Archive for the ‘Cerita’ Category

Cintaku dan Cinta-Mu

February 26, 2014

Setelah mati dan bertemu Tuhan, seorang bijak berdialog dengan penciptanya.

Tuhan: Hari ini akan Aku berikan sedikit dari kekuasaanKu kepadamu.

Aku: Apa maksud Anda duhai Rajaku?

Tuhan: Akan Ku-anugerahkan kepadamu kekuatan dimana engkau bisa menentukan kapan kematian datang menjemput orang tua dan anak-anakmu. Dengan begitu, engkau bisa segera berkumpul dengan mereka di sini.

Aku: Benarkah yang anda ucapkan Rajaku tercinta?

Tuhan: Aku tak pernah ingkar pada ada yang Kuucapkan.

Aku: Maaf beribu maaf paduka yang mulia, hamba tidak bisa menerima anugerah tersebut.

Tuhan: Kenapa? Bukankah dengan apa yang akan Kuberikan padamu, engkau bisa menentukan kapan waktu berkumpul dengan orang-orang yang amat sangat engkau kasihi? ataukah kau menginginkan lebih dari itu?

Aku: Hamba sangat berterimakasih kalau Tuan ingin memberikan anugerah kepada saya, tapi rasanya hal itu tidak pantas untuk saya.

Tuhan: Baiklah kalau begitu. Aku akan memberikan padamu anugerah dimana engkau bisa menentukan kapan datangnya hari kiamat.

Aku: Hamba semakin tidak berani menerimanya.

Tuhan: Kau sudah berada disisiKu. Aku berikan anugerah yang sedemikian besar untuk ukuran manusia tapi kau menolaknya. Kau bisa menentukan kapan saja ingin berkumpul dengan semua orang yang kau kasihi dan sayangi di dunia, tapi kau menolaknya. Bukankah itu merupakan hal aneh bagi manusia yang tak pernah merasa puas dan selalu mengatakan “inilah hal yang terbaik untukku”.

Aku: Memang dengan anugerah yang hendak Engkau berikan, hamba bisa kapan saja berkumpul dengan orang-orang yang hamba kasihi. Namun cinta hamba tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan cintaMu kepada mereka!!!

Suamiku Terinveksi HIV (based on true story)

February 20, 2014

Perkenalan kami terjadi pada 2009 lalu. Saat itu, selepas maghrib, ia datang ke rumah bersama pamannya. Kebetulan sang paman ada kepentingan dengan orangtuaku.

Bagi orang dusun yang tinggal di pelosok Jawa Tengah, sebagai anak perempuan, kemudian aku membuatkan minuman kepada tamu orangtuaku. Saat itulah kali pertama aku melihat dia.

Karena pembicaraan antara pamannya dan orangtuaku sepertinyapenting, ia menunggu di luar rumah. Sebagai tuan rumah, aku lantas menemaninya. Tidak ada perasaan apapun ketika. itu. Kami berkenalan seperti biasa dan bertukar nomor telepon. Beberapa waktu kemudian, dia dan pamannya pamit.

Beberapa hari kemudian, ia mengirim SMS. Biasa saja, hanyabertanya kabar. Aku membalas SMS tersebut juga dengan pertanyaan bagaimana kabarnya. Dan sejak hari itu, kami intens berkomunikasi.

Bukan hanya SMS dan telepon, beberapa kali kami bertemu. Entah menjemputku pulang kerja dari pabrik atau mengajak bertemu di suatu tempat yang sudah kami sepakati bersama.

Aku lupa kapan pastinya. Tapi cinta mulai tumbuh di hatiku. Dan hal yang sama juga kurasakan dari caranya memperhatikanku. Kami salingjatuh cinta.

Dia sangat terbuka. Usia kami terpaut lima tahun. Dan dari mulutnya, aku tahu kalau dia pernah menikah. Istrinya meninggal pada 2005 karena sakit pada lambungnya.

Status dudanya tak menghalangi cinta kami. Orangtuaku juga sepertinya tidak mempermasalahkan hal itu.

Namun aku mulai merasakan hal aneh. Hampir dalam setiap pertemuan, dia berbicara mengenai HIV/AIDS. Hal sangat asing bagiku yang hanya lulusan SMA di pelosok desa.

Beberapa kali, dia juga sepertinya sengaja meninggalkan selebaran mengenai HIV/AIDS. Dari selebaran yang ditinggalkannya itulah, aku mulai mengenal apa itu HIV/AIDS.

Timbul pertanyaan, mengapa dia begitu fasih berbicara tentangitu. Jawabannya selalu sama, “kita harus waspada dengan itu. Kita harusbelajar mengenai cara pencegahan dan penularannya”. Dan aku percaya saja pada apa yang diucapkannya. Aku beranggapan, dia adalah orang yang peduli terhadap sesamanya. Itu menambah cinta di hatiku.

Tak terasa, sudah satu tahun kami menjalin hubungan. Meskipun duda, sama sekali dia tak pernah menyentuhku atau berniat macam-macam. Dia bilang, jika kita sayang dengan seseorang, kita harus menjaganya sebaik mungkin.

Sore itu, kami berjanji untuk bertemu. Dia bilang, ada hal penting yang ingin disampaikannya. Aku berpikir, dia akan mengajak menikah. Waktu itu, usiaku sudah 27 tahun. Usia yang matang bagi wanita desa untuk membina rumah tangga.

Ternyata apa yang kudengar bertolak belakang dengan keinginan. Yang dikatakannya adalah “Aku Positif HIV!!!”. Aku laksana tersambar petir. Langit bagaikan runtuh dan matahari menjadi gelap.

Laki-laki yang paling kucintai, terinfeksi HIV.

Mendengar itu, aku tak ingin berpanjang lebar. Aku langsung minta diantar pulang. Dengan tatapan berat hati karena sepertinya masih banyakyang ingin disampaikannya, ia menuruti kemauanku.

Sampai di rumah, aku terus bertanya-tanya. Mengapa baru sekarang dia mengatakan? Kalau dari dulu, tentu tak akan ada cinta sedalam ini. Dan mungkin, malah tak ada cinta sama sekali.

Waktu berjalan. Dia yang biasanya setiap hari menghubungi, kini tidak lagi. Ada yang hilang. Sisi hatiku kosong tanpanya.

Hari-hari itu, aku membaca lagi semua selebaran tenganHIV/AIDS yang ditinggalkannya. Aku mempelajari cara penularannya. Dari suami keistri, dari ibu ke anak, ternyata bisa dicegah. Aku mulai berpikir, untukmeneruskan hubungan.

Gayung bersambut. Sekitar tiga minggu setelah dia membuka statusnya, ia kembali menghubungiku dan meminta untuk bertemu. Kami kembali bersua.

Dalam pertemuan itu, dia berusaha meyakinkanku sekali lagi. Dikatakannya kalau dia tidak akan menularkan virusnya ke dalam darahku jika seandainya kami menikah. Untuk meyakinkan lebih jauh, ia mengajaku untuk datangke konseling VCT. Aku menyanggupinya.

Keesokan paginya, kami berangkat ke kota. Dia membawaku ke dokter yang biasa menjadi tempat konsultasi kaum ODHA di daerahku. Dijelaskannya berbagai hal tentang penularan dan pencegahan HIV bagi suami istri. Aku tercerahkan.

Beberapi kemudian, dia menyampaikan keinginannya untuk menikahiku. Setelah mendengar bermacam informasi tentang HIV, aku bersedia. Aku yakin, dia yang mencintaiku tak akan menjerumuskanku ke jurang.

Namun dia punya ide cukup gila. Sebelum melamarku, ia inginmemberitahukan statusnya kepada orangtuaku. Ini sangat berisiko. Orangtuaku adalah orang kampung yang sekolah hanya agar bisa membaca dan menulis. Tapi tekadnya sudah bulat. Aku menyerah.

Suatu hari, dia benar-benar datang ke rumah. Setelah sedikit berbasa basi, ia langsung menyatakan keinginannya untuk menikahiku. Orangtuaku tidak menolak selama aku mau.

Hal yang paling mendebarkan akhirnya dimulai. Secara terang-terangan, dia menyampaikan kalau dirinya positif HIV. Tentu saja orangtuaku kaget.

Namun yang paling mengagetkan adalah jawaban mereka.”Kamu sudah tahu banyak tentang informasi HIV. Tentu kamu tahu cara mencegahnya. Jika memang ini yang terbaik untuk kalian berdua, kami sebagai orangtua hanya bisa menuruti kemauan anak”.

Jawaban itu tentulah sangat mengejutkan sekaligus membahagiakan. Pada hari yang ditentukan, ia berjanji akan mengajak keluarganya untuk meminangku.

Setelah itu, ide gila calon suamiku belum berakhir. Dia ingin membuka statusnya kepada para tetangganya. Menurutnya, para tetangga sebenarnya sudah menduga-menduga kalau dia terinfeksi HIV. Hal itu dikarenakan pada 2006,dia sempat dirawat hingga empat bulan di rumah sakit.

“Mungkin waktu itu ada anggota keluargaku yang membocorkan statusku ke tetangga,” begitu katanya.

Benar saja, ia menceritakan statusnya kepada para tetangga. Mereka yang dulu hanya berani menduga, kini sudah mendapat kepastian.

Namanya orang desa, mereka heran kok bisa calon suamiku pulihdan kembali sehat padahal terinfeksi HIV. Berat badannya lebih dari 80 kilogram. Sedangkan saat baru keluar dari rumah sakit dulu, hanya 47 kilogram.Tetangga beranggapan ia sudah sembuh.

Dalam “diskusi” itu, ia menjelaskan kalau HIV tidak bisa sembuh. Dia juga menjelaskan mengenai cara penularan HIV. Virus itu tidak cukup menulari orang lain hanya dengan bersalaman, berpelukan, mandi di kali bersama, bahkan berciuman. Buktinya, keluarga dia tidak ada yang terjangkit meskipun hidup satu rumah selama bertahun-tahun.

Proses “sosialisasi” mengenai statusnya, terus berlanjut. Hingga dia melamarku, semua orang di kampungnya telah tahu kalau dia ODHA. Tak ada stigma lagi yang dirasakan. Acara kampung atau hajatan tetangga yang dulu selalu menganulirnya, kini tidak lagi. Dia selalu ada dalam keramaian di kampungnya. Keberaniannya berbicara telah membuat cibiran hilang.

Menjelang akhir 2010, kami menikah. Keberadaanku sebagai istrinya, semakin membuat stigma terhadap suamiku berkurang. Terlebih saat orang kampung tahu kalau aku negativ HIV.

Awalnya, semua orang bertanya kepadaku. Kok mau dinikahi ODHA? Tak takut tertular? Bagaimana nanti anak-anaknya? Dan sebagainya. Berbekal pengetahuanku yang pas-pasan, aku menjelaskan kepada penanyaku sebatas yang aku tahu dan aku rasakan. Mereka mengerti.

Kami sudah tiga tahun bersama. Kebahagiaan kami semakin bertambah dengan hadirnya anak pertama kami.

Sebagai istri ODHA, sekali dalam tiga bulan aku rutin memeriksakan diri. Hingga saat terakhir memeriksakan diri, hasil tesku selalu negativ.

Menjelajah Nusakambangan, Pulau Super Maximum Security

February 20, 2014

Hari masih pukul 07.00 pagi, Jumat (7/2) di Dermaga Wijaya Pura, Cilacap, Jawa Tengah telah dipadati orang-orang yang ingin menyeberang ke Pulau Nusakambangan. Sebagian besar dari mereka adalah petugas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan. Wijaya Pura, adalah dermaga khusus yang melayani penyeberangan menuju Dermaga Sodong, Nusakambangan Cilacap. Sodong merupakan pos pertama sebelum masuk ke komplek Lapas Nusakambangan.

Sebagian besar kita, tentu pernah mendengar nama Nusakambangan. Ya, di pulau selatan Cilacap ini memang berdiri beberapa Lapas. Yang paling terkenal adalah Lapas Batu dan Lapas Pasir Putih. Beberapa warga binaan atau Narapidana (Napi) kelas kakap pernah merasakan dinginnya lantai Lapas Nusakambangan.

Sebut saja Tomy Soeharto, Bob Hasan, Jhony Indo, Imam Samudra Cs, Ryo Martil, Fredy Budiman dan masih banyak lagi pernah menghuni Lapas Batu. Sementara di Lapas Pasir putih, Abu Bakar Ba’asyir, Syailendra, dan Gunawan Santosa kini tercatat sebagai penghuni Lapas yang masuk kategori Super Maximum Security (SMS).

Namun tak banyak yang tahu kalau di Nusakambangan terdapat tujuh bangunan Lapas. Selain dua Lapas tersebut, secara berurutan terdapat Lapas Terbuka, Lapas Narkotika, Lapas Permisan, Lapas Besi, dan Lapas Kembang Kuning. Beberapa waktu lalu, dalam sebuah tugas peliputan saya merasa beruntung ketika bisa melihat dekat seluruh Lapas di Nusakambangan.

Dari tujuh lapas di Nusakambangan, ternyata hanya Lapas Batu saja yang masuk kategori Kelas I. Dan Kalapas Batu, saat ini adalah Liberti Sitinjak, adalah koordinator Kalapas lain di Nusakambangan.

Bukan perkara mudah untuk masuk ke Nusakambangan. Di pos jaga Dermaga Wijaya Pura, semua harus diperiksa. Setelah mengisi buku tamu ditanya tentang kepentingannya, dan meninggalkan identitas, saya baru diperkenankan ke kapal yang telah tertambat. Sebelumnya, petugas di sini memberikan kartu tamu yang khusus diperuntukkan bagi insan pers.

Perjalanan dari Dermaga Wijaya Pura ke Dermaga Sodong, memakan waktu sekitar 15 menit. Di sini, saya kembali lapor ke Pos Sodong. Setelah memperlihatkan kartu tamu yang menunjukkan saya adalah awak media, petugas meminta untuk mengisi buku tamu. Selesai dengan semua perijinan, barulah saya diperkenankan masuk ke dalam komplek Lapas Nusakambangan.

Satu-satunya sarana transportasi bagi “orang luar” hanyalah bus yang antar jemput petugas Lapas yang terparkir di Sodong. Bus ukuran 3/4 ini cukup nyaman karena dilengkapi dengan pendingin udara.

Begitu bus berjalan, pemandangan yang jarang Tribun temui terhampar. Di sisi kanan tampak birunya air Segara Anakan. Sementara di sebelah kiri, alang-alang yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa tumbuh liar.

Bangunan pertama yang tampak adalah sebuah pos polisi. Di sini, beberapa petugas kepolisian dari Polres Cilacap berjaga 24 jam penuh.

Sekitar lima menit perjalanan, suasana Nusakambangan “sebenarnya” mulai terasa. Betapa tidak, di kiri kanan hanya ada ilalang tinggi dan pohon-pohon besar mengapit jalan aspal dengan lebar sekitar empat meter.

Walaupun jalan di sini terbilang mulus, namun arus lalu lintas sangatlah sepi. Praktis, pengguna jalan ini hanyalah pegawai Lapas. Selama perjalanan sejak Sodong hingga Lapas Batu selama sekitar 30 menit, jumlah kendaraan dari arah sebaliknya bisa dihitung dengan jari.

Namun demikian, banyak rambu-rambu lalu lintas terpasang. Setiap menjelang ada tikungan tajam, tampak selalu didahului dengan rambu peringatan.

Kondisi malam di Nusakambangan memang sangat mencekam. Penerangan jalan terpusat di Lapas. Di kiri kanan jalan, sama sekali tidak terpasang penerangan jalan umum.

Jarak dari satu Lapas ke Lapas lainnya juga lumayan jauh. Jarak terjauh, antara Lapas Terbuka ke Lapas Batu. Sekitar 15 menit perjalanan.

Cerita mistik tersebar di setiap Lapas. Khususnya bagi mereka yang bertugas jaga malam. Petugas di Lapas Batu, Panji satu di antara pegawai Lapas yang pernah “diganggu”.

“Waktu jaga di pos, seperti digoyang-goyang gitu. Tapi yang pasti, hampir semua mendengar suara orang berjalan dengan sepatu PDL. Ketika ditengok tidak ada apa-apa,” demikian katanya.

Namun bagi penjaga Lapas, hal semacam itu dirasakan biasa. Tuntutan tugas mengharuskan mereka membuang semua rasa takutnya.

Demikian juga dengan petugas lainnya, Tiyong. Semangat tugas, mengalahkan segala ketakutannya. Ia selalu memenuhi kewajiban sebagai petugas Lapas walaupun terselip rasa takut saat hendak berangkat kerja.

Dikisahkannya, saat kali pertama Lapas Pasir Putih digunakan pada 2008, warga asli Nusakambangan ini diperbantukan di Lapas tersebut. Sedangkan rumahnya terletak di dekat Lapas Batu. Jaraknya sekitar 10 kilometer.

Waktu itu, kondisi jalan di Nusakambangan belum sebagus saat ini. “Jalannya sudah aspal tapi terkelupas. Jadi harus benar-benar hati saat berkendara. Di samping itu, jujur, takut juga. Sepanjang jalan tak berhenti baca doa. Namun demi tugas, setakut apapun harus berangkat,” terangnya.

Ia bersyukur, walaupun banyak mendengar cerita tentang penampakan di Nusakambangan, dirinya tak pernah melihatnya. “Tapi kalau binatang buas, ular sanca ataupun kobra, biasa,” sambung dia.

Selain cerita mistis, di Nusakambangan juga banyak menyimpan cerita tentang banyaknya binatang buas. Mulai dari landak, ular, babi hutan, bahkan macan kumbang dan macan tutul.

Kalapas Pasir Putih, Tejo Harwanto mengatakan, sejak bertugas di Nusakambangan ia telah empat kali berpapasan dengan hewan buas. Tiga kali berjumpa macan kumbang dan sekali berpapasan dengan macan tutul.

Ia paling ingat saat berpapasan dengan macan tutul beberapa waktu lalu. Malam itu, ia hendak pulang menuju rumah dinasnya. Setelah melewati pos polisi ia melihat seekor macan tutul menyeberang jalan.

Melihat macan tutul, Tejo memperlambat laju mobilnya. Kucing besar ini pun berlalu. Namun tak lama kemudian, macan tutul itu keluar dari semak-semak.

“Macan itu kembali dan melihat ke arah saya. Begitu melihat saya dan tahu saya Kalapas Pasir Putih, ia (macan tutul) takut lantas kembali masuk ke hutan,” katanya berkelakar.

Beberapa hari di Nusakambangan, saya berkesempatan menjelajah pulau ini. Dulunya, di Nusakambangan terdapat sembilan Lapas. Namun saat ini, lima Lapas di Nusakambangan telah menjadi kenangan. Masing-masing adalah Lapas Geliger, Lapas Karangtengah, Lapas Limus Buntu, Lapas Nirbaya dan Lapas Karanganyar. Sedangkan tiga lapas (narkotika, terbuka, dan pasir putih) adalah bangunan baru.

Menurut keterangan pegawai senior di Lapas Batu, Bambang Purwatno, bekas Lapas lama yang bisa dilihat saat ini tidak banyak. Hanya sisa-sisa bangunan Lapas Limus Buntu saja yang masih tampak jelas.

Bekas bangunan Lapas Limus Buntu terletak tepat di belakang pos polisi Nusakambangan. Masih tampak tembok bekas Lapas yang sudah dipenuhi lumut. Karena sudah tak digunakan, bangunan Lapas ini pun tak terawat sama sekali.

Sisa bangunan Lapas lainnya yang masih bisa disaksikan adalah Lapas Nirbaya. Namun, bagi siapa saja yang ingin melihat sisa-sisa Lapas yang dibangun 1969 ini harus menempuh medan berat. Mengendarai sepeda motor trail, bersama Bambang, Tribun diantarkan ke puing-puing Lapas Nirbaya.

Dari Lapas Batu, untuk menuju Nirbaya mengambil arah ke Dermaga Sodong. Beberapa ratus meter dari Lapas Batu, mengambil arah ke selatan masuk ke dalam hutan. Jalan langsung menanjak dan berbatu.

Semula jalan yang dilalui cukup lebar. Namun, semakin masuk ke hutan, lebar jalan kian menyempit. Sisi kiri kanan jalan, ilalang tumbuh setinggi lutut orang dewasa. Rimbunnya ilalang dan belukar, membuat lebar jalan hanya seukuran ban sepeda motor. Praktis, cuma di beberapa titik saja lebar jalan bisa digunakan untuk mendahului kendaraan di depan.

Saat berkendara juga harus ekstra hati-hati. Terkadang, ranting-ranting pepohonan besar tumbuh liar hingga melintang di tengah jalan. Tribun dipaksa harus menundukkan kepala dalam-dalam setiap melintas di bawah ranting-ranting liar.

Sekitar 30 menit berjibaku dengan jalanan terjal, Bambang yang memandu Tribun menghentikan kendaraannya. Tribun melihat sekitar lokasi, namun sama sekali tak tampak ada bekas bangunan. Hanya rimbunnya pepohonan di tengah hutan Nusakambangan.

“Di sini tempatnya. Saya menghabiskan satu tahun masa kecil di sini. Kebetulan pada 1969, ayah saya ditugaskan di Nirbaya,” kata Bambang.

Bambang kemudian menyibak lebatnya ilalang menggunakan sebuah parang. Setelah itu, barulah tampak sebuah prasasti besar setinggi lebih dari tiga meter bertuliskan Nirbaya dengan huruf kapital.

Sisa keangkeran Lapas khusus tahanan politik ini tak bisa lagi disaksikan. “Bangunannya ada di bawah. Tapi sudah hampir pasti tak ada lagi,” terang Bambang sambil menunjuk lebatnya hutan yang kini tumbuh di atas bekas areal Lapas Nirbaya.

Dulu, kisahnya, bangunan Nirbaya berbentuk semi permanen. Hanya bagian pondasi dan sedikit ke atas saja yang merupakan bangunan permanen. Sedangkan sebagian besar tembok, menggunakan papan.

Saat Lapas masih beroprasi, jalan menuju Nirbaya cukup lebar bahkan untuk dilalui truk sekalipun. Menurut Bambang, waktu masih tinggal di Nirbaya, ada mobil yang datang untuk menjemputnya ke sekolah setiap pagi.

“Mobil terpusat di (Lapas) Batu. Setiap pagi menyebar ke seluruh Lapas lain untuk menjemput anak-anak sekolah,” jelasnya.

Lantas bagaimana kondisi bekas Lapas lainnya? Bambang mengatakan, keadaan bekas Lapas lain tak berbeda jauh dengan Nirbaya. Tribun tidak sempat mengunjungi bekas Lapas Karang Tengah, Karanganyar, dan Geliger karena akses jalan yang sulit.

Menurut pegawai senior di Lapas Batu lainnya, Priyono Slamet, pada 1986 ada kebijakan untuk menggabungkan Lapas. Karena itulah, lima Lapas tersebut akhirnya dikosongkan. Alasannya, jelas Pri, karena akses jalan ke lima Lapas tersebut yang cukup jauh dan sulit.

Jumlah Lapas yang semakin sedikit, turut andil dalam berkurangnya berbagai fasilitas. “Dulu ada rumah sakit, sekolah, dan lainnya. Tapi saat ini itu sudah tidak ada lagi,” tuturnya.

Penjelajahan tidak berhenti sampai di bekas bangunan Lapas semata. Saya pun kemudian mengeksplor sisi barat dan selatan Nusakambangan. Di sini, sekitar 100 meter dari Lapas Pasir Putih, terdapat sebuah pantai nan indah.

Sebelum masuk ke kawasan pantai, berdiri gapura bercat merah. Di bagian atas gapura, tampak sebuah tulisan “KOMANDO”. Di tempat inilah anggota baru Komando Pasukan Khusus (Kopassus) melakoni pembaretan.

Begitu masuk ke areal pantai, beberapa pulau karang berdiri kokoh. Birunya air dan ombak besar bergulung-gulung menghantam pulau karang memecah kesunyian.

Di sebuah pulau karang di sisi timur, terdapat sebuah tugu berbentuk pisau komando. Selain pisau, di pulau karang ini ditumbuhi sebuah pohon kelapa. Tinggi tugu pisau komando dan pohon kelapa tak jauh berbeda. Di pulau karang lain, terdapat tugu lain berbentuk pohon beringin yang merupakan simbol Kementerian Hukum dan HAM. Di bagian bawah tugu ini tertulis “Kementerian Hukum dan HAM Lembaga Pemasyarakatan”.

Tuhan, Aku Cemburu

July 2, 2011
Matahari kemerahan menuruni kaki langit. Sisa kahangatannya menyapu permukaan air laut yang tampak pula berganti warna. Mega-mega perlahan berubah gelap. Laksana domba di padang pasir, ia bergerak perlahan mengikuti angin yang menerbangkannya.
Debur ombak terpecah ketika menghantam karang. Pun demikian dengan semilir angin yang membuat pucuk kelapa terlihat menari. Angin itu pula yang membuat rambut panjang Nadia berkibar tak beraturan. Namun karenanya, gadis duapuluh lima tahun tersebut semakin tampak menawan. Angin yang terkadang membawa pasir, membuat gadis berkulit putih ini menutup mata. Saat itu betapa bulu matanya yang lentik terlihat menyempurnakan wajahnya. Dibalut pakaian serta rok panjang warna hitam, ia berdiri mengahadang angin. Jemari lembutnya memegang sebuah telepon genggam. Sesekali, matanya melihat ke layar telepon, bibirnya tersenyum, dan jemari lentiknya lincah mengitik di keypad.
Rona wajahnya kadang bersemu merah, dan tidak jarang pula, bibirnya terlihat cemberut, walaupun sinar matanya tidak bisa berbohong, betapa saat itu ia hatinya tengah berbunga. Tiba-tiba telepon di tangannya berdiring.
Sepertinya ia ragu untuk menjawab telepon itu. Beberapa saat kemudian, telepon itu pun mati. Muncul raut wajah menyesal. Namun kembali telepon itu berdering, tanpa pikir panjang, ia mengangkatnya. “Aku di pantai. Di tempat biasa. Aku tunggu kamu di sini,” tanpa menunggu jawaban Nadia menutup telepon, dan tersenyum puas.
Sekitar 20 menit kemudian, dari balik gundukan pasir, berjalan seorang pria mengenakan jaket jeans. Celana panjang hitamnya sudah robek di sana sini. Sandal jepit, tas kusam serta sarung tangan kelam menempel jadi asesoris di tubuhnya.
Sambil menyalakan sebatang rokok, mata tajam pria itu terus memandang Nadia yang tidak mengetahui kedatangannya. Langkah kakinya terhenti, seperti ragu untuk berjalan lebih dekat lagi. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Nadia membalikkan wajahnya.
Kedua mata itu saling beradu pandang. Mereka hanya saling pandang untuk beberapa lama, tanpa ada suara dan usaha untuk mendahului menyapa. Beberapa saat, mereka berdua terlihat laksana patung. Hanya desah nafas dan tatapan mata berbinar. Setelah beberapa lama, sang pria berjalan mendekat.
Langkah kakinya terlihat berat dan ragu. Tidak seperti ketika ia muncul dari bukit pasir. “Apa kabarmu Nad?” Tanyanya.
“Aku baik-baik saja. Sudah hampir empat tahun tak bertemu. Kau masih sama. Bagaimana denganmu Bim?”
“Sama sepertimu Nad. Empat tahun ini aku memang tidak pernah berkunjung ke kota kesini,”
Pria bernama Bima itu lantas duduk di samping Nadia. Keduanya tampak kaku, banyak yang ingin mereka ungkapkan dan tanyakan. Namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
Hampir setengah jam, Bima dan Nadia diam seribu bahasa. Hanya terkadang kedua mata mereka saling bertemu ketika sama-sama mencuri pandang.
“Nad,”
“Bim,” Bersamaan.
Mereka kemudian saling tertawa lepas. “Ada apa kamu memintaku untuk ke sini Nad?”
Gadis ayu ini tidak segera menjawab pertanyaan Bima. Ia menghela nafas panjang. Matanya kosong menatap pantai. Mata bening itu, perlahan-lahan memerah. Bima yang mengetahui kejadian itu segera berucap.
“Lebih baik aku pergi saja Nad. Aku salah telah memberitahumu tentang kunjunganku ke kota ini,” Bima berdiri hendak melangkah pergi.
Tiba-tiba secara reflek, tangan Nadia memegang lengannya, dan seolah tak ingin ia beranjak dari situ. “Duduklah Bim. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu,” pinta Nadia.
Bima pun kembali duduk di samping Nadia. Rokok yang semula sudah masuk ke saku jaket pun dikeluarkan lagi. Namun belum sempat ia menyalakan rokoknya, tangan Nadia sudah lebih dulu merampas rokok yang sudah menempel di bibir Bima.
“Itu yang kusuka sekaligus kubenci darimu. Tapi baiklah,” kata Bima sambil tertawa dan memasukan rokok serta koreknya ke dalam saku jaket.
“Apa yang hendak kau bicarakan Nad? Besok pagi aku pulang ke Jakarta,”
“Kita bicara di sana saja,” ajak Nadia kepada Bima untuk mendekati bibir pantai. Tanpa menunggu jawaban, Nadia menarik tangan Bima.
Mau tak mau, Bima mengikuti. Keduanya lantas berjalan ke arah barat. Seolah ingin mengejar matahari yang sebentar lagi hilang ditelan lautan. Nadia seolah tidak merasakan gelombang yang menjilat kakinya hingga lutut. Demikian juga Bima, ia hanya menggandeng tangan gadis tersebut seolah tak mengetahui bahwa mereka sudah jauh melangkah dari tempat semula.
Cukup lama berjalan, seolah ada yang memerintahkan, mereka berhenti di depan sebuah batu karang hitam. Beberapa kejapan mata, keduanya lantas tersenyum bersamaan.
“Kamu ingat apa yang terjadi di sini beberapa tahun lalu?” Nadia membuka pertanyaan.
“Kamu menolakku untuk pertama kalinya. Tapi di tempat ini pula kau mau menerimaku. Dan di tempat ini pula kita memutuskan untuk berpisah,” sahut Bima. “Untuk apa kau mengajaku ke tempat ini Nad?”
“Mengulang masa lalu Bim. Tidak ada yang lebih indah dari tempat ini. Aku terpuruk, bangkit dan kembali terpuruk di tempat ini,”
“Lupakan itu Nad. Itu sudah jadi masa lalu kita. Bukankah kau yang memutuskan kita untuk berpisah? Sudahlah, mari kita pulang,” ajak Bima.
Nadia seolah tak mendengarkan ajakan Bima. Ia lantas melangkah menjauh dari bibir pantai. Di atas hamparan pasir putih, di bawah siraman cahaya emas matahari, gadis ayu ini kemudian terduduk lesu.
Ia menekuk kakinya, meletakan dagu di atas lutut sementara kedua tangannya memeluk kaki yang terbungkus rok panjang yang basah karena air laut. Bima kemudian melepaskan jaketnya dan menyelimutkannya pada Nadia. Ia lantas duduk bersila di sebalah kanan Nadia dan menggunakan tangan kanannya untuk merengkuh tubuh sang dara.
“Aku baik-baik saja Bim. Kau pulanglah dulu. Bukankah kau butuh istirahat?”
“Kau tak pernah baik-baik saja. Paling tidak selama aku bersamamu sore ini. Aku tahu apa yang kau inginkan Nad. Tapi….”
“Kenapa harus ada tapi? Bukankah kaupun masih sama seperti dulu?”
“Iya Nad. Bahkan yang aku rasakan jauh lebih dari itu. Tapi ini bukan sekadar permasalahan rasa. Kamu tahu itu,” Bibir Nadia tampak bergetar.
Matanya yang bening melirik ke arah Bima, terlihat mulai memerah. Perlahan-lahan, air mata menetes perlahan jatuh ke sudut pipinya. Sadar akan hal tersebut, Bima pura-pura tidak melihatnya. Walaupun sebenarnya, ia sangat ingin mengusap air mata itu. Isak tertahan Nadia terdengar perlahan.
Bima tetap seakan tak mendengarnya. Ia hanya memeluk tubuh mungil Nadia lebih dalam hingga kepala yang ditumbuhi rambut lebat tersebut tersandar di bahunya.
“Maaf Nad, aku tidak membawa tissu. Menangislahh jika itu bisa membuat hatimu lega,”
“Ternyata kau tak lebih dari seorang penakut Bim. Apakah kau sengaja membalas apa yang kulakukan terhadapmu beberapa tahun lalu?”
“Sama sekali tidak. Kita memang harus membayar perbuatan baik ataupun buruk yang diberikan kepada kita. Tapi bukan berarti kita harus membalasnya pada orang yang telah memperlakukan kita dengan baik ataupun buruk,”
“Lantas mengapa kau perlakukan aku seperti ini? Kau mengembalikan kesakitanmu atas perbuatanku lengkap dengan bunganya,”
“Aku masih menyayangimu. Selalu. Tapi bukan berarti kita harus bersama. Dalam kehidupanmu, banyak yang lebih baik dariku. Cari dan temukan itu,”
“Itu menurutmu Bim. Tapi tidak bagiku,” Bima menyerah.
Jujur di hatinya, ia memang masih sangat menyayangi Nadia. Gadis yang empat tahun lalu meninggalkannya. Melihat kesungguhan dalam tatap mata Nadia, hatinya pun luluh.
“Lantas bagaimana jika jawaban ayahmu masih sama dengan yang dulu Nad?”
“Aku akan ikut kamu ke Jakarta besok pagi. Semua keperluan sudah aku siapkan,”
“Tidak Nad. Sama seperti dulu. Aku akan meminta baik-baik dirimu kepada keluargamu,”
“Sepertinya jawaban papa akah tetap sama Bim,”
“Aku belum mencobanya. Jadi bagaimana mungkin aku tahu apa jawaban ayahmu,”
“Benar kamu akan datang kerumahku?”
“Ya, bersama orangtuaku tentunya. Semoga mereka mau, dan….,” Ucapan Bima terputus ketika tiba-tiba bibir Nadia sudah menempel di bibirnya.
Kedua insan tersebut cukup lama berpagut dan baru berhenti setelah nafas keduanya tampak terengah-engah.
“Ada waktunya kita melanjutkan ini Nad,” Namun setelah berkata itu, giliran Bima yang mencium kening Nadia hingga tampak muka gadis itu memerah.
Bima memeluk dalam-dalam Nadia hingga tak terasa matahari sudah benar-benar tengelam di telan samudera. “Kita pulang Nad. Hari sudah malam. Dan malam ini, katakan kepada ayahmu, seminggu kedepan aku akan mengunjunginya,”
“Aku antar kamu ke hotel Bim,”
“Ada baiknya kita makan malam dahulu,” Nadia mengangguk. Keduanya beranjak pergi meninggalkan pantai yang sudah menjadi gelap. Malam itu, seolah menjadi malam tak berujung bagi Bima dan Nadia. Keduanya bercanda, tertawa lepas di tempat makan pinggir jalan hingga semua pembeli lain memperhatikan mereka berdua.
“Biarkan saja Nad, mereka iri melihat kita,” kata Bima yang kemudian disusul tawa renyah mereka berdua. Mereka terus mengumbar kemesraan di tengah keramaian.
Kadang Bima menunjukkan kegilaannya mencuri waktu dan mencium pipi Nadia seperti mencium gadis kecil. Walaupun tampak menunjukan kemarahan, namun Nadia sangat bahagia dengan perlakuan itu. Sebuah pengalaman yang tidak penah didapatkannya dari pria lain.
“Sudah jam 10 Nad. Aku harus tidur cepat malam ini. Besok aku pulang dengan pesawat jam 6 pagi,”
“Baiklah. Aku antar kamu ke hotel ya,” Setelah membayar, mereka pun bergegas ke hotel tempat Bima menginap. Sampai di parkiran hotel, Bima mencium bibir Nadia sebagai tanda perpisahan.
“Aku tidur dulu ya Nad,” kata Bima setelah melepaskan ciumnya.
Ia lantas keluar dari mobil. Belum sempat Bima menutup pintu mobil, suara Nadia terdengar lirih memanggilnya.
“Ada apa Nad?”
“Kamu tidak ingin mengjak aku ke kamarmu?”
“Sebaiknya kamu pulang saja sekarang hingga kamu bisa menemui papa kamu dan mengatakan rencana kedatanganku minggu depan. Masih banyak waktu untuk kita habiskan,”
“Tapi kamu tidak bohong kan?” Desak Nadia dengan nada khawatir.
“Adakah kau melihat kebohongan itu? Percayalah. Karena aku juga menginginkan itu,” Bima menutup pintu mobil dan melangkah meninggalkan Nadia tanpa menoleh lagi.
Sang dara terus memandang punggung kekasihnya hingga hilang. Dengan hati berbunga ia lantas meninggalkan areal parkir hotel. Ia memacu kendaraannya agar bisa segera bertemu orangtuanya. Namun Nadia harus kecewa, karena ketika ia sampai di rumah, waktu sudah pukul 11 malam. Papa dan mamanya sudah terlelap.
Setelah membersihkan muka dan berganti baju, Nadia baru ingat kalau tidak ada yang mengantarkan Bima ke bandara esok hari. Ia langsung menyambar ponselnya. Lagi-lagi ia harus kecewa karena panggilannya tidak dijawab Bima.
Saat hendak terlelap, tiba-tiba ponsel Nadia bergetar menandakan ada sms yang masuk. “Ada apa Nad? Kok belum tidur?” Demikian isi sms Bima.
Tanpa pikir panjang, Nadia langsung menelepon Bima. “Besok aku antarkan kamu ke Bandara ya Bim,”
“Tak usah Nad. Aku pakai taxi saja. Kamu tidur saja sekarang,” pinta Bima.
“Baiklah Bim. Kamu hati-hati ya. Aku tunggu kamu minggu depan,” Nadia menutup teleponnya.
Ia mencoba terlelap. Tapi matanya tetap tidak mau terpejam. Gadis ini memandang sekeliling kamarnya. Memeluk erat guling, memutar lagu, namun tetap saja kantuk tidak datang. Nadia lantas mengambil ponselnya. Tadinya ia hendak menelepon Bima kembali.
Namum saat ia mengetahui bahwa saat itu sudah pukul 2 dini hari, Nadia mengurungkan niatnya. Karena tidak mau mengganggu istirahat Bima. Akhirnya Nadia hanya mengirimkan pesan singkat kepada kekasihnya.
“Sayang, aku belum ketemu papa. Tapi ini hidupku. Aku yang akan menjalaninya. Bukan mereka. Sayang, apapun yang terjadi esok, kau harus ingat bahwa ada seorang gadis di seberang lautan yang selalu menunggu kedatanganmu. I love you,”
Akhirnya Nadia bisa tertidur saat hari menjelang pagi. Belum seberapa lama tidur, pintu kamar Nadia diketuk mamanya. Hari sudah pukul 7. Sang ibu meminta Nadia untuk segera mandi dan sarapan pagi bersama seperti biasa.
“Ini saat yang tepat untuk menyampaikan rencana kedatang Bima,” pikir Nadia.
Dengan mata yang masih berat  terbuka, Nadia memaksakan diri untuk mandi. Seusai mandi, ia langsung menuju meja makan. Di sana telah menunggu kedua orangtuanya serta seorang adik perempuannya.
“Semalam kamu kemana?” Tanya ayah Nadia.
“Jalan-jalan pap,”
“Sepertinya kamu bahagia sekali Nad, ada apa? Dapat pacar baru ya?” Goda sang mama. “Nanti sehabis sarapan, ceritakan pada mama,” sang mama menyambung.
“Memang ada yang ingin Nadia katakan kepada mama dan papa,”
“Tentang apa?” Desak bundanya. “Tentang Bima,”
Raut wajah sang ayah sontak berubah merah mendengar nama Bima. Hampir saja nasi yang sudah dikunyahnya dimuntahkan.
“Maksudmu? Jangan kau buat selera makan papa hilang dengan membicarakan dia di sini. Mau apa anak itu? Kenapa kamu masih berhubungan dengan anak yang tak jelas juntrungannya itu?”
Nadia sudah memperkirakan apa yang akan terjadi jika ia membicarakan persoalan Bima. Namun ia harus menyampaikan kepada ayah ibunya.
“Ia berniat ke sini bersama orangtuanya minggu depan,” semuanya terdiam mendengar kata-kata Nadia. Wajah ayah Nadia menjadi semakin merah. Demikian juga dengan wajah sang ibu.
“Kamu masih berani menemuinya?” Bentak ayah Nadia.
“Ya, Nadia sayang dia,” jawab Nadia sambil menundukan wajahnya. Tangannya mengaduk-ngaduk nasi di piring di hadapannya menggunakan sendok yang dipegangnya.
“Hilang selera makanku,” kata sang ayah sambil membantik sendok ke atas piring. Dan meninggalkan nasi yang belum setengah dimakannya. Sang ayah lantas pergi ke ruang tamu dan menghidupkan televisi. Melihat Nadia yang tampak sangat terpukul dengan kejadian itu. Sang mama berusaha untuk menenangkan.
“Sudahlah Nad. Kamu bisa membicarakan itu lain waktu,”
“Tidak bisa ma. Kalau mama dan papa tetap bersikukuh, Nadia juga bisa berlaku nekad,” jawab Nadia dengan keras sambil berdiri. Mendengar yang dikatakan Nadia, sang ayah malah membesarkan volume televisi.
Saat itu, di siaran televisi dengan volume tinggi, sedang menayangkan breaking news tentang kecelakaan pesawat yang jatuh di perairan Laut Jawa. Sontak Nadia langsung berlari ke ruang tamu. Dari berita itu, Nadia memastikan pesawat yang jatuh adalah pesawat yang ditumpangi Bima.
Namun ia belum sepenuhnya percaya dengan berita itu. Ia berteriak sejadi-jadinya yang tentu saja membuat ayahnya terkejut.
“Bima… Bima di pesawat itu,” Nadia berlari menuju kamarnya. Ia mengambil ponsel, berusaha menghubungi Bima. Niatnya untuk menelepon Bima diurungkannya karena di layar telepon, ia melihat ada sms yang belum sempat dibukanya.
Dengan tangan gemetar, ia memencet tombol untuk membava sms tersebut. Benar dugaannya, sms itu adalah sms Bima yang belum sempat dibacanya. Sms tersebut di kirimkan Bima pada pukul 5.30 pagi saat ia sudah ada di bandara.
“Aku sudah di Bandara. Tak sabar rasanya segera sampai rumah. Oia, kalau aku bisa bertemu Tuhan, aku akan bilang kalau kamu adalah wanita yang layak berbahagia dengan siapapun pendampingmu. Aku mencintai selalu. Bahkan ketika di syurga nanti, aku akan mencarimu,”
Jerit Nadia kembali terdengar. Tak lama berselang, orangtuanya menyusul Nadia di dalam kamar.Nadia tampak seperti orang kesurupan. Ia melemparkan telepon kepada ayahnya.
“Sadar nak, apa yang terjadi?”
“Bima ma, Bima mati,” itulah kata terakhir Nadia sebelum akhirnya ia roboh dan pingsan.
Tidak tahu berapa lama ia pingsan, ketika pingsan, ia melihat mamanya berada di sisinya. Ia melihat mata orang melahirkannya tersebut tampak merah seperti habis menangis.
“Mama menangis? Bima ma..”
“Mama tahu apa yang kamu rasakan Nad. Tapi dia sudah pergi. Lebih baik, sekarang kamu istirahat. Dan kalau kamu merasa sehat, mama dan papa mengijinkanmu untuk berangkat ke Jakarta menemui keluarganya. Papa dan mama minta maaf padamu. Kami merasa bersalah dalam hal ini,”
“Makasih ma,”
Nadia terus mengikuti perkembangan jatuhnya pesawat yang ditumpangi Bima. Ia terus berharap agar Bima selamat dalam peristiwa tersebut walaupun banyak orang yang mengatakan, kemungkinan itu sangat kecil.
Bahkan setelah seminggu berlalu, tidak ada satupun penumpang pesawat yang berhasil dievakuasi. Pun demikian dengan bangkai pesawatnya. Karena tak kunjung ada kabar tentang nasib Bima, Nadia juga menunda keberangkatannya ke Jakarta.
Yang bisa dilakukannya saat ini hanya melantunkan doa semoga kekasihnya diberikan yang terbaik. Ia sudah pasrah. Tepat satu bulan setelah pertemuannya dengan Bima. Nadia memberanikan diri mengunjungi tempat yang mereka kunjungi bersama.
Sore itu, waktu yang hampir sama dengan satu bulan lalu, Nadia berjalan sendiri melalui pantai. Di depan batu karang yang sama, ia duduk memandang laut lepas. Belum lekang dalam ingatannya ketika satu bulan lalu Bima ada di sampingnya. Memeluknya dengan erat.
“Bim, kamu orang baik. Paling tidak terhadapku. Aku berharap kau masih hidup sekarang ini. Namun jika kau sudah tiada, aku yakin malaikat akan membawamu ke syurga. Bim, aku yakin kamu tahu, dalam doaku aku tak pernah meminta pada Tuhan agar kau ditemani bidadari yang menurut orang merupakan mahluk paling cantik. Aku ingin bidadari itu aku Bim. Aku tidak rela jika ada bidadari menemanimu. Aku Cemburu,”

Sang Buronan

March 24, 2010

Aku berjalan dengan tergesa-gesa segera setelah kuparkir sepeda motorku di samping rumah yang sudah ramai dipadati oleh orang-orang yang hendak turut berbelasungkawa. Sebenarnya aku tidak begitu kenal dengan orang yang baru saja meninggal tadi pagi itu, karena aku hanya mewakili ayahku yang kebetulan berhalangan hadir. Seusai menyalami para tamu lain yang sudah datang sebelumnya, aku duduk dibarisan tengah tepat satu garis lurus degan pintu masuk rumah. Dari tempat dudukku aku bisa melihat dengan jelas jenazah alamarhumah dan beberapa orang yang ada disekitarnya.

Seperti layaknya orang lain yang sedang tertimpa musibah, ratap tangis memilukan semakin membuat suasana siang ini yang panas bertambah gerah. Seorang lelaki kurus setengah baya duduk disamping jenazah membaca ayat suci sambil menahan tangis. Dibelakangnya, ada dua orang remaja perempuan berusia belasan yang diam dengan tatap mata kosong. Mata kedua remaja itu masih terlihat sembab.

Beberapa saat setelah aku duduk, datang tiga orang pemuda dengan setengah berlari. Pakaian dikenakan sudah terlihat dekil dengan celana jeans yang sengaja disobek dibagian lutut. Wajah-wajah mereka nampak legam karena terbakar matahari. Salah satu dari tiga pemuda itu nampak terisak menahan tangis. Tanpa menoleh pada seorang tamupun, ketiganya bergegas masuk kedalam ruang tamu tempat jenazah disemayamkan. Terdengar raung tangisan keras, sesaat setelah mereka berada didalam rumah. Semua tamu yang tadinya bercakap-cakap, langsung berhenti dan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. tak beda dengan tamu lain, akupun merasa penasaran dengan ketiga orang yang baru saja hadir tersebut.

Berbagai kalimat penuh sesal keluar dari mulut salah satu dengan menggoyang-goyang tubuh jenazah sementara kedua orang lainnya berbicara padanya sepertinya berusaha untuk menghibur. Aku melihat semuanya dengan jelas sehingga rasa penasaranpun semakin menjadi.

“Siapa pemuda itu?” demikian aku bertanya pada sesama pelayat yang berada disampingku.

“Yang sedang menangis itu adalah anak dari almarhumah, namun dua lainnya saya tidak kena. Bisa jadi mereka berdua adalah temannya” Jawabnya

“Owh. Pantas saja tangisnya terdengar paling mengharukan diantara yang lain.”

“Namun apa yang anda lihat sekarang itu sepertinya tidak pantas dilakukan olehnya.” Jelasnya lagi.

Aku tersentak kaget dengan apa yang baru saja dikatakan orang disampingku. Bagaimana mungkin ada seorang anak yang tidak pantas meratapi kematian orang yang melahirkannya? Dosa apa yang telah diperbuat pemuda itu hingga laki-laki paruh baya dan dua remaja puteri yang menurut perkiraanku adalah suami dan anak-anak dari almarhum memandang sinis dan tidak suka padanya? Bukankah kalau lelaki itu adalah suaminya, berarti ia juga adalah ayah dari pemuda tersebut?

“Ibunya meninggal karena serangan jantung tadi pagi. Dan anak itulah yang menjadi sebab kematian ibunya sendiri.” Seorang pelayat yang ada didepanku menambahkan.

Akupun semakin bingung dan rasa penasaran untuk tahu lebih jauh semakin menghantui.

“Memangnya apa yang terjadi?” Aku memberanikan diri bertanya.

“Beberapa waktu yang lalu anak itu datang kesini dan selanjutnya entah apa yang terjadi, tiba-tiba ia mengamuk dan menganiaya ayah tirinya. Dan sudah beberapa bulan ini ia menjadi buronan polisi karena hal itu.”

“Ayah tiri?”

“Ayahnya meninggal ketika dia belum bisa berbicara lancar. Ibunya kemudian menikah lagi dan memutuskan untuk tinggal disini bersama suami barunya. Dan lelaki setengah baya itu adalah suami almarhumah.” Jelas orang didepanku.

“Ia tinggal bersama kakeknya, dan kesini hanya untuk meminta uang.” Ucap tamu lainnya.

Aku tetap saja belum mengerti dengan penjelasan kedua orang itu. Berbagai pertanyaan-pertanyaan lain semakin menggelayuti pikiranku. Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang tega meninggalkan anak balitanya ketika ia memilih untuk menikah lagi?

Seperti tahu dengan penasaran yang sedang kualami, orang disebelahku yang ternyata adalah paman pemuda itu kemudian menceritakan yang terjadi beberapa tahun lalu.

Ketika ayah kandung sang anak meninggal karena kecelakaan, ibunya kemudian pergi ke kota untuk bekerja. Sebenarnya ia punya dua orang putera dari perkawinan pertamanya, namun anak sulungnya meninggal tidak lama setelah kematian suaminya dan si bungsu dititipkan kepada kakeknya yang sudah renta selama ia berada di kota. Sang ibu hanya pulang setahun sekali, tepatnya waktu lebaran tiba. Pada lebaran ketiga setelah ia menjanda, sang ibu pulang kerumah bersama seorang lelaki yang sekarang menjadi suaminya.

“Kira-kira, waktu sang ibu menikah lagi usia anak itu baru lima tahun.” Cerita sang paman terhenti sejenak. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam. Matanya menerawang kosong seperti tengah melihat kejadian bertahun lalu ada didepannya. Dalam ingatannya kini terbayang jelas ketika sang keponakan keluar dari sekolah dasar karena malu sebab sering tidak naik kelas.

“Ia bahkan tidak bisa baca tulis.” Imbuhnya lagi.

Pembicaraan kami sejenak terhenti saat seorang pemuda menyuguhkan segelas plastik air mineral dan makanan kecil.

“Anak itu menjadi bandel ketika terpisah dari ibunya yang lebih memilih untuk berada disini bersama keluarga barunya. Dia hidup bersama kakek dan neneknya yang sudah tua hingga mereka sudah tidak terlalu memperhatikannya. Ditambah lagi dengan keadaan ekonomi keluarga yang hanya pas-pasan.”

“Apakah selama menikah ibunya tidak pernah membawanya kesini?” Aku mulai berani menyelidiki.

“Dia pernah menetap disini selama satu tahun. Namun dalam kurun waktu tersebut ia selalu bertengkar dengan ayah tirinya. Maklumlah, setiap hari ia selalu dibebani berbagai pekerjaan hingga tidak pernah punya waktu untuk bermain sebagaimana layaknya anak-anak pada umumnya. Ditambah lagi ayah tirinya tersebut juga orang yang sedikit ringan tangan. Mungkin dari situlah ia mulai menyimpan dendam akan membalasnya saat ia sudah dewasa.”

“Kasihan sekali.” Gumamku lirih

Tamu semakin banyak berdatangan. Tangis sang anak terdengar semakin pelan dan akhirnya lenyap sama sekali. Aku menatapnya dalam-dalam sambil membayangkan bagaimana jika kejadian serupa itu menimpaku. Aku tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pemuda tanggung yang katanya telah menganiaya ayah tirinya. Himpitan ekonomi, kesumat yang terpendam, dan mungkin beberapa faktor lain hingga harus ada kejadian seperti itu.

“Hidupnya semakin tidak menentu setelah kematian kakeknya setahun yang lalu. Setiap datang kesini ia selalu dalam keadaan mabuk dan mengamuk kepada ayahnya. Kalau tidak salah ia sudah tiga kali mengamuk dan yang terakhir ia semakin kalap menggunakan senjata tajam hingga akhirnya dilaporkan kepihak yang berwenang.”

Cerita diantara kami terputus karena acara utama hampir dimulai. Aku melihat beberapa orang sudah bersiap-siap untuk melakukan shalat jenazah. selesai shalat jenazah dimasukkan kedalam keranda mayat dan diusung keluar. Ratap tangis keluarga kembali terdengar. Sang suami mencoba tegar, ia berada dibarisan paling depan memanggul kendaraan yang akan dinaiki oleh seluruh umat manusia pada akhirnya. Para pengusung jenazah berjalan dengan cepat menuju areal pemakaman desa. Aku mengikuti rombongan pembawa jenazah sambil tak lepas memperhatikan pemuda yang sepertinya sedang merasa sangat terpukul. Ia berusaha mengimbangi kecepatan rombongan walaupun dengan jelas nampak langkahnya mulai gontai. Dua orang temannya kemudian membantu dengan memapahnya berjalan.

Jenazah langsung dimasukkan ke liang lahat begitu sampai dipemakaman. Suasana semakin hening ketika orang yang tadi bercerita padaku mulai melantunkan adzan didalam liang kubur. Namun suana berubah sedikit berubah ketika sang anak pingsan saat tanah mulai mengurug jenazah ibundanya tercinta. Rasa bersalah dalam dirinya mungkin terlalu berat hingga tubuhnya tidak mampu lagi menyangga. Dua teman dan beberapa  orang pemuda kemudian memanggulnya untuk dibawa pulang sementara prosesi pemakaman kembali diteruskan.

Setelah semuanya selesai, aku kembali untuk mengambil motor yang aku parkir tidak jauh dari rumah yang baru saja tertimpa musibah tersebut. Ternyata disebelah sepeda motorku sudah ada sebuah mobil polisi. Didalam rumah, aku melihat empat orang berpakaian seragam polisi tengah duduk diruang tamu dengan ditemani oleh dua orang teman anak almarhum yang katanya tengah menjadi buronan. Sebenarnya aku ingin tahu kejadian apa yang akan terjadi berikutnya, namun karena langit mulai nampak menghitam dan apapun kejadian selanjutnya dirumah itu bukan urusanku maka kuputuskan untuk segera pulang. Dalam perjalanan, aku selalu bertanya-tanya mengapa ada ibu yang bisa begitu saja meninggalkan anaknya dan mengapa ada anak yang begitu tega terhadap orang tuanya? Sang anak yang memang durhaka hingga orang tua merasa tidak mampu lagi dan akhirnya meminta bantuan kepolisian untuk mendidiknya atau orang tua yang memang tidak lagi peduli? Semua pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak ada yang terjawab. Namun ada satu hal yang rasanya aku tahu, bahwa hukum bisa benar-benar buta dan tidak melihat siapa saja termasuk seorang anak yang baru saja kehilangan ibunya.