Archive for July, 2011

Kusisipkan Namamu Dalam Doaku

July 3, 2011

Dengarlah kasih, lantun doa untukmu

Setulus orangtua menimang si bungsu

Seperti malaikat tak pernah lalai

Laksana angin berhembus sepoi

Bagaikan langit setia memayungi

Bak akar yang tak pernah mau menampakan diri

 

Walau sumbang terdengar

Maklumlah aku jarang mengucap doa

Tapi rasanya harus kusenandungakan

Karena itu satu-satunya yang bisa kupersembahkan

Saat kesunyian erat mendekapmu

Ingin aku menemanimu selalu

Berharap untuk sejenak menghiburmu

 

Ketika langkah tak menuju arah tujuan

Sewaktu angan tidak lagi sejalan dengan kenyataan

Bilamana yang diharap tak terwujudkan

Yakinlah ada untukmu seorang teman

Percayalah kau tak pernah menghadapinya sendirian

 

Jangan biarkan harapan itu padam

Walau ada duka mengoyak perasaan

Usah hancurkan hari depan karena kenangan

Luka akan sembuh pada waktunya

Badai gelombang tidak selamanya Saat indah itu pasti datang

Dan aku kan pergi dengan tenang

Tuhan, Aku Cemburu

July 2, 2011
Matahari kemerahan menuruni kaki langit. Sisa kahangatannya menyapu permukaan air laut yang tampak pula berganti warna. Mega-mega perlahan berubah gelap. Laksana domba di padang pasir, ia bergerak perlahan mengikuti angin yang menerbangkannya.
Debur ombak terpecah ketika menghantam karang. Pun demikian dengan semilir angin yang membuat pucuk kelapa terlihat menari. Angin itu pula yang membuat rambut panjang Nadia berkibar tak beraturan. Namun karenanya, gadis duapuluh lima tahun tersebut semakin tampak menawan. Angin yang terkadang membawa pasir, membuat gadis berkulit putih ini menutup mata. Saat itu betapa bulu matanya yang lentik terlihat menyempurnakan wajahnya. Dibalut pakaian serta rok panjang warna hitam, ia berdiri mengahadang angin. Jemari lembutnya memegang sebuah telepon genggam. Sesekali, matanya melihat ke layar telepon, bibirnya tersenyum, dan jemari lentiknya lincah mengitik di keypad.
Rona wajahnya kadang bersemu merah, dan tidak jarang pula, bibirnya terlihat cemberut, walaupun sinar matanya tidak bisa berbohong, betapa saat itu ia hatinya tengah berbunga. Tiba-tiba telepon di tangannya berdiring.
Sepertinya ia ragu untuk menjawab telepon itu. Beberapa saat kemudian, telepon itu pun mati. Muncul raut wajah menyesal. Namun kembali telepon itu berdering, tanpa pikir panjang, ia mengangkatnya. “Aku di pantai. Di tempat biasa. Aku tunggu kamu di sini,” tanpa menunggu jawaban Nadia menutup telepon, dan tersenyum puas.
Sekitar 20 menit kemudian, dari balik gundukan pasir, berjalan seorang pria mengenakan jaket jeans. Celana panjang hitamnya sudah robek di sana sini. Sandal jepit, tas kusam serta sarung tangan kelam menempel jadi asesoris di tubuhnya.
Sambil menyalakan sebatang rokok, mata tajam pria itu terus memandang Nadia yang tidak mengetahui kedatangannya. Langkah kakinya terhenti, seperti ragu untuk berjalan lebih dekat lagi. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Nadia membalikkan wajahnya.
Kedua mata itu saling beradu pandang. Mereka hanya saling pandang untuk beberapa lama, tanpa ada suara dan usaha untuk mendahului menyapa. Beberapa saat, mereka berdua terlihat laksana patung. Hanya desah nafas dan tatapan mata berbinar. Setelah beberapa lama, sang pria berjalan mendekat.
Langkah kakinya terlihat berat dan ragu. Tidak seperti ketika ia muncul dari bukit pasir. “Apa kabarmu Nad?” Tanyanya.
“Aku baik-baik saja. Sudah hampir empat tahun tak bertemu. Kau masih sama. Bagaimana denganmu Bim?”
“Sama sepertimu Nad. Empat tahun ini aku memang tidak pernah berkunjung ke kota kesini,”
Pria bernama Bima itu lantas duduk di samping Nadia. Keduanya tampak kaku, banyak yang ingin mereka ungkapkan dan tanyakan. Namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
Hampir setengah jam, Bima dan Nadia diam seribu bahasa. Hanya terkadang kedua mata mereka saling bertemu ketika sama-sama mencuri pandang.
“Nad,”
“Bim,” Bersamaan.
Mereka kemudian saling tertawa lepas. “Ada apa kamu memintaku untuk ke sini Nad?”
Gadis ayu ini tidak segera menjawab pertanyaan Bima. Ia menghela nafas panjang. Matanya kosong menatap pantai. Mata bening itu, perlahan-lahan memerah. Bima yang mengetahui kejadian itu segera berucap.
“Lebih baik aku pergi saja Nad. Aku salah telah memberitahumu tentang kunjunganku ke kota ini,” Bima berdiri hendak melangkah pergi.
Tiba-tiba secara reflek, tangan Nadia memegang lengannya, dan seolah tak ingin ia beranjak dari situ. “Duduklah Bim. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu,” pinta Nadia.
Bima pun kembali duduk di samping Nadia. Rokok yang semula sudah masuk ke saku jaket pun dikeluarkan lagi. Namun belum sempat ia menyalakan rokoknya, tangan Nadia sudah lebih dulu merampas rokok yang sudah menempel di bibir Bima.
“Itu yang kusuka sekaligus kubenci darimu. Tapi baiklah,” kata Bima sambil tertawa dan memasukan rokok serta koreknya ke dalam saku jaket.
“Apa yang hendak kau bicarakan Nad? Besok pagi aku pulang ke Jakarta,”
“Kita bicara di sana saja,” ajak Nadia kepada Bima untuk mendekati bibir pantai. Tanpa menunggu jawaban, Nadia menarik tangan Bima.
Mau tak mau, Bima mengikuti. Keduanya lantas berjalan ke arah barat. Seolah ingin mengejar matahari yang sebentar lagi hilang ditelan lautan. Nadia seolah tidak merasakan gelombang yang menjilat kakinya hingga lutut. Demikian juga Bima, ia hanya menggandeng tangan gadis tersebut seolah tak mengetahui bahwa mereka sudah jauh melangkah dari tempat semula.
Cukup lama berjalan, seolah ada yang memerintahkan, mereka berhenti di depan sebuah batu karang hitam. Beberapa kejapan mata, keduanya lantas tersenyum bersamaan.
“Kamu ingat apa yang terjadi di sini beberapa tahun lalu?” Nadia membuka pertanyaan.
“Kamu menolakku untuk pertama kalinya. Tapi di tempat ini pula kau mau menerimaku. Dan di tempat ini pula kita memutuskan untuk berpisah,” sahut Bima. “Untuk apa kau mengajaku ke tempat ini Nad?”
“Mengulang masa lalu Bim. Tidak ada yang lebih indah dari tempat ini. Aku terpuruk, bangkit dan kembali terpuruk di tempat ini,”
“Lupakan itu Nad. Itu sudah jadi masa lalu kita. Bukankah kau yang memutuskan kita untuk berpisah? Sudahlah, mari kita pulang,” ajak Bima.
Nadia seolah tak mendengarkan ajakan Bima. Ia lantas melangkah menjauh dari bibir pantai. Di atas hamparan pasir putih, di bawah siraman cahaya emas matahari, gadis ayu ini kemudian terduduk lesu.
Ia menekuk kakinya, meletakan dagu di atas lutut sementara kedua tangannya memeluk kaki yang terbungkus rok panjang yang basah karena air laut. Bima kemudian melepaskan jaketnya dan menyelimutkannya pada Nadia. Ia lantas duduk bersila di sebalah kanan Nadia dan menggunakan tangan kanannya untuk merengkuh tubuh sang dara.
“Aku baik-baik saja Bim. Kau pulanglah dulu. Bukankah kau butuh istirahat?”
“Kau tak pernah baik-baik saja. Paling tidak selama aku bersamamu sore ini. Aku tahu apa yang kau inginkan Nad. Tapi….”
“Kenapa harus ada tapi? Bukankah kaupun masih sama seperti dulu?”
“Iya Nad. Bahkan yang aku rasakan jauh lebih dari itu. Tapi ini bukan sekadar permasalahan rasa. Kamu tahu itu,” Bibir Nadia tampak bergetar.
Matanya yang bening melirik ke arah Bima, terlihat mulai memerah. Perlahan-lahan, air mata menetes perlahan jatuh ke sudut pipinya. Sadar akan hal tersebut, Bima pura-pura tidak melihatnya. Walaupun sebenarnya, ia sangat ingin mengusap air mata itu. Isak tertahan Nadia terdengar perlahan.
Bima tetap seakan tak mendengarnya. Ia hanya memeluk tubuh mungil Nadia lebih dalam hingga kepala yang ditumbuhi rambut lebat tersebut tersandar di bahunya.
“Maaf Nad, aku tidak membawa tissu. Menangislahh jika itu bisa membuat hatimu lega,”
“Ternyata kau tak lebih dari seorang penakut Bim. Apakah kau sengaja membalas apa yang kulakukan terhadapmu beberapa tahun lalu?”
“Sama sekali tidak. Kita memang harus membayar perbuatan baik ataupun buruk yang diberikan kepada kita. Tapi bukan berarti kita harus membalasnya pada orang yang telah memperlakukan kita dengan baik ataupun buruk,”
“Lantas mengapa kau perlakukan aku seperti ini? Kau mengembalikan kesakitanmu atas perbuatanku lengkap dengan bunganya,”
“Aku masih menyayangimu. Selalu. Tapi bukan berarti kita harus bersama. Dalam kehidupanmu, banyak yang lebih baik dariku. Cari dan temukan itu,”
“Itu menurutmu Bim. Tapi tidak bagiku,” Bima menyerah.
Jujur di hatinya, ia memang masih sangat menyayangi Nadia. Gadis yang empat tahun lalu meninggalkannya. Melihat kesungguhan dalam tatap mata Nadia, hatinya pun luluh.
“Lantas bagaimana jika jawaban ayahmu masih sama dengan yang dulu Nad?”
“Aku akan ikut kamu ke Jakarta besok pagi. Semua keperluan sudah aku siapkan,”
“Tidak Nad. Sama seperti dulu. Aku akan meminta baik-baik dirimu kepada keluargamu,”
“Sepertinya jawaban papa akah tetap sama Bim,”
“Aku belum mencobanya. Jadi bagaimana mungkin aku tahu apa jawaban ayahmu,”
“Benar kamu akan datang kerumahku?”
“Ya, bersama orangtuaku tentunya. Semoga mereka mau, dan….,” Ucapan Bima terputus ketika tiba-tiba bibir Nadia sudah menempel di bibirnya.
Kedua insan tersebut cukup lama berpagut dan baru berhenti setelah nafas keduanya tampak terengah-engah.
“Ada waktunya kita melanjutkan ini Nad,” Namun setelah berkata itu, giliran Bima yang mencium kening Nadia hingga tampak muka gadis itu memerah.
Bima memeluk dalam-dalam Nadia hingga tak terasa matahari sudah benar-benar tengelam di telan samudera. “Kita pulang Nad. Hari sudah malam. Dan malam ini, katakan kepada ayahmu, seminggu kedepan aku akan mengunjunginya,”
“Aku antar kamu ke hotel Bim,”
“Ada baiknya kita makan malam dahulu,” Nadia mengangguk. Keduanya beranjak pergi meninggalkan pantai yang sudah menjadi gelap. Malam itu, seolah menjadi malam tak berujung bagi Bima dan Nadia. Keduanya bercanda, tertawa lepas di tempat makan pinggir jalan hingga semua pembeli lain memperhatikan mereka berdua.
“Biarkan saja Nad, mereka iri melihat kita,” kata Bima yang kemudian disusul tawa renyah mereka berdua. Mereka terus mengumbar kemesraan di tengah keramaian.
Kadang Bima menunjukkan kegilaannya mencuri waktu dan mencium pipi Nadia seperti mencium gadis kecil. Walaupun tampak menunjukan kemarahan, namun Nadia sangat bahagia dengan perlakuan itu. Sebuah pengalaman yang tidak penah didapatkannya dari pria lain.
“Sudah jam 10 Nad. Aku harus tidur cepat malam ini. Besok aku pulang dengan pesawat jam 6 pagi,”
“Baiklah. Aku antar kamu ke hotel ya,” Setelah membayar, mereka pun bergegas ke hotel tempat Bima menginap. Sampai di parkiran hotel, Bima mencium bibir Nadia sebagai tanda perpisahan.
“Aku tidur dulu ya Nad,” kata Bima setelah melepaskan ciumnya.
Ia lantas keluar dari mobil. Belum sempat Bima menutup pintu mobil, suara Nadia terdengar lirih memanggilnya.
“Ada apa Nad?”
“Kamu tidak ingin mengjak aku ke kamarmu?”
“Sebaiknya kamu pulang saja sekarang hingga kamu bisa menemui papa kamu dan mengatakan rencana kedatanganku minggu depan. Masih banyak waktu untuk kita habiskan,”
“Tapi kamu tidak bohong kan?” Desak Nadia dengan nada khawatir.
“Adakah kau melihat kebohongan itu? Percayalah. Karena aku juga menginginkan itu,” Bima menutup pintu mobil dan melangkah meninggalkan Nadia tanpa menoleh lagi.
Sang dara terus memandang punggung kekasihnya hingga hilang. Dengan hati berbunga ia lantas meninggalkan areal parkir hotel. Ia memacu kendaraannya agar bisa segera bertemu orangtuanya. Namun Nadia harus kecewa, karena ketika ia sampai di rumah, waktu sudah pukul 11 malam. Papa dan mamanya sudah terlelap.
Setelah membersihkan muka dan berganti baju, Nadia baru ingat kalau tidak ada yang mengantarkan Bima ke bandara esok hari. Ia langsung menyambar ponselnya. Lagi-lagi ia harus kecewa karena panggilannya tidak dijawab Bima.
Saat hendak terlelap, tiba-tiba ponsel Nadia bergetar menandakan ada sms yang masuk. “Ada apa Nad? Kok belum tidur?” Demikian isi sms Bima.
Tanpa pikir panjang, Nadia langsung menelepon Bima. “Besok aku antarkan kamu ke Bandara ya Bim,”
“Tak usah Nad. Aku pakai taxi saja. Kamu tidur saja sekarang,” pinta Bima.
“Baiklah Bim. Kamu hati-hati ya. Aku tunggu kamu minggu depan,” Nadia menutup teleponnya.
Ia mencoba terlelap. Tapi matanya tetap tidak mau terpejam. Gadis ini memandang sekeliling kamarnya. Memeluk erat guling, memutar lagu, namun tetap saja kantuk tidak datang. Nadia lantas mengambil ponselnya. Tadinya ia hendak menelepon Bima kembali.
Namum saat ia mengetahui bahwa saat itu sudah pukul 2 dini hari, Nadia mengurungkan niatnya. Karena tidak mau mengganggu istirahat Bima. Akhirnya Nadia hanya mengirimkan pesan singkat kepada kekasihnya.
“Sayang, aku belum ketemu papa. Tapi ini hidupku. Aku yang akan menjalaninya. Bukan mereka. Sayang, apapun yang terjadi esok, kau harus ingat bahwa ada seorang gadis di seberang lautan yang selalu menunggu kedatanganmu. I love you,”
Akhirnya Nadia bisa tertidur saat hari menjelang pagi. Belum seberapa lama tidur, pintu kamar Nadia diketuk mamanya. Hari sudah pukul 7. Sang ibu meminta Nadia untuk segera mandi dan sarapan pagi bersama seperti biasa.
“Ini saat yang tepat untuk menyampaikan rencana kedatang Bima,” pikir Nadia.
Dengan mata yang masih berat  terbuka, Nadia memaksakan diri untuk mandi. Seusai mandi, ia langsung menuju meja makan. Di sana telah menunggu kedua orangtuanya serta seorang adik perempuannya.
“Semalam kamu kemana?” Tanya ayah Nadia.
“Jalan-jalan pap,”
“Sepertinya kamu bahagia sekali Nad, ada apa? Dapat pacar baru ya?” Goda sang mama. “Nanti sehabis sarapan, ceritakan pada mama,” sang mama menyambung.
“Memang ada yang ingin Nadia katakan kepada mama dan papa,”
“Tentang apa?” Desak bundanya. “Tentang Bima,”
Raut wajah sang ayah sontak berubah merah mendengar nama Bima. Hampir saja nasi yang sudah dikunyahnya dimuntahkan.
“Maksudmu? Jangan kau buat selera makan papa hilang dengan membicarakan dia di sini. Mau apa anak itu? Kenapa kamu masih berhubungan dengan anak yang tak jelas juntrungannya itu?”
Nadia sudah memperkirakan apa yang akan terjadi jika ia membicarakan persoalan Bima. Namun ia harus menyampaikan kepada ayah ibunya.
“Ia berniat ke sini bersama orangtuanya minggu depan,” semuanya terdiam mendengar kata-kata Nadia. Wajah ayah Nadia menjadi semakin merah. Demikian juga dengan wajah sang ibu.
“Kamu masih berani menemuinya?” Bentak ayah Nadia.
“Ya, Nadia sayang dia,” jawab Nadia sambil menundukan wajahnya. Tangannya mengaduk-ngaduk nasi di piring di hadapannya menggunakan sendok yang dipegangnya.
“Hilang selera makanku,” kata sang ayah sambil membantik sendok ke atas piring. Dan meninggalkan nasi yang belum setengah dimakannya. Sang ayah lantas pergi ke ruang tamu dan menghidupkan televisi. Melihat Nadia yang tampak sangat terpukul dengan kejadian itu. Sang mama berusaha untuk menenangkan.
“Sudahlah Nad. Kamu bisa membicarakan itu lain waktu,”
“Tidak bisa ma. Kalau mama dan papa tetap bersikukuh, Nadia juga bisa berlaku nekad,” jawab Nadia dengan keras sambil berdiri. Mendengar yang dikatakan Nadia, sang ayah malah membesarkan volume televisi.
Saat itu, di siaran televisi dengan volume tinggi, sedang menayangkan breaking news tentang kecelakaan pesawat yang jatuh di perairan Laut Jawa. Sontak Nadia langsung berlari ke ruang tamu. Dari berita itu, Nadia memastikan pesawat yang jatuh adalah pesawat yang ditumpangi Bima.
Namun ia belum sepenuhnya percaya dengan berita itu. Ia berteriak sejadi-jadinya yang tentu saja membuat ayahnya terkejut.
“Bima… Bima di pesawat itu,” Nadia berlari menuju kamarnya. Ia mengambil ponsel, berusaha menghubungi Bima. Niatnya untuk menelepon Bima diurungkannya karena di layar telepon, ia melihat ada sms yang belum sempat dibukanya.
Dengan tangan gemetar, ia memencet tombol untuk membava sms tersebut. Benar dugaannya, sms itu adalah sms Bima yang belum sempat dibacanya. Sms tersebut di kirimkan Bima pada pukul 5.30 pagi saat ia sudah ada di bandara.
“Aku sudah di Bandara. Tak sabar rasanya segera sampai rumah. Oia, kalau aku bisa bertemu Tuhan, aku akan bilang kalau kamu adalah wanita yang layak berbahagia dengan siapapun pendampingmu. Aku mencintai selalu. Bahkan ketika di syurga nanti, aku akan mencarimu,”
Jerit Nadia kembali terdengar. Tak lama berselang, orangtuanya menyusul Nadia di dalam kamar.Nadia tampak seperti orang kesurupan. Ia melemparkan telepon kepada ayahnya.
“Sadar nak, apa yang terjadi?”
“Bima ma, Bima mati,” itulah kata terakhir Nadia sebelum akhirnya ia roboh dan pingsan.
Tidak tahu berapa lama ia pingsan, ketika pingsan, ia melihat mamanya berada di sisinya. Ia melihat mata orang melahirkannya tersebut tampak merah seperti habis menangis.
“Mama menangis? Bima ma..”
“Mama tahu apa yang kamu rasakan Nad. Tapi dia sudah pergi. Lebih baik, sekarang kamu istirahat. Dan kalau kamu merasa sehat, mama dan papa mengijinkanmu untuk berangkat ke Jakarta menemui keluarganya. Papa dan mama minta maaf padamu. Kami merasa bersalah dalam hal ini,”
“Makasih ma,”
Nadia terus mengikuti perkembangan jatuhnya pesawat yang ditumpangi Bima. Ia terus berharap agar Bima selamat dalam peristiwa tersebut walaupun banyak orang yang mengatakan, kemungkinan itu sangat kecil.
Bahkan setelah seminggu berlalu, tidak ada satupun penumpang pesawat yang berhasil dievakuasi. Pun demikian dengan bangkai pesawatnya. Karena tak kunjung ada kabar tentang nasib Bima, Nadia juga menunda keberangkatannya ke Jakarta.
Yang bisa dilakukannya saat ini hanya melantunkan doa semoga kekasihnya diberikan yang terbaik. Ia sudah pasrah. Tepat satu bulan setelah pertemuannya dengan Bima. Nadia memberanikan diri mengunjungi tempat yang mereka kunjungi bersama.
Sore itu, waktu yang hampir sama dengan satu bulan lalu, Nadia berjalan sendiri melalui pantai. Di depan batu karang yang sama, ia duduk memandang laut lepas. Belum lekang dalam ingatannya ketika satu bulan lalu Bima ada di sampingnya. Memeluknya dengan erat.
“Bim, kamu orang baik. Paling tidak terhadapku. Aku berharap kau masih hidup sekarang ini. Namun jika kau sudah tiada, aku yakin malaikat akan membawamu ke syurga. Bim, aku yakin kamu tahu, dalam doaku aku tak pernah meminta pada Tuhan agar kau ditemani bidadari yang menurut orang merupakan mahluk paling cantik. Aku ingin bidadari itu aku Bim. Aku tidak rela jika ada bidadari menemanimu. Aku Cemburu,”