah kalbu. Hanya cinta murni dari hati bersih sajalah yang mampu menyempurnakan kesenanganNya terhadap kita. Maka dari itu, berikan dan cintaiah Tuhan itu sehingga Dia bisa memandang keindahanNya tercermin dalam diri kita. Dengan sendirinya keyakinan dihati akan semakin kuat, hingga hujatan dan pujian tak lagi menyiksa. Jika itu sudah terjadi, maka terciptalah keharmonisan. Manusia akan diperlakukan sebagai manusia.

Petugas menyela dari sudut panggung.

Petugas I:

Maaf syeik yang budiman. Kalau boleh saya bertanya, apakah Tuhan membutuhkan mata untuk melihat kedalam  kaca?

Orang I:

Nak, apakah hatimu telah terkunci hingga kau menanyakan hal tersebut padaku?

Petugas II:

Jawaban yang bagus. Lantas menurutmu, apakah Tuhan bisa dibandingkan?

Orang I:

Serupa apa Tuhan kubayangkan? CahayaNya adalah lampu, pikiranku adalah pembuka relung kaca, dan keberadaanku adalah bagian dariNya yang akan kembali untuk berkumpul lagi.

Petugas I:

Apa kau juga ingin mengatakan bahwa pakaian ini juga merupakan bagian dariNya? Yang maha kuasa tersebar diantara sebagian orang?

Orang I:

Sebuah bingkai yang pecah adalah asli selama dia murni. Dan Dia, Yang Maha Mulia ada dalam diri setiap orang tanpa jarak. Dia adalah cahaya.

Petugas II:

Lantas, kau adalah Tuhan karena merupakan bagian darinya?

Orang I:

Semoga Dia mengampunimu karena telah menghasutku sehingga harus mengungkapkan rahasia kalbu. Apa kau tidak tahu bahwa cinta adalah sebuah rahasia antara dua pecinta? Ia merupakan hubungan yang apabila diumumkan akan mencemarkan kehormatan kami. Sebab bilamana seorang kekasih menganugerahi dengan persatuan, maka kami akan bersuka cita. Bersama-sama memasuki tempat rahasia, dihidangi makanan dan minuman, menari dan ditarikan, menyanyi dan dinyanyikan, saling berjanji dan dijanjikan, kami singkap pemikiran terdalam dan pemikiran terdalam juga tersingkap. Dan jika pagi tiba, kami terpisah dengan perjanjian untuk menjaga kerahasiaan hingga aku terbaring diliang kubur, membisu karena maut.

Petugas I:

Cukup orang tua. Ucapan seperti itu adalah kemurtadan.

Orang I:

Kemurtadan? Kasihanilah aku……. aku bicara, kau mendengar……. kini dengarlah dan katakan apa saja yang ingin kau ucapkan. Aku mencintai dia yang adil. Dan Dia memberikan padaku, persis sama dengan apa yang aku berikan padanNya.

Petugas II: berteriak pada semua orang.

Wahai kalian semua yang masih mempunyai keyakinan.! Tidakkah kalian dengar dengan apa yang baru saja dikatakannya? Itu merupakan penghinaan yang sangat mendasar pada keyakinan kita.

Petugas I:

Sudah jangan banyak mulut….. Kita bawa saja dia kepenjara.

Petuga II:

Benar katamu. Menarik paksa Orang I. Ayo murtad. Ikut dengan kami. Tempatmu bukan disini.

Sufi I:

Tidak… tidak, itu bukan penghinaan ataupun kemurtadan. Pernyataannya barusan merupakan puncak kepayangnya. Hatinya meluap-luap, hingga cinta menguasai akal.

Petugas II:

Kata-kata tidak bermakna. Sia-sia……

Sufi III:

Hai orang-orang, dengar. Petugas hukum ini telah menjebak dia untuk mengungkapkan rahasia hati. Adakah seorang ditangkap dan dipenjara karena mengungkapkan cinta terbesar? Dia ditangkap karena berbicara tentang kenyataan yang dihadapi negara ini. Kemiskinan, kemerosotan moral, penindasan, para penjilat, dan ketidakadilan. Dia ditangkap karena semata-mata memperhatikan kalian. Penangkapannya ini, merupakan pajak untuk bala tentara kemiskinan.

Si Pincang: berbisik pada Kusta dan Bungkuk.

Kurasa…… menunjuk pada Sufi III apa yang dikatakan orang itu benar. Petugas merupakan hamba-hamba sultan, jadi mereka sama sekali tidak punya urusan dengan pernyataan syeik tersebut. Dan lagi kita juga tidak merasa terganggu dengan pernyataan pribadinya.

Si Bungkuk:

Benar katamu. Ia juga tidak mengajak siapapun untuk mengikuti keyakinannya.

Si Kusta:

Syeik itu telah menunjukan jalan menuju perbaikan moral. Semua kata-katanya pada kita bukan suatu kekeliruan. Masalah pernyataan pribadinya, itu bukan urusan kita.

Sastrawan: berteriak penuh provokasi

Ya! Kedua petugas ini telah menggiringnya masuk jebakan mereka. Sebagai sesama orang tertindas, sebaiknya kita bersatu dan bangkit melawan.

Semua orang segera maju merangsek kearah petugas. Orang I berusaha mencegah terjadinya perkelahian.

Orang I:

Jangan… hentikan sahabat-sahabatku. Jangan mengkhawatirkan diriku. Aku yakin kalian percaya dengan kata-kataku. Ayo kembalilah! Tenangkan diri kalian. Biarkan hukuman menderaku karena kemurkaan kekasih yang disebabkan oleh cinta menyala-menyala.

Si Kusta:

Apa yang dikatakannya?

Sufi II:

Dia masih mengigau. Berbicara pada dirinya sendiri.

Pedagang:

Sudah jangan pedulikan kata-kata syeik itu. Lupakah kita pada perbuatan mereka menunjuk petugas yang bersembunyi dibalik pakaian dan dalil-dalil hukum untuk membodohi, menipu, menindas, dan memperkosa hak-hak kita?

Pedagang, petani, sastrawan, si pincang, si kusta dan si bungkuk segera merangsek kedepan dan memukuli kedua petugas. Karena kalah jumlah, petugas hanya mampu melindungi muka dan tubuh mereka dari pukulan dan tendagan. Sementara Orang I dibantu oleh tiga orang sufi berusaha melerai perkelahian tersebut. Perkelahian berhenti setelah semua pengeroyok merasa lelah.

Orang I:

Oh… para sahabatku, ternyata kalian tidaklah berbeda dengan mereka yang menggunakan kekuasaannya untuk menindas. Bukankah perbuatan kalian itu, juga merupakan penindasan kepada yang lemah? Terdapat sebagian dari mereka yang memang telah menghakimi kalian tanpa peradilan, tapi itu hanya sebagian. Maafkanlah, karena mereka juga manusia biasa. Kepada petugas. Bawalah aku ketempat seharusnya aku berada. Kedua petugas membawa Orang I. Berkata sendiri. Hukumlah aku karena telah mengungkap rahasia itu, mengingkari perjanjian kita. Janganlah Kau ampuni, hatiku tak mampu lagi menahan beban. Hukumlah aku layaknya seorang musuh, bukan sebagai kekasih menjatuhkan vonis kepada yang dicintai.

ADEGAN IV

Ruang tahanan. Terdapat dua orang yang sudah berada didalamnya. Petugas II mendorong Orang I masuk.

Petugas II:

Masuk dan bergabunglah dengan teman-temanmu. Orang I tersungkur, petugas II segera menutup pintu kemudian menguncinya.

Tahanan I:

Ada orang baru.

Tahanan II:

Hei lihat, apakah dia buta? Dia berjalan meraba-raba.

Tahanan I:

Ya, mungkin saja.

Orang I:

Wahai pemilik rumah ini. Berilah cahaya kepada tamuMu, hingga ia bisa melihat kemana dia melangkah.

Tahanan I:

Lebih baik dia meminta petugas membimbingnya.

Tahanan II:

Ya, tangan cinta petugas akan membantu tulang-tulang dalam tubuhnya berloncatan keluar.

Orang I: mengulang kata-katanya.

Tahanan I:

Aku mulai muak dengan orang ini.

Tahanan II:

Jangan sampai hatimu lemah gara-gara memikirkan dia. Siapa tahu, ia orang seperti kita. Dijebloskan kesini karena tidak berdaya menghadapi hukum yang diselewengkan. Bisa juga ia ikan teri yang dipersiapkan sebagai makanan kakap. Atau mungkin dulunya ia adalah serdadu usil, mengambil hak teman-teman dan komandannya, hingga mereka bersepakat membuangnya kemari.

Orang I:

Terimakasih wahai pemilik rumah…. cahayaMu telah datang. Mendekati tahananI dan II. Selamat malam teman-teman!

Tahanan I dan II tidak menjawab. Mereka justru saling berbisik.

Tahanan I:

Kini aku tahu siapa dia. Dari wajahnya, ia nampak seperti seorang khatib yang selalu mengutuk para pendosa tanpa pernah memberi alasan mengapa hal itu dikutuk dan berdosa. Orang-orang menanyakan kenapa, dan ia tak bisa menjawabnya. Karena itulah ia diejek, kemudian marah dan memukul mereka. Itulah sebanya dia bersama kita sekarang ini.

Tahanan II:

Bukan, dia seorang jaksa. Aku……..

Tahanan I: menyela

Lebih baik kita tanyakan langsung kepadanya. Tuan, apakah anda seorang jaksa?

Orang I:

Jaksa? Bukan, aku bukan seorang jaksa.

Tahanan II:

Guru?

Orang I:

Bukan juga. Bagaimana aku bisa mengajar, aku tidak tahu caranya.

Tahanan II:

Lantas siapa anda?

Orang I:

Aku adalah orang yang telah mengungkapakan rahasia.

Tahanan I:

Aku tidak mengerti. Kau?

Tahanan II:

Sama sepertimu. Pada Orang I. Apa pekerjaan anda tuan?

Orang I:

Bertafakur.

Tahanan I:

Seorang penyair?

Orang I:

Terkadang aku menulis puisi.

Tahanan I:

Apa anda membaca buku-buku klasik?

Orang I:

Sesekali.

Tahanan I:

Mempelajari alam semesta?

Orang I:

Suatu ketika, pernah juga aku menelitinya.

Tahanan I:

Anda pernah mengalami ekstase?

Orang I:

Dengan cahaya, selalu.

Tahanan I:

Berarti anda seorang guru suci?

Orang I:

Bukan, aku sama seperti kalian. Hanya seorang hamba.

Tahanan II:

Anda tidak ingin bertanya siapa kami?

Orang I:

Kalian adalah sehabatku. Teman dirumah persinggahan.

Tahanan II:

Apa artinya?

Orang I:

Kehidupan sementara disini. Maka ini hanya merupakan tempat kita bersinggah sementara waktu. Sekarang aku berada bersama kalian, karena telah mengungkapkan sebuah rahasia yang dimiliki oleh setiap orang namun tidak ada satupun yang boleh mengatakannya.

Tahanan I: kepada tahanan II

Kurasa ia orang baik. Kata-katanya memang tidak dapat aku mengerti, tapi sangat menyentuh hati.

Tahanan II:

Menurutku dia orang gila.

Tahanan I:

Tidak, dia orang baik dan suci.

Tahan II:

Tutup mulutmu tolol. Orang itu penipu gila.

Tahanan I:

Kau yang gila.

Tahanan II:

Memang susah memberikan pengertian kepada orang dungu.

Tahanan I:

Lebih susah lagi kepada orang keras kepala seperti keledai.

Tahanan II:

Kamu yang keledai dan membutuhkan tali pelana. Melompat kepunggung tahanan I.

Tahanan I: bergelut

Turun atau kulemparkan kau?

Tahanan II:

Kau tidak akan bisa melemparkanku, karena sekarang dirimu ada dibawah kuasaku.

Tahanan I:

Pergi dari punggungku. Kau menjerat leherku. Pengawal tolong! Tolong! Tolong!

Terdengar suara sepatu petugas berlari mendekat. Pintu tahanan terbuka.

Petugas II:

Siapa yang bikin gaduh?

Tahanan I:

Tidak tuan, saya dari tadi tidak mengeluarkan suara sedikitpun karena takut membuat anda murka dengan tersakitinya telinga tuan.

Petugas II: menunjuk tahanan II.

Kalau begitu kamu?

Tahanan II:

Tuan, saya sudah cukup lama tinggal disini. Jadi saya sangatlah tahu apa hukuman bagi orang yang membuat gaduh.

Petugas II:

Pasti kamu? Kepada Orang I. Belum semalam disini sudah berani bertingkah.

Orang I:

Bukan nak. Bukan aku yang membuat gaduh. Dari tadi aku hanya bicara pada diri sendiri dengan suara rendah.

Petugas II:

Suara rendah katamu? Bohong.

Orang I:

Aku tidak pernah berbohong.

Petugas II:

Jangan mendebatku. Petugas II mengayunkan pentungan ketubuh Orang I, namun ia sama sekali tidak mengaduh atuapun menjerit. Marah……. mengapa kau tidak berteriak kesakitan?

Orang I:

Bagaimana tubuh yang sudah menjadi mayat bisa merasakan sakit?

Petugas II:

Menjeritlah, agar aku berhenti memukulmu.

Orang I:

Pada akhirnya kamu akan lelah dan berhenti sendiri.

Petugas II:

Berteriaklah, aku tidak akan berhenti sebelum kau memohon minta ampun.

Orang I:

Maksudmu aku meminta ampun kepadamu? Suaraku tidak mampu menolongku.

Petugas II:

Menjeritlah. Memukul lebih keras. Aku bilang berteriaklah minta ampun. Kau menyiksaku dengan akting ketenanganmu.

Orang I:

Semoga Tuhan mengampuniku karena telah membuatmu menderita. Katakan, mengapa kau ingin aku menjerit dan apa yang mesti aku teriakan?

Petugas II:

Pandanglah aku dengan tatapan penuh ketakutan setiap kali pentungan ini memukul. Memohonlah pada Tuhan agar aku diberi umur panjang, dilimpahi kemakmuran dan selalu naik pangkat. Katakanlah sesuatu agar aku berbelaskasihan hingga berhenti memukul. Aku mohon…….. aku lelah….. aku lelah…. O syeik yang budiman betapa letihnya aku. Katakan padaku sipakah anda? Adakah engkau ini setan? Ah…. tidak mungkin. Anda pastilah malaikat? Siapapun kau, maafkan aku.

Orang I:

Aku berterimakasih padaMu, dengan hukuman ditubuhku, Kau membawa keadilan kemari, dengan cinta. Berdiri, berjalan sedikit menjauh dari pengawal. Pemenjaraan, siksaan dan semua penganiayaan yang baru saja aku terima telah membuka mata dan meyakinkan hatiku, bahwa Kau masih melihatku, Kau masih mengawasi. Aku masih penting dimataMu. Oh, alangkah beruntungnya aku.

Petugas II: mendekati Orang I

Jika hatimu tidak memandang rendah padaku, kumohon, ingatlah aku dalam setiap do’amu.

Petugas II pergi. Kedua tahanan mendekati Orang I

Tahanan II:

Maafkan kami syeik. Penjara telah mendatangkan hal paling buruk dalam diri seseorang.

Tahanan I:

Apa anda mengutuk kami?

Orang I:

Sebaliknya, aku berdo’a untuk meringankan kemalangan kalian.

Tahanan I:

Sebenarnya saya punya persoalan yang tidak dapat saya selesaikan sendiri.

Orang I:

Jangan merahasiakan sesuatu dariku nak.

Tahanan I:

Tapi saya khawatir anda tidak menghendakinya.

Orang I:

Justru hatiku akan semakin sakit, jika kau menyembunyikan sesuatu yang terkandung dalam hatimu dariku.

Tahanan I:

Mengapa anda disini?

Orang I:

Nasib nak, nasib…

Tahanan I:

Buka itu maksud saya. Tolonglah, saya tidak mempunyai kalimat yang lebih bagus untuk menyakan persoalan ini kepada anda.

Orang I:

Aku berada disini adalah untuk memenuhi apa yang sudah ditasbihkan.

Tahanan II:

Orang ini tidak membuat kita mengerti. Pada Orang I. Maksudnya adalah, apa yang menjadi dakwaan anda?

Orang I:

Mencoba membangkitkan kembali orang mati.

Tahanan II: mengejek

Apa kau juru selamat? Mahdi yang lain?

Orang I:

Tidak, aku tidak memeperoleh derajat setinggi putera Maryam. Tidak pula memperoleh kekuatannya atas manusia. Pun kemampuan untuk meniupkan nafas kedalam tubuh yang mati. Aku sudah puas dengan membangkitan kembali jiwa-jiwa yang mati.

Tahanan II:

Kau mudah terpuaskan.

Orang I:

Kau tidak memahamiku nak. Untuk menghidupkan kembali orang mati, kita membutuhkan derajat al Masih. Tapi untuk membangkitkan kembali jiwa-jiwa, kita hanya memerlukan kata-katanya.

Tahanan II:

Katakan padaku, bagaimana engkau menghidupkan jiwa yang mati?

Orang I:

Dengan kata-kata.

Tahanan II:

Apakah kau berkata “wahai kalian, jalankanlah perintahNya dan jauhi semua larangan. Tinggalkan dunia ini, dan berjuanglah untuk dunia yang akan datang, patuhilah penguasa walau ia menyemburkan darahmu, memotong lidah, dan mencongkel matamu untuk dijadikan hiasan diatas mahkotanya”. Itukah yang kau katakan?

Orang I:

Kau mengatakan padaku lebih dari apa yang seharusnya aku dengar. Terimakasih. Sewaktu-waktu aku berkata pada mereka “tinggalkanlah dunia yang korup dan busuk ini dan biarkan mimpimu menenun jubah hari depan”.

Tahanan I:

Hari kemudian dibuat dari mimpi?

Orang I:

Mimpi adalah benih dari kenyataan. Bagiku semua manusia sama. Mereka memilih dari kalangan sendiri siapa yang memerintah. Penguasa adil adalah seberkas sinar cahaya Ilahi yang menerangi bumi. Namun penguasa ingkar, merupakan tabir yang menutupi cahaya tersebut. Itulah ucapanku.

Tahanan II:

Kata-kata yang baik, namun sia-sia. Ucapan seperti itu mengingatkanku pada masa lalu yang penuh dengan kemarahan dan kebencian pada mereka yang membuatku kehilangan seorang ibu.

Orang I:

Ibumu telah meninggal?

Tahanan I:

Ya. Dulu, ibuku adalah seorang pembantu namun ia mempunyai keinginan kuat. Cita-citanya adalah bisa melihatku mengenakan jubah hakim ataupun jaksa, memegang tongkat kuasa gubernur, membawa buku tebal untuk mengajar disuatu universitas, atau melihatku menjadi syeik yang terpelajar. Namun penghasilannya, hanya cukup untuk makan aku atau olehnya. Uang yang didapat dibelanjakan untuk membeli makanan untuknya, setiap aku lapar, ia menyayat dagingnya untuk diberikan padaku sebagai makanan. Suatu hari ia sakit, tidak bisa berangkat bekerja dan akhirnya meninggal.

Orang I:

Semoga Tuhan mengampuni jiwanya. Lantas?

Tahanan II:

Tadinya aku mengira, ibuku meninggal karena rasa lapar yang mencekik. Tapi ternyata tidak, ia hidup bersama rasa lapar. Setiap pagi ia merasa sakit, memuncak di waktu siang dan menjelang malam tiba, iapun mati. Katakan padaku, apakah kata-katamu mampu merubah orang-orang yang memaksaku untuk memakan daging ibuku?

Orang I:

Mampukah kemarahanmu merubahnya?

Tahanan II:

Dengan itu aku ingin memperbaiki, sekaligus membunuh mereka.

Orang I:

Siapa yang ingin kau bunuh?

Tahanan II:

Penjahat.

Orang I:

Bagaimana kau bisa mengenalinya?

Tahanan II:

Dengan apa yang mereka perbuat.

Orang I:

Nak, apakah aku juga ingin membunuh orang yang memenggal leher musuhnya dalam perang membela keyakinan? Kau ingin membunuh perajam pezina? Perbuatan adalah sesuatu yang nampak, tapi bisakah kau melihat alasan dibalik perbuatan?

Tahanan II:terdiam merenung

Hhhhhhmmmmm…….. kata-kata anda benar juga. Anda adalah orang paling arif yang pernah aku jumpai, yang mencintai kemanusiaan demi kemanusiaan pula. Apakah anda tidak ingin melarikan diri?

Orang I:

Untuk apa aku melarikan diri?

Tahanan II:

Agar dapat mengangkat pedang, berjuang demi kemanusiaan.

Orang I:

Orang-orang sepertiku tidak membawa pedang.

Tahanan I:

Anda takut membawa pedang?

Orang I:

Aku tidak takut membawa pedang. Tapi khawatir dengan orang-orang yang mengambilnya. Karena pedang ditangan yang buta akan menjadi alat pembawa kematian yang buta pula.

Tahanan II:

Tidakkah kata-kata anda dapat membimbing sebilah pedang?

Orang I:

Anggaplah kata-kataku sama dengan bunyi tebasan pedang. Karena sampai sekarang tidak ada…. berhenti. Penuh kesedihan. Pedang yang mempunyai mata. Pedang yang dapat melihat.

Tahanan I:

Kenapa anda mesti bersedih? Janganlah berduka, keadaan mungkin akan membaik.

Orang I:

Aku tidak bersedih, hanya saja aku bingung. Bergumam. Apa yang harus kupilih? Apa yang harus kupilih?

Ketiganya terdiam dan tertidur. Lampu gelap kemudian kembali terang sebagai tanda pergantian hari. Ketiga orang yang berada dalam tahanan tersebut nampak duduk agak berjauhan.

Tahanan I:

Hari berganti hari. Tak terasa sudah beribu hitungan telah kita lalui, terkurung diruangan terkutuk ini.

Orang I:

Tabahlah.

Tahanan II:

Dalam ruangan sempit inilah aku serasa tinggal dirumah sendiri yang nyaman, tanpa pernah terusik oleh berbagai cerita memilukan. Diluar sana, semua orang menolakku. Kalaupun bisa keluar, aku akan menempati dunia yang jauh lebih sempit karena sudah tidak ada lagi tempat bagiku diluar walaupun bumi begitu luas. Setiap malam kita bercakap-cakap hingga saya merasa bahagia tinggal bersama anda. Apa yang dibutuhkan oleh manusia setelah ia memperoleh kebahagiaan? Tak ada lagi selain berusaha sepenuh hati untuk menjaga keadaan tersebut tetap harmonis.

Orang I:

Semoga kebahagiaan yang sedang kau alami tidak segera pergi meninggalkanmu…… tapi dunia ini tidaklah abadi. Tiba-tiba terdiam dan bicara sendiri. Tunjukan pilihanku…….. tunjukan pilihanku….

Petugas II masuk dan menunjuk pada Orang I

Petugas II:

Hari ini hakim akan memeriksa kasus anda. Ikutlah bersamaku untuk memenuhi yang sudah digariskan. Dan untuk kalian berdua, hari ini juga kalian dibebaskan dari segala tuduhan. Sultan memberikan kebebasan kepada kalian berdua.

Tahanan II:

Tapi mengapa hanya kami berdua yang dibebaskan sultan. Bukankah kami dan syeik tersebut sama-sama belum menjalani persidangan?

Tahanan I:

Terimakasih tuan petugas. Dan juga sampaikan rasa terimaksih yang sebesar-besarnya dari kami kepada sultan yang mulia. Berbisik pada tahanan II. Sudahlah, jangan banyak pertanyaan. Diluar sana, banyak hal bermanfaat yang dapat kita perbuat.

Petugas II:

Kalian ingin keluar atau membusuk dalam penjara ini?

Tahanan I&II:

Terimakasih tuan. Kami akan menuruti semua kehendak sultan.

Petugas II memasang borgol dan rantai pada kaki dan tangan Orang I, kemudian membawanya keluar tahanan diikuti oleh Tahanan I&II. Lampu panggung gelap perlahan-lahan bersamaan dengan keluarnya keempat orang tersebut.

ADEGAN V

Pengadilan. dua orang jaksa, seorang hakim dan seorang petugas menjaga pintu.

Hakim :

Dengan nama Tuhan yang mewahyukan kebenaran dan hanya kepada-Nyalah kita menunjukan keyakinan. Kita menyeru kepada-Nya agar diberi petunjuk dalam mencapai keadilan. Dan dengan ijin yang diberikan-Nya, saya atas nama Sultan membuka persidangan ini. Bertanya pada petugas penjaga pintu masuk. Mana manusia yang membangkang sultan dan Tuhan itu?

Petugas:

Dia sedang dibawa kemari melalui gerbang belakang yang mulia.

Hakim :

Mengapa harus melalui gerbang belakang?

Petugas:

Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan yang mulia.

Hakim :

Apa yang sebenarnya terjadi?

Petugas:

Salah seorang teman yang dulu dipenjara bersamanya, mengumpulkan orang-orang untuk menghadang iring-iringan pengawal dan ingin membebaskan dia.

Jaksa II:

Seberapa banyak?

Petugas:

Sekitar limaratus orang yang mulia. Langsung pergi meninggalkan ruang sidang.

Jaksa I: Berkata dengan lembut

Rasanya kita tidak perlu mengkhawatirkan orang-orang itu membuat kerusuhan, selama tidak ada yang memanfaatkan mereka. Mereka hanya kumpulan orang yang tidak tahu apa-apa, hanya ikut-ikutan saja.

Hakim :

Dasar gembel. Mereka lebih baik bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Buang-buang waktu saja. Untuk apa membela seorang pembangkang sultan sekaligus musuh Tuhan.

Jaksa I: Kepada hakim

Kita bertiga disini bertugas untuk mengadili perkara-perkara yang sudah jelas peraturannya. Kalau memang dia benar-benar berniat memberontak, marilah beri dia keadilan. Jika menyebarkan kesesatan berpikir pada khalayak, hukumlah dengan setimpal. Namun untuk menyebutnya sebagai musuh Tuhan, apakah anda dapat membuktikan? Bukankah hubungan antara Tuhan dan manusia adalah sebuah hubungan yang sifatnya personal dan amat sangat subyektif? Saya menjadi ragu untuk meneruskan persidangan ini.

Jaksa II:

Mengapa kau harus ragu? Bukankah kau sudah membaca semua berkas laporan dari tentara?

Jaksa I:

Ya, tapi aku khawatir ada rekayasa didalamnya. Ya……… rekayasa demi terus berlangsungnya kemapanan sebagian pihak. Aku tidak mempunyai keyakinan dan kemampuan jika harus menyidangkan kasus yang perkaranya menyangkut antara hubungan manusia dengan Tuhan. Aku takut kalau apa yang kita putuskan adalah sebuah kesalahan.

Jaksa II:

Apakah kita harus membebaskan dia?

Hakim:

Sultan telah menyerahkan kasus ini pada kita. Berdasarkan bukti-bukti dia adalah seorang pembangkang yang ingin menjatuhkan kekuasaan sultan.

Jaksa I:

Tapi dari berbagai kabar yang berhembus diluar, ia bukanlah pemberontak. Ia adalah seorang arif yang berteman dengan orang-orang miskin, sakit, menderita, dan tertindas. Ia berhasil membuat hati orang-orang tersebut hidup kembali. Apakah salah jika ada orang yang membantu kerajaan dengan jalan tersebut? Sudah selayaknya kita berterimaksih, bukan menghukumnya. Sepertinya kali ini kita dihadapkan pada kasus yang sulit.

Hakim:

Sulit?

Jaksa II:

Mengapa?

Jaksa I:

Ya! Disatu sisi ia adalah orang yang sangat dicintai rakyat karena telah membantu tercerahkannya hati mereka. Namun disisi lain ia dianggap sebagai musuh kerajaan yang harus dilenyapkan.

Jaksa II:

Kita akan menghukum mati dia?

Hakim:

Jika perlu.

Jaksa II:

Dengan alasan apa?

Hakim:

Menghasut masyarakat untuk melawan kepada pemerintah yang sah. Ia juga mengaku bahwa Tuhan berada dalam dirinya.

Jaksa II:

Jika benar ia menghasut rakyat untuk melawan pemerintah, kita memang harus menghukumnya. Namun untuk pernyataannya???? Ah…. memutuskan perkara seperti itu bukan menjadi hak kita.

Jaksa I:

Hanya Tuhanlah yang bisa memutuskan perkara seperti itu.

Hakim:

Tidak. Kita adalah wakil-Nya di bumi. Kita harus menjaga agama Tuhan dari penghinaan.

Petugas masuk dengan nafas terengah-engah

Jaksa I:

Apa yang membuatmu seperti itu?

Petugas: kepada hakim

Yang mulia, tentara kerajaan telah membunuh penghasut yang mengumpulkan orang-orang.

Hakim:

Lantas?

Petugas:

Orang yang semula tidak tahu apa-apa menjadi marah dan mulai membuat kerusuhan.

Jaksa II:

Apakah jumlah mereka semakin banyak?

Petugas:

Demikianlah yang saya dengar yang mulia. Karena tindakan dari tentara yang tidak mampu menahan emosi, telah membuat keadaan semakin tak terkendali. Sekarang kerumunan itu sedang menuju kemari.

Hakim:

Perintahkan kepada para petugas penjaga gerbang untuk menghalau semua orang yang ingin mengganggu jalannya persidangan ini. Dan segeralah kau melapor kepada komandan keamanan istana untuk menambah jumlah pasukan. Secepatnya, laporkan perkembangan situasi kepada kami.

Petugas:

Baik yang mulia. Pergi.

Jaksa I:

Ternyata tertuduh kita kali ini sudah mempunyai pengikut yang sedemikian banyak.

Hakim:

Orang-orang itu bukanlah pengikutnya. Mereka adalah orang-orang bodoh dan tidak tahu apa-apa, hanya terkena hasutan.

Jaksa I:

Penghasutnya telah terbunuh, seharusnya mereka menjadi takut untuk membela sesuatu yang tidak mereka ketahui. Tapi sekarang anda lihat sendiri kenyataannya!

Jaksa II:

Mungkin masih ada penghasut lainnya?

Jaksa I:

Sudah tidak mungkin ada penghasut didalamnya. Tindakan mereka sekarang ini merupakan tindakan yang dilatarbelakangi oleh emosi, karena melihat teman seperjuangan  dan senasib ada yang mati. Tentara juga tidak dapat sepenuhnya disalahkan, mereka adalah manusia biasa yang mempunyai perasaan sama seperti para perusuh.

Jaksa II:

Dan tidak sedikit orang yang memanfaatkan kerumunan rakyat untuk mencapai tujuan-tujuan sesaat.

Petugas masuk

Hakim:

Bagaimana?

Petugas:

Salah satu dari perusuh ada yang terbunuh lagi.

Jaksa II:

Dengan kerumunan orang-orang?

Petugas:

Separuh dari mereka lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri. Duduk dikursi.

Hakim:

Benar kataku, mereka tidak tahu apa-apa. Karena kebodohan, mereka bisa dimanfaatkan oleh orang-orang licik yang pandai membaca situasi untuk mengambil kesempatan. Kalau keadaan tetap begini, kehancuran tidak akan lama lagi. Kita harus mengusulkan pada sultan agar berani mengambil tindakan tegas pada para penggerak kerusuhan kali ini. Kerajaan ini dibangun diatas cucuran darah dan air mata dan jika diperlukan, dengan cucuran darah dan air mata pula kita mempertahankannya.

Jaksa I:

Beginilah jadinya kalau sebuah negara sebagian besar rakyatnya bodoh dan tertinggal, mereka akan sangat mudah digiring oleh orang pintar namun licik walau jumlahnya hanya segelintir untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya mereka sendiri tidak tahu untuk apa. Namun, tindakan tentara yang telah membunuh rakyat tak berdosa juga tidak bisa kita diamkan saja.

Orang I memasuki ruang sidang dengan tangan terikat didepan dan kaki dirantai. Dia dituntun oleh dua orang petugas yang menangkapnya

Petugas I:

Yang mulia, inilah tertuduh kita kali ini. Orang yang telah berani membangkang kepada sultan.

Jaksa I:

Lepaskan ikatannya.

Petugas II segera melepaskan ikatan dan rantai dikaki Orang I. Kedua petugas tersebut segera duduk dikursi yang telah disiapkan pengadilan.

Hakim:

Hai kamu yang mengaku sebagai orang bijaksana, tahukah kau mengapa kau berada disini?

Orang I:

Untuk memenuhi kehendak Tuhan.

Hakim:

Itu benar. Ia yang maha mengetahui juga telah meletakkan ukuran-ukuran keadilan melalui wahyu-Nya tentang kebenaran, perkataan dan tindakan utusan-Nya serta, ditangan berikut pedang kalifah kita yang bijaksana.

Orang I:

Anda benar tuan. Sudah tidak ada lagi keraguan kebenaran dalam Tuhan dan utusan-Nya. Namun kalifah juga manusia biasa yang mempunyai hak dan kewajiban sama dengan rakyatnya. Ia bisa menjadi pemimpin karena rakyat telah memilihnya, jadi seharusnya dialah yang menuruti kehendak rakyat bukan sebaliknya.

Hakim:

Kata-katamu penuh dengan hasutan.

Jaksa II:

Betul betul. Engkau bicara layaknya seorang pemintal benang yang berdebat dengan pekerja bangunan tentang penyakit aneh.

Orang I:

Ucapan anda tidak menarik hati saya tuan.

Jaksa II:

Kata-kataku akan menarik hatimu hai orang tua. Dengarkanlah baik-baik. Pemimpin kita, sultan! Tidak akan pernah rela menyerahkan satupun dari rakyatnya untuk mengadapi tiang gantungan ataupun pedang algojo sebelum kejahatannya benar-benar ditimbang menurut ukuran keadilan dan dinyatakan terbukti sebagai orang bersalah. Beliau sudah lama mencium perbuatan jahatmu menghasut masyarakat, meracuni mereka untuk melakukan pemberontakan dan bergabung dengan musuh pemerintah guna menggulingkan kekuasaan. Kau merusak tatanan yang sudah mapan dengan khotbahmu. Katakan padaku, apa maksud semua ini? Apakah kau menginginkan sesama rakyat dinegara ini saling menghunus pedang untuk ditebaskan keleher saudara mereka sendiri?

Orang I:

Sama sekali bukan itu maksud saya. Saya malah bertujuan agar rakyat yang sama-sama menderita dan sakit bisa saling melebarkan tangan cinta kasih mereka. Yang saya inginkan, rakyat lebih mendekatkan diri mereka pada pemilik ajal agar tidak takut dan mengeluh dalam menghadapi kesulitan yang dialami. Hukum negara ini adalah hukum buatan manusia yang bisa saja salah dalam menetapkan ukuran keadilan. Termasuk sultan. Bukankah sudah saya katakan bahwa sultan juga manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan?

Hakim:

Itulah sebabnya kau menentang penguasa yang mempunyai kebijakan dan hak istimewa. Apa yang kau inginkan? Kau ingin menjungkir balikan dunia hingga timbul tenggelam? Meletakkan tanggungjawab pemerintahan pada orang-orang bodoh untuk memerintah kami para cerdik pandai?

Jaksa II:

Kalau itu terjadi, kerajaan ini akan segera runtuh dan kiamat tidak akan lama lagi.

Jaksa I:

Yang mulia, apakah anda tidak ingin memberikan kesempatan pada terdakwa kita untuk mengadakan pembelaan? Saya rasa sudah cukup tekanan dan tuduhan yang telah anda berikan padanya.

Hakim:

Untuk apa mendengarkan gumam hasutan yang tidak berarti dan juga tidak akan mengubah apapun. Tuan-tuan!!! Biarlah pilihan keadilan saja yang didengar. Penjahat itu, biarkan dia membisu.

Jaksa I:

Anda telah mengemukakan kebenaran. Tapi kalau boleh, saya ingin minta ijin mengirim utusan keistana. Untuk meminta keputusan.

Hakim:

Apa kau takut darah pembangkang ini akan tersembur diatas kepalamu?

Jaksa I:

saya tidak takut bila darahnya harus tersembur diatas kepala saya atas nama hukum Ilahi. Tapi saya khawatir jika darahnya mengalir atas nama wewenang, sebab saya tidak yakin bahwa maksudnya adalah benar-benar untuk menyebarkan kejahatan dimuka bumi.

Hakim:

Tentara yakin akan hal itu.

Jaksa I:

Tapi saya belum pernah mendengar hal itu dari tentara.

Hakim:

Dengar!! Kita bukanlah pemeriksa. Kita adalah penuntut dan pemutus perkara, kaum terpelajar paling pintar pada masanya. Tentara, gubernur, sultan, mereka mengatur kelangsungan hidup negara dan sekali sebuah kejahatan ditetapkan maka tugas untuk menangani penjahat berpindah ketangan kita untuk mengadilinya sesuai dengan dalil-dalil hukum yang berlaku dan sah.

Jaksa II:

Tuanku. Aku setuju dengan engkau. Aku harus berkata jujur bahwa kau telah mengungkapkan pendapatmu secara retoris dan indah sehingga dapat membebaskan orang-orang seperti aku. Sekarang aku ingin mengetengahkan pendapatku. Siapakah kita? Dan apa tujuan dari sidang ini? Saya sependapat dengan anda kalau kita adalah orang-orang terpelajar. Sultan dan gubernur meminta pendapat kita mengenai masalah-masalah khusus. Kita harus merumuskan pendapat kita dengan perhatian besar. Siapapun yang menjadi tertuduh dihadapan kita itu bukanlah hal yang penting bagiku. Jika ada yang bertanya padaku “sarat-sarat hukum apa yang berlaku bagi seorang yang menyebarluaskan hasutan dan benih pemberontakan dimuka bumi?”. Aku akan menjawab kepada penanyaku, bukan kepada terdakwaku “inilah sarat-sarat hukumnya, mengenai orang yang menyebarkan hasutan dan menanam benih pemberontakan. Kaki dan tangannya harus dicambuk serta tubuhnya harus disalib dimenara”. Sidang langsung selesai.

Jaksa I:

Tidak, bukan begitu. Alasanmu tidak lebih dari sebuah plot kejahatan. Keputusan yang kita ambil disini adalah untuk menetapakan ukuran-ukuran keadilan, bukan menjadi momok. Keputusan kita hanyalah untuk menyelamatkan nyawa mahluk Tuhan agar tidak dicabut semena-mena kecuali atas pertimbangan keadilan. Kuda-kuda kekuasaan tidak akan mencapai tujuan dan maksudnya, sebelum ksatria-ksatria keadilan mengambil kendali. Maka dari itu, jika kau ingin mendorong para ksatria keadilan untuk jatuh dan berada dibawah telapak kaki kuda kekuasaan, lebih baik aku mundur saja dari sidang ini.

Hakim:

Apakah kau menyangkal bahwa sultan adalah wakil Tuhan dibumi?

Jaksa I:

Sultan adil ini…………..

Hakim: menyahut

Apa kau menolak sifat keadilan pada majikan kita, sultan?

Jaksa I:

Sebaliknya, saya ingin sifat keadilan ada padanya, karena keadilan bukanlah warisan padu yang diturunkan oleh si mati kepada yang hidup. Keadilan adalah sifat istimewa, sama seperti mahkota sultan yang juga merupakan benda istimewa. Keadilan adalah sikap terhadap suatu tindakan, ia adalah persoalan yang selalu diulang-ulang. Jika anda memperoleh ilham yang berupa sebuah jawaban. Maka jawaban tersebut juga akan melahirkan pertanyaan lain dan dengan jawaban yang lain pula ia akan terselesaikan. Demikian seterusnya. Keadilan menurutku adalah dialog fleksibel yang terus-terus berputar.

Jaksa II:

Bukankah kita sudah mempunyai catatan tertulis mengenai aturan tentang segala kejahatan berikut dengan hukumannya? Jika keadilan yang kita anut adalah sesuatu  yang sifatnya fleksibel dan terus menerus berputar, berarti kita akan memberikan hukuman yang berbeda-beda walaupun kejahatannya serupa?  Pemerkosaan tetaplah pemerkosaan, dengan alasan apapun perbuatan itu adalah sebuah kejahatan.

Hakim:

Keadilan, keadilan, keadilan. Kepada jaksa I Apa usulmu untuk menjadikan keadilan sebagai pemenang?

Jaksa I:

Saya mengusulkan agar kita mau mendengar pembelaan tertuduh yang duduk didepan kita dan menempatkan hati nurani sebagai wasitnya.

Hakim:

Hai orang tua! Sekarang katakan pembelaanmu.

Orang I:

Kalian bukanlah pengadilku, jadi aku tidak akan mengadakan pembelaan apapun didepan kalian.

Jaksa I:

Kau tidak usah membela diri, cukup katakan saja apa yang menjadi pemikiranmu. Jika apa yang kau katakan benar, kami akan mempelajarinya namun apabila yang kau katakan salah maka kami akan menunjukannya dan memberikan hukuman yang selayaknya padamu.

Orang I:

Apa kalian mau berjanji jika aku berkata benar maka kalian akan mengikutinya?

Hakim:

Apa kau merasa lebih pandai dari kami? Ooooo mungkin itulah sebabnya kau menyelewengkan banyak orang. Keras. Baik, jika apa yang kau katakan benar maka kami akan mengikutinya.

Orang I:

Aku adalah lelaki yang lahir dari rakyat kecil, miskin sejak lahir dan dari keturunan silsilahku tidak ada yang pernah mencapai langit. Demikian juga dengan keberuntungan, tidak pernah mengangkatku naik. Aku sama dengan ribuan anak miskin lain yang lahir dalam jutaan hari dimana kami harus menikmati kegetiran hidup yang ganas dengan tetap bersikap lembut. Aku tumbuh seperti mereka yang beranjak dewasa dengan memperoleh makanan dari roti matahari dan minum dari air hujan.

Sebagai anak muda aku menjelajahi jalan-jalan kehidupan dan memasuki lorong-lorong gelapnya. Dengan tanganku kunaungi diriku dari panas gurun yang membakar hari. Ketika berjalan pada gelap malam, mataku adalah satu-satunya obor yang kupunya. Pikiran kunyalakan terang diberbagai perpustakaan. Bertahun-tahun kuselidiki pengetahuan bagaimana seekor pemangsa menangkap buruannya. Dimulai dari mengintai, mengikuti, membuat rencana penangkapan kemudian lari mengejar dan berhasil melompat keatas tubuh mangsa serta mencengkeram lehernya sampai patah. Namun ternyata, mempelajari ilmu pengetahuan tidak dapat memuaskan dahagaku. Ia hanya menambah kebingungan dan kecemasanku.

Aku ingin mengetahui rahasia kehidupan: tujuan, awal, dan akhirnya. Dengan begitu ketakutan dan kecemasanku akan meninggalkanku. Aku bertanya pada orang terpelajar, mereka berkata padaku “meratap dan berdoalah pada Tuhan”. Ya! Sudah sekian lama aku tidak berdoa dan meratap memohon pada sang pemilik ajal, hidup, dan takdir. Akan tetapi kecemasan dan ketakutan kembali berhembus menusuk tulang-belulangku seperti angin gurun. Sesaat dalam sujudku, aku merasa bahwa yang kupuja adalah ketakutanku, bukan Dia. Apakah aku punya dua Tuhan? Karena ketakutan, telah menjadi Tuhanku pula? Setiap hari aku berdo’a. Aku lalu berpikir, untuk apa melakukannya? Mendapatkan syurga? Memperoleh surat ijin menjadi salah satu penghuni istana langit? Mendengar gemerincing ratna mutu manikam, dan bisikan bidadari berbaju sutra disana? Disini Tuhanku bertambah satu lagi, ya…. ketamakan juga menjadi Tuhanku yang baru. Terus-menerus aku berpikir, bagaimana caranya dapat memuja hanya kepada satu Tuhan.

Persis seperti kerinduan hebat gurun pasir untuk bertemu lebatnya hujan, aku berjumpa dengan seorang bijak yang mengajarkan padaku “cinta adalah rahasia keselamatan”. Dia memberi dan jiwaku menjadi lembut, pembuluh darahku mengembang dan keyakinan bersinar-sinar diantaranya, hidupku menjadi lebih muda, kata-kata dan pengetahuanku berbunga, dia menanggalkan bajuku dan memakaikan padaku jubah sebagai tanda bahwa aku adalah orang yang terpelajar.

Dia biasa berujar “kau akan menjadi kaya didalam kekasihmu, kau akan menjadi doa dan yang berdo’a, kau akan menjadi iman, majikan, sekaligus tempat peribadatnnya”. Maka akupun mencinta hingga aku benar-benar jatuh cinta. Kubayangkan sampai aku dapat melihat…… melihat kekasihku………. dan Dia menganugerahiku dengan kesempurnaan keindahan dan keindahan kesempurnaan. Aku memberinya kesempurnaan cinta, sampai aku larut dan benar-benar kehilangan diriku didalam-Nya.

Hakim: berteriak marah

Diam!!! Kau jelas murtad.

Jaksa I:

Bukan, itu bukan murtad. Itu adalah uraian tentang pengetahuan dan penglihatan mistik. Masalah seperti ini adalah masalah manusia dengan penciptanya. Hanya Tuhan saja yang berhak mengadilinya. Lebih baik kita tanyakan saja tentang alasannya menghasut masyarakat, sebab itulah kejahatan yang dituduhkan padanya. Bertanya pada Orang I. Apakah kau berniat menyelewengkan masyarakat?

Orang I:

Inilah apa yang terjadi padaku! Aku melihat kemiskinan bergulung-gulung dijalanan, menggerogoti jiwa orang-orang, sehingga aku bertanya pada diriku apa yang mesti kuperbuat? Haruskah aku menyerukan kepada khalayak untuk menghunus pedang kemarahan kemudian menusukkannya kejantung ketidakadilan? Jika itu yang kukatakan, betapa malangnya aku, menganjurkan melawan satu kejahatan dengan kejahatan lainnya. Yang kulakukan kemudian adalah menyeru pada ketidakadilan agar segera pergi. Tapi apakah sepatah kata dapat membuka hati yang tertutup rapat oleh gembok emas? Namun selain kata-kata, aku tidak punya apa-apa lagi. Maka biarlah angin mengembara membawa kata-kataku. Didalam harapan dimana hati mengalami dahaga hebat, aku mendapatkan kata-kata sebagai penyegar perasaan, dan menyebarkannya ketengah khalayak, bilamana ia telah memperoleh kekuatan, maka akan tercipta keseimbangan antara kekuasaan, pikiran, kearifan, dan tindakan.

Hakim:

Apakah mungkin dunia ini tidak akan menjadi gelap jika matahari telah terbenam? Mungkinkah kita bisa mengatakan “ini berwarna putih” sementara hitam tidak ada? Kau menginginkan kemiskinan terhapus?

Orang I:

Apakah kemiskinan? Kemiskinan bukanlah kerinduan rasa lapar terhadap makanan, dan bukan pula keinginan tubuh telanjang terhadap pakaian hangat. Kemiskinan adalah usaha menggunakan berbagai rintangan dan alasan untuk merendahkan martabat orang lain. Kemiskinan adalah ketakutan pemilik harta terhadap semakin berkurangnya harta mereka. Kemiskinan adalah perbuatan orang-orang lapar yang memakan daging sesamanya. Kemiskinan adalah sebuah kata yang selalu berteriak membencilah membencilah membencilah……. itulah yang saya kata katakan. Kemiskinan semacam itulah yang harus dilawan. Tidak ada sedikitpun tujuan saya untuk menghasut mereka agar mengangkat senjata.

Masuk dalam ruangan sidang utusan membawa surat dari menteri kerajaan

Utusan:

Maaf yang mulia, saya utusan wasir untuk membawakan surat keputusan kerajaan mengenai kasus tertuduh tersebut.

Menyerahkan surat kepada hakim. Kemudian ikut duduk bersama petugas yang membawa Orang I.

Hakim: membacakan surat keputusan kerajaan

Sultan menegaskan bahwa negara telah mempelajari perkara yang tengah disidangkan sekarang. Mengenai tuduhan bahwa dia menghasut warga negeri ini untuk memberontak. Semua tuduhan tersebut tidak dapat dibuktikan secara hukum dan dia dibebaskan sepenuhnya dari semua tuduhan yang menjeratnya.

Jaksa II:

Sungguh itu merupakan suatu keputusan yang sangat menggembirakan dari pihak kerajaan.

Hakim:

Sekalipun demikian wasir menambahkan “katakanlah kami mengabaikan hak sultan, kami diberitahu, bahwa tertuduh mengaku Tuhan menyatakan diri-Nya didalam dia, hal-hal yang seperti itu merupakan bisikan syaithan, penglihatan batin yang salah, dan jelas-jelas murtad. Karenanya aku meminta agar dia ditanya sehubungan dengan pandangannya yang murtad. Sultan bisa saja memberikan pengampunan pada sebuah kejahatan yang berhubungan dengan negara, akan tetapi Tuhan tidak akan mengampuni seseorang yang berdosa kepada-Nya.

Jaksa II:

Ya!! Itu juga tidak salah.

Jaksa I:

Itu jelas sebuah penipuan yang cerdik. Kau telah melilitkan jerat kelehernya karena kau takut jika dia bebas, ia akan menyebarkan kembali kata-katanya. Hukuman yang akan kau berikan padanya, itu bukan karena kejahatannya. Melainkan karena ketakutanmu terhadap hak-hak istimewa yang kau miliki sekarang ini akan terhapuskan seiring dengan semakin banyaknya rakyat miskin, sakit dan tertindas tercerahkan dengan kata-katanya. Kalian khawatir kalau gelimang kemapanan kalian akan hilang karena tuntutan persamaan hak dan kewajiban terhadap negara ini dari rakyat yang menderita. Apapun alasan kalian untuk menghukum tertuduh ini pastilah dilatarbelakangi hal tersebut. Sudah saatnya kita berbagi dengan yang menderita, bukan memaksa mereka untuk sampai pada derajat kita atau menambah kesakitan rakyat dengan mempertontonkan limpahan kemakmuran yang sebenarnya bukan milik kita sepenuhnya.

Jika kau ingin bertanya mengenai kepercayaannya, aku juga ingin menanyakannya. Bertanya pada Orang I. Kau percaya pada Tuhan?

Orang I:

Dia adalah pencipta kita dan hanya kepada-Nya kita kembali.

Jaksa I:

Ini adalah sebuah pernyatan yang cukup untuk mengungkapkan keimannya pada Tuhan.

Hakim: membentak

Jaksa, aku tidak mempertanyakan kepercayaannya pada Tuhan. Tapi caranya menjalankan kepercayaan.

Jaksa I:

Cara dia menjalankan kepercayaan? Memeriksa jiwanya maksudmu? Selama dia menjalankan kepercayaannya untuk dirinya sendiri tanpa mengganggu dan merusak tatanan yang sudah ada, itu bukan tugas pengadilan dunia.

Hakim:

Tapi dia telah menyebarkannya kepada masyarakat?

Jaksa I:

Yang dikatakannya kepada masyarakat adalah tentang kemiskinan, ketertindasan, ketidakadilan, penderitaan yang sakit, mimpinya mempunyai penguasa adil, serta dunia yang tidak korup dan busuk. Melawan sekaligus bisa menerima dengan sabar semua derita serta rasa sakit. Rakyat kita memang tidak begitu pandai, namun keyakinan tentang keimanan sudah tidak perlu lagi diragukan. Jika yang dikatakan adalah pernyataan mengenai keyakinan pribadinya, aku yakin ia pasti sudah lama mati dan kita tidak akan menyidangkan kasus ini. Pernyataan mengenai keimananya, adalah pernyataan untuk dirinya sendiri, sebuah pengalaman mistik dimana setiap orang pernah mengalami dan berbeda pula pengalamannya. Secara pribadi, aku juga menolak dengan pernyataan mistiknya. Namun aku tidak mempunyai hak sama sekali untuk mengadilinya. Jika suatu hari nanti dia mengajak orang-orang untuk mengikuti pengalaman mistiknya jelas itu meresahkan dan merusak tatanan, aku akan menjadi orang pertama yang menumpahkan darahnya dimuka bumi.

Hakim:

Kau tidak mau meneruskan perkara ini?

Jaksa I:

Tidak, ini adalah hak Tuhan dan merupakan hak-Nya semata-mata. Aku tidak memiliki keberanian untuk mempersoalkan masalah keimanan seseorang. Jika kau bersikeras menangani masalah ini,………….

Hakim: menyahut

Ya, kami akan terus menanganinya.

Jaksa I:

Kalau begitu lebih baik aku mundur saja dari persidangan ini.

Hakim:

Itu adalah hak anda.

Jaksa I meninggalkan ruang sidang sambil terus menerus bergumam. “ini bukan hak manusia”

Hakim:

Sidang ini tetap dilanjutkan. Membaca surat dari wasir. Ini tambahannya “aku mohon keadilan dan keputusan ditegakkan agar hanya mendengarkan saksi-saksi yang benar dalam kasus ini. Yaitu para saksi dan bukti yang telah dikumpulkan oleh tentara dan dibawa kepengadilan. Dengan begitu kalian tidak perlu membuang-buang waktu untuk menyelidikinya”. Kepada petugas. Petugas! Siapa saksi yang telah menunggu?

Petugas:

Seorang teman terdekatnya.

Jaksa II:

Suruh dia masuk. Kami membutuhkan keterangannya.

Tak lama kemudian Orang II  masuki ruang sidang. Hampir bersamaan dengan Orang II, berdatangan masyarakat yang ingin menyaksikan persidangan. Orang II memandang Orang I dengan tatapan mata penuh kesedihan, sampai-sampai ia tak mampu menahan air matanya mengalir. Ia mendekati Orang I, mengetahu sahabatnya menangis Orang I mengusap air Orang II.

Orang I:

Untuk apa kau menangis sahabatku? Tersenyumlah karena aku akan menjalani takdirku. Suatu hari nanti kau akan bercerita dengan bangga karena telah mengenalku. Air matamu tidak pantas mengalir untukku. Berikanlah seluruh kegembiraan, kesedihan, dan cintamu hanya untuk-Nya.

Orang II  berjalan menuju mimbar untuk mendengar pertanyaan dari hakim.

Hakim:

Kau mengenalnya?

Orang II  mengangguk.

Jaksa II:

Apa yang kau ketahui tentang dia?

Orang II:

Tuan, biarkan saya pergi. Orang-orang seperti itu menunjuk para petugas telah merenggut saya dari teman-teman, dibawa kemari dengan penuh siksaan dan hinaan.

Hakim:

Jika kau seorang yang mencintai keadilan, maka katakanlah sebenar-benarnya tentang yang kau ketahui.

Orang II:

Yang saya ketahui? Ini adalah sebuah perkara yang hanya berhubungan dengan pencipta, setiap manusia tidak bisa mencampuri perkara semacam ini.

Jaksa II:

Benarkah dia adalah temanmu?

Orang II:

Ya, dia adalah teman sekaligus guru kami yang paling dihormati.

Hakim:

Apakah kau mempunyai kepercayaan seperti dia? Bahwa Tuhan menyingkapkan diri-Nya kepadamu dan menyatakan diri-Nya didalam dirimu?

Orang II:

Setiap orang seperti kami, berbicara tentang pengalaman pribadi atau tetap membisu. Menunjuk pada Orang I dia menyaksikan yang menjadikannya terlalu larut dalam kegembiraan dan kebanggaannya, hingga mengigau dan bergumam. Yang dikatakannya mengenai keyakinan ditujukan untuk diri sendiri.

Hakim:

Apakah kau juga ingin mengatakan Tuhan menyatakan diri-Nya dalam dirimu?

Orang II:

Tuan, inilah yang dirasakan oleh kami para mistikus. Sebuah jiwa bersatu dengan penciptanya sebuah ruh membaur dengan Yang Lain.

Hakim:

Penghinaan. Katakan padaku itu benar ucapanmu atau hanya menirunya?

Orang II:

Tuan, hamba mohon kepada anda. Biarkan saya pergi, jangan jerumuskan saya kedalam siksa neraka. Saya telah berjanji untuk tidak mengungkapkan rahasia-Nya yang telah dilimpahkan dan tidak pula menceritakan pengalaman mistik yang saya alami. Ijinkan saya untuk menepati janji.

Hakim:

Lantas bagaimana dengan kata-katanya?

Syibli:

Hamba mohon, perbolehkan saya pergi!!!

Hakim: membentak

Pergilah!

Orang II berjalan keluar dengan lunglai, belum sempat ia meninggalkan ruangan sidang ia mendengar suara Orang I yang membuat langkahnya terhenti.

Orang I:

O syeik yang budiman….. jangan kau bersedih dengan apa yang menimpaku. Justru aku sangat bahagia. Aku terlalu larut dalam kebanggan pribadiku. Biarlah aku mendapatkan hukumanku disini. Tempat kematianku bukan berada di tanah kelahiran ataupun wafatnya manusia termulia yang menjadi panutan kita. Melainkan dalam agama penyaliban aku akan mati. Ya, dalam agama penyaliban aku akan mati.

Orang II semakin tidak mampu membendung air matanya. Ia berbalik dan memeluk Orang I erat-erat.

Orang II:

Maafkan aku sahabatku. Kita memiliki kepercayaan yang sama, tapi kegilaan telah menyelamatkan aku. Dan kecerdasan yang kau punyai akan menghancurkanmu. Maafkan aku!!!! Aku masih ingin hidup!

Orang I menatap mata Orang II dalam-dalam kemudian ia tersenyum dan mengangguk.

Orang I:

Sekarang pergilah. Besok kau tidak akan melihatku disini lagi. Aku akan lebih dahulu merdeka daripada engkau. Orang II melepaskan pelukannya, ia kemudian melangkah pergi. Seiring kepergian Orang II Orang I berujar layaknya orang berdo’a. Mata ini melihat dan menginginkan-Nya. Dia yang selalu melihat hati, tak pernah lenyap dari pandangan. Jika tidak bersua denganku, maka mengingatnya menjadi perlipur lara. Hatiku selalu melihat-Nya, walaupun ia telah hilang dari pendangan mata.

Hakim:bertanya pada petugas pengadilan, petugas penjara, utusan wasir, serta masyarakat.

Bagaimana menurut kalian? Ia berkata bahwa kemiskinan bergulung-gulung dijalanan, itu sama saja mengatakan penduduk kita kelaparan. Kata-katanya, yang menyebutkan bahwa tidak bisa membuka hati yang sudah tertutup rapat oleh gembok emas. Sama saja ia ingin mengatakan bahwa pemimpin-pemimpin kita, pejabat, pangeran, bahkan kalifah bertindak semaunya tanpa mau mendengar pendapat rakyatnya. Perlakuan layak apa yang harus diberikan pada penghina sultan dan seluruh pejabat kerajaan yang telah bekerja siang malam hingga tidak mempunyai waktu untuk keluarga dan diri mereka sendiri? Apa hukuman yang tepat kepada orang murtad yang menyatakan bahwa Tuhan menyingkapkan diri-Nya pada dia? Bahwa Tuhan menyatakan diri-Nya melalui diri orang ini?

Semua:

Mati, mati, mati!

Hakim: Kepada Orang I.

Baik secara langsung maupun tidak, sengaja atau tidak sengaja, kau telah menyebabkan keresahan dalam masyarakat. Kekacauan yang sekarang ini timbul, adalah sebagian dari tanggung jawabmu. Tidakkah kau sadar, bahwa rakyat yang percaya terhadap kata-katamu semakin menderita karena mereka harus berhadapan dengan tentara, hukum, hukuman, dan penjara? Inikah yang kau namakan pencerahan? Kepada khalayak. Wahai semua, ditangan kalianlah nasib orang ini kuserahkan. Pada pundak kalian hukuman tertuduh ini dipikulkan. Dia akan menjerumuskan kalian kepada penderitaan dan kesesatan. Kurasa semuanya pasti sudah tahu apa hukuman yang paling layak untuk dia. Hukuman apa yang setimpal bagi seorang penghasut, menyebabkan rakyat untuk lebih memilih membuat kekacauan mempertaruhkan nyawa demi sesuatu yang tidak mereka ketahui?

Semua:

Mati! Mati! Mati!

Hakim:

Semua keputusan aku serahkan pada kalian. Yang menghukum dia bukanlah negara ini, melainkan kalian. Kalianlah yang berhak untuk menumpahkan darahnya.

Orang I menjatuhkan dirinya  dan berucap.

Orang I:

Jika hatiku telah menampakkan cinta-Mu, maka kurela darahku dialirkan, setelah itu banyak hal yang menyenangkan, bertempat dalam jiwaku dan mengikuti hukum-hukumnya. Bukanlah aku yang menampakan kerahasiaan, melainkan mahligai kesenangan dalam hatikulah yang telah menampakan diri. Terpancar semua sinar jiwa atas semua rahasia-rahasiaku, maka nampak jelaslah apa yang telah bersembunyi. Apabila ada bertanya padaku, siapakah aku? Aku adalah kekekalan setelah semua keinginaku lenyap. Aku adalah kebenaran dalam sebuah kerinduan. Nampakah aku berlebihan? Bukan suatu hal yang mengherankan pabila aku sendirilah yang menyalakan api pembakarku, karena persediaanku adalah api cinta para perindu. Diantara hal yang menakjubkan adalah orang-orang yang aku cinta telah menggantung tangan-tangan kasih mereka.

ADEGAN VI

Tiang gantungan ditanah lapang dengan disaksikan banyak orang, Orang I melangkah dengan wajah sangat berseri-seri.

Algojo I:

Hai pendusta apakah kau mempunyai keinginan yang belum terwujudkan?

Orang I:

Sebentar lagi semua keinginanku akan menjadi kenyataan.

Algojo II: kepada temannya

Sudah, jangan banyak bicara lagi. Ayo, secepatnya kita laksanakan.

Kedua algojo memeriksa kembali tali ikatan pada tangan Orang I. Setelah semua dirasa benar, mereka memasukkan kepala Orang I  ke tali penggantung. Orang I tersenyum bangga sesaat setelah kepalanya kembali tegak didalam tali penggantung.

Orang I: berkata pada orang-orang

Barang siapa yang jiwanya haus akan Tuhan, dan memilih akal untuk menuntunnya, maka dia akan terseret pada kebingungan yang tiada tepi. Lalu kesadaran semakin menjatuhkannya dalam lubang sempit kesuraman serta berkata dalam kebingungan, “dimana Dia?”

Bergumam.

Jiwaku hanya berhasrat menyerahkan pada penderitaan yang menyebabkan aku serasa mati, karena kematian adalah kehidupan kembali dan hidup sejati tidaklah mengenal mati. Engkaulah satu-satunya arah mata jiwaku, pada-Mu aku muarakan nafas do’aku. Duhai harapanku! Dunia dan segala isinya sama sekali tak menggerakkan hatiku tergoda. Jiwaku menanggung derita api cinta, dan kutahu, hanya Engkau yang meniupkan derita batinku, aku yakin suatu hari nanti……., pasti akan terobati!!!!!

Penggantungan dilaksanakan. Lampu padam!

SELESAI

Saat Mata Terbuka

February 6, 2010

Kutulis semua resah dan sedih bersama rintik hujan beserta desau angin
Tentang pagi yang tak lagi bersahabat
Siang yang tak membawa semangat, dan
Ribuan malam berlalu tanpa keramat

Kusenandungkan lagu duka bersama air mata mengalir
Sebagai wujud nestapa anak bangsa
Karena kepentingan yang meraja
Sebab muak menyaksi segala kemunafikan dan tipu daya
Tiada henti memperkosa alam manusia

Sudah lirih petikan lebut dawai asmara
Terkikis habis hampir semua cinta
Senyum ceria disana terbakar api tiada

Menjadikan jalanan sebagai ibunda
Walau kekerasan mencumbu bagai teman lama

Perjalan puncak kesedihan akan kutuliskan
Suaraku kan menggema di batas akhir semesta biarpun parau nampaknya
Jutaan orang menipu diri, takut lalu lari

Berkaca aku mengenang pribadi lalu
Ketika berupaya ditengah badai ingin dan gejolak rindu
Meracuni atau teracuni aku tak pernah tahu
Namun, saat sadar bahwa hidup berjalan
Kenyataan telah memakan tumbal teman sepaham

(pengguna narkotika di Indonesia sudah lebih dari 3.8 juta orang dan 15.000 diantaranya meninggal setiap tahunnya. Lebih dari 4.000 anak-anak benar-benar hidup dijalanan jakarta dimana setiap saat kekerasan fisik dan phsikologis siap menerkam)