Archive for February, 2010

Harapmu Untukku

February 12, 2010

Mendidih hulu, sedih terlalu
Kurus kutu, teruskan buntu
Jarak tepi, gerak rapi
Dibelah empat sadarlah cepat

Pagi merenung, siang melamun
Senja memudar, malam berpijar
Tertutup mata, jalan meraba
Hati yang buta, benih derita

Pucuk gunung bisa dilihat
Dalam samudra mungkin terukur
Tinggi hati akan dilaknat
Walau sekata harus bersyukur

Malaikat terluka, bidadari merana
Teriak sakit tiada guna
Tuhan berkata lewat mereka
Namun banyak yang masih bertanya

Dengan rasa aku percaya
Tapi hati tak bisa mencari
Ada kala kau kan tersiksa
Sebab ingkari hal yang pasti

Tak henti sungai memagut
Agar bisa keujung laut
Bahwa hidup pasti meredup
di Gerbang maut semua bertaut

Gadis bernyanyi dihulu sepi
Menatap bulan menanti pagi
Harap mentari bersinar lagi
Mungkin nafas hanya disini

Badan menggigil dikala sakit
Seorang terpanggil memberi obat
Mampu banyak mengapa sedikit
Andai mau lekaslah tobat

Saat Mata Terbuka

February 6, 2010

Kutulis semua resah dan sedih bersama rintik hujan beserta desau angin
Tentang pagi yang tak lagi bersahabat
Siang yang tak membawa semangat, dan
Ribuan malam berlalu tanpa keramat

Kusenandungkan lagu duka bersama air mata mengalir
Sebagai wujud nestapa anak bangsa
Karena kepentingan yang meraja
Sebab muak menyaksi segala kemunafikan dan tipu daya
Tiada henti memperkosa alam manusia

Sudah lirih petikan lebut dawai asmara
Terkikis habis hampir semua cinta
Senyum ceria disana terbakar api tiada

Menjadikan jalanan sebagai ibunda
Walau kekerasan mencumbu bagai teman lama

Perjalan puncak kesedihan akan kutuliskan
Suaraku kan menggema di batas akhir semesta biarpun parau nampaknya
Jutaan orang menipu diri, takut lalu lari

Berkaca aku mengenang pribadi lalu
Ketika berupaya ditengah badai ingin dan gejolak rindu
Meracuni atau teracuni aku tak pernah tahu
Namun, saat sadar bahwa hidup berjalan
Kenyataan telah memakan tumbal teman sepaham

(pengguna narkotika di Indonesia sudah lebih dari 3.8 juta orang dan 15.000 diantaranya meninggal setiap tahunnya. Lebih dari 4.000 anak-anak benar-benar hidup dijalanan jakarta dimana setiap saat kekerasan fisik dan phsikologis siap menerkam)

Ikhlas Dalam Renunganku

February 3, 2010

Ikhlas! Hampir setiap hari kita mendengar, membaca ataupun mengucapkan kalimat yang menggunakan kata tersebut didalamnya. Namun benarkah kita tahu apa hakikat salah satu kata teragung yang diciptakan oleh manusia selain maaf, terimakasih dan cinta?

Kita sering berkata atau mendengar “Kalau memberi sesuatu kepada sesama, kamu harus ikhlas. Jangan mengharapkan balasan apapun.” Jika mengacu pada contoh kalimat diatas maka hakikat dari kata ikhlas adalah sebuah kegiatan atau keadaan  dimana kita mengurangi milik kita untuk diberikan kepada orang lain baik materi maupun imateriil dengan penuh ketulusan tanpa mengharapkan balasan apapun termasuk ridho dari tuhan. Keikhlasan yang dilakukan karena tuhan belumlah menjadi keikhlasan sempurna karena masih mengharapkan hal yang berasal dari luar dimana hal itu merupakan timbal balik secara langsung dari apa yang telah kita lakukan.

Lantas bagaimana kita bisa menjadi mahluk yang memiliki keikhlasan hampir sempurna, karena tidak adanya sesuatu yang dianggap sempurna didunia ini?

Menjadi egois adalah satu-satunya jalan jalan untuk mencapai tingkat keikhlasan yang lebih tinggi dibandingkan keikhlasan kepada tuhan yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai sesuatu yang paling sempurna diantara ketidak sempurnaan. Egois adalah sebuah pola atau alur pikir yang akan memunculkan kegiatan kepada orang lain dimana sang empunya pola pikir itu melakukan segala sesuatu bagi dirinya sendiri. Namun ke-egoisan untuk menjadi ikhlas tidaklah ditujukan kepada orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri.

Semua orang dibelahan bumi manapun pasti menginginkan yang namanya bahagia di hidupnya, dan menjadi egois atau melakukan segala sesuatunya untuk diri kita sendiri adalah jalan terbesar menuju keikhlasan yang dari situ akan tumbuh rasa bahagia.

Seorang ayah yang egois, akan melakukan apa saja agar dapat melindungi, menjaga,  mencukupi kebutuhan, serta mencurahkan cinta kasih kepada anak-anaknya. Sang ayah bekerja keras  membanting tulang untuk memberikan jalan kebahagiaan menurut definisinya secara pribadi bukan kebahagiaan itu sendiri. Ketika ia memberikan hasil maksimal dari usahanya kepada keluarga maka yang akan terjadi selanjutnya adalah kemungkinan besar ia akan melihat senyum dan nyanyian ceria dari anak-anaknya. Yang dapat dilihat dan didengar oleh sang ayah sendiri hanyalah senyum, tawa dan senandung sang buah hati, sesuatu yang bersifat materi yang nampak saja. sementara perasaan bahagia sang anak ketika memiliki mainan baru, tidaklah dapat dirasakan. Yang dirasakannya ketika itu adalah kebanggaan atau perasaan lainnya dimana ia telah mampu memberikan jalan pada anaknya untuk tersenyum.

Contoh nyata lainnya adalah ketika kita dengan sepenuh hati berusaha mengerti dan berupaya secara maksimal untuk keceriaan pasangan kita. Kita akan menjadi mahluk paling bahagia ketika sang pujaan hati nampak senang dengan apa yang kita lakukan walaupun dapat dipastikan kita tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh kekasih kita dan perasaan bahagia yang kita alami juga sepenuhnya berbeda dengan yang kita cintai itu. Kita melakukan hal untuk membahagiakan pasangan adalah untuk kebahagiaan kita dengan kekasih kita sebagai jalannya.

Adalah sebuah kebohongan besar ketika ada manusia berkata “Ingatlah ada seorang yang rela mengorbankan nyawanya untukmu.” Suatu ketika mungkin benar ia benar-benar mengorbankan nyawa, sesuatu paling berharga miliknya. Tapi hal itu dilakukan karena orang yang dicintainya, bukan untuk orang yang dicintainya tersebut. Pengorbanan nyawa itu sekali lagi saya tegaskan adalah sesuatu yang nampak, yang tertangkap oleh mata. Sementara hal yang paling penting disini adalah yang tidak bisa ditangkap oleh mata maupun panca indera lainnya. Apakah kita bisa merasakan senyum bangganya sesaat sebelum nyawa lepas dari badan? 100% tidak!! Dan seandainya saja keadaan itu dibalik, maka hanya kita pula satu-satunya yang tahu bahagia dan sesal karena telah berkorban kepada seseorang yang dengan pengorbanan itu telah menempatkan kita pada keadaan dimana kita tinggal kenangan.

Tidak sedikit dari pepohonan dimuka bumi ini yang bisa hidup tanpa daun untuk sementara waktu namun akan sangat jarang atau mungkin tidak ada yang bisa hidup tanpa akar. Akar sendiri biasanya terletak dibawah tanah sehingga ia tersembunyi dari pandangan mata. Ia tidak pernah memohon ataupun memunculkan diri untuk membanggakan diri karena ia merupakan hal pertama dan terpenting dalam menjaga kelangsungan hidup dari sebuah pohon. Ia melakukan ini dengan penuh kesadaran karena jika ia memaksakan diri untuk naik kepermukaan maka seluruh kehidupan yang ditopang diatasnya akan mati termasuk dirinya sendiri. Jadi apa yang dilakukan oleh akar adalah untuk dirinya senndiri yang kemudian berdampak pada seluruh kehidupan sebuah pohon.

Ketika malam datang, manusia kerap menggunakan lilin sebagai salah satu penerang. Ketika sudah menyala, betapa Egoisnya sang lilin yang hanya mau menyinari segala sesuatu dengan api yang berasal dari dirinya. Dan karena menjadi penerang itulah, lilin tidak  pernah berhenti menangis. Seandainya saja lilin dapat bercerita, mungkin ia akan menemui sarang madu sebagai tempat asalnya dan mengajak mereka untuk menjadi seperti dirinya, menjadi lebih berguna walau jalan yang ditempuhnya adalah mengorbankan diri habis dimakan api.

Ke-egoisan terhadap diri sendiri jika disalurkan pada jalan yang seharusnya maka akan menjadikan manusia seperti akar ataupun lilin bagi kehidupan. Akan menjadi sesosok manusia yang melakukan segala sesuatunya demi kebanggaan, kesenangan, kepuasaan dan kebahagian pribadi dengan jalan menjadi berguna bagi yang lain. Jadi pada kesimpulannya, ikhlas adalah tindakan yang dilakukan oleh manusia untuk membahagiakan dirinya sendiri melalui orang lain. Ikhlas adalah pupuk sekaligus benih dari tumbuhan dalam hati manusia yang disebut kebahagiaan.

Pesisir Selatan Jawa Tengah, 3 Februari 2010. 21:17.

Setitik Dualisme Dalam Budaya Jawa

February 1, 2010

Dalam tradisi Jawa ada sebuah istilah yang menjadi salah satu ciri budaya Jawa yaitu istilah “perkewuh (segan)”, dan hampir dapat dipastikan hampir semua orang jawa mempunyai sifat ini dan akan nampak sangat jelas ketika ia membutuhkan pertolongan. Namun walaupun dalam keadaan yang sedemikian rupa, biasanya orang Jawa akan tetap mempertahankan sikap Perkewuhnya walaupun itu untuk meminta tolong. Sikap ini juga akan terlihat jika ia sedang bertamu. Ketika tuan rumah menawarkan sesuatu, diajak makan misalnya, maka orang orang tersebut biasanya akan mengatakan “sampun (sudah)” atau “dados damel (merepotkan)” dan berbagai penolakan halus lainnya. Tapi kata “sampun” dan “dados damel” tadi, karena rasa perkewuh yang dimiliki oleh orang jawa tersebut bisa jadi berarti “sampun ngelih sanget (sudah lapar sekali)” dan “dados damel bungah (merepotkan tapi membuat hati senang).

Di sisi lain ada istilah yang berkaitan namun bertolak belakang yaitu “sing penting tembunge (yang penting bilang)”. Karena istilah ini orang Jawa dituntut untuk berani mengutarakan apa yang menjadi niat dan keinginannya, padahal ini berlawanan dengan sikap yang pertama. Dari istilah kedua inilah kita bisa menyimpulkan ketika ada orang Jawa yang berani mengutarakan keinginannya untuk meminta tolong misalnya, maka ia memang pada saat itu sedang benar-benar membutuhkan pertolongan. Dari dua istilah itu maka orang Jawa akan dihadapkan pada dualisme yang kompleks dan pelik.

Lalu bagaimana orang Jawa menyikapi budayanya itu??

Istilah Perkewuh itu sebenarnya menuntut kita untuk peka terhadap keadaan orang lain. Rasa itu sebaiknya kita terapkan pada saat dimana kita melihat orang lain, terutama yang sedang membutuhkan sehingga tanpa diminta bantuan pun kita akan merasa perkewuh pada diri kita sendiri jika tidak menolong orang tersebut. Sementara dari rasa yang sama pula, si tertolong, akan menjadi segan dan malu ditolong terus-terusan sehingga akan menciptakan keadaan yang memaksa orang tersebut untuk membalas budi (walaupun kadang dipaksakan).

Istilah kedua itu sendiri sebenarnya bertujuan untuk membentuk mental kita agar menjadi orang yang tahu diri dengan dukungan dari istilah pertama. Dari sini akan memunculkan sebuah kesadaran kalau kita harus berusaha mengerjakan segala sesuatunya sampai pada titik akhir batas maksimal kemampuan kita. Batas maksimal kemampuan manunsia sendiri bukan terletak pada keluhannya “aku sudah mentok” tapi pada diamnya baik secara tiba-tiba ataupun perlahan-lahan meredup tanpa pernah menyelesaikan apa yang sudah dimulainya (meneng ndomblong).

Tapi apapun kebudayaan dan darimanapun asalanya, pelaku kebudayaan itu tetaplah manusia biasa yang biasanya juga akan lebih mengingat satu kebaikannya daripada sepuluh kesalahan dengan dibarengi oleh primordialisme kental.

DON’T SELL POVERTY FOR SYMPATHY!!!!

February 1, 2010

Disebuah negeri impian, akan diadakan pemilihan raja baru. Kampanye politik menebar janji untuk menarik simpati terus menerus digelar. Terlihat seorang calon pemimpin baru sedang berkampanye. Ia berpidato dengan penuh semangat. Suasana hingar bingar terlihat jelas karena nampak ribuan simpatisannya memadati tempat berlangsungnya kampanye. Diantara kerumunan massa terdapat dua orang pemuda yang juga mendengarkan pidato tersebut dengan penuh perhatian. Pidato dari juru kampanye berisi uraiannya tentang kemiskinan yang sedang melanda Negara akibat krisis.
“Kemiskinan bukan hanya rasa lapar yang mendera setiap hari. Bukan pula sekedar keinginan tubuh menggigil terhadap hangatnya pakaian. Kemiskinan yang lebih mendasar adalah digunakannnya berbagai jalan untuk merintangi kemajuan orang lain. Kemiskinan yang paling mengerikan adalah perbuatan kita mengambil hak milik orang lain, memperkosa kemerdekaan mereka dan selalu merasa benar tak pernah mau merasa bersalah atau disalahkan. Kemiskinan adalah sesuatu yang tak henti-hentinya mendorong kita untuk selalu membenci dan bermusuhan.
Jika kita saling mendukung, pasti semuanya akan bisa terlaksana. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha. Termasuk membrantas kemiskinan agar semua warga Negara benar-benar mendapatkan haknya hingga iapun bisa melaksanakan kewajibannya dengan sepenuh hati.”
Dua orang pemuda yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik terheran-heran dengan isi pidato. Kemudian salah satu dari mereka bertanya kepada temannya. “Kemiskinan itu keadaan atau sifat?” yang ditanya sama sekali tidak menjawab, ia hanya mencibir sambil mengangkat bahunya sebagai jawaban.

Kutuliskan Untukmu

February 1, 2010

Ketika matahari menghilangkan panasnya, sinar kuningpun menyelam di kulit bumi, rembulan mulai menampakkan sinar kasihnya. Waktu itulah kemelut cinta melanda dalam diri yang terus bertarung dengan rasa gelisahku. kudengar ayam asyik bernyanyi, ketika mentari mulai menari saat itulah lorong-lorong ketenangan dilewati oleh rasa resah, gelisah yang menumbuhkan buih-buih kekhawatiran. maka serta merta ketenanganku direnggut, kebahagianku dirampas, oleh rasa rindu yang tak dapat aku salurkan dengan kasih yang nyata. disaat rasa menjerit tak pernah bisa berbunyi, karena ketenangan hatiku terbelenggu, terpenjara oleh sebuah rasa rindu. tibalah kehampaan, kesengsaraan, ketakutan yang terus menyapa tanpa boleh disapa!

Teman Terbaikku

February 1, 2010

Aku merindukanmu wahai teman terbaikku.
Ketika bersamamu, aku mampu mencapai ratusan dunia hingga melewati batas semesta.
Pulanglah kesini lawan terbaikku.
Aku ingin kembali merakasan gelisah tiada henti.
Mendekatlah padaku kawan lama.
Semua luka telah mengering.
Tunjukan dirimu, sahabat terdekatku.
Telah kusiapkan meja perjamuan untukmu yang dekat bersama bintang.
Keluarlah dari persembunyianmu, aku menunggumu.
Tidakkah kau menginginkan lagi, pertarungan tiada henti antara aku dan kau?
Keluarlah dari balik awan, bersembunyi diantra gugusan halilintar tiada berguna,
Aku pasti bisa menemukanmu sobat.
Kau tak pernah bisa lari dariku, dan kaupun tahu itu.
Lupakah kau pada semua sakit karena ku?
Hanya berdua kita mampu merubah sarang madu menjadi lilin.
Kemarilah, mawar itu telah tumbuh.
Ya, mawar yang kita tanam diatas es kelabu.
Janganlah kau takut padaku, walaupun berkali-aku membunuhmu
Kau selalu bisa hidup kembali.
Semakin kuat, kian besar, dan tambah benderang.

Kulihat Kurasa

February 1, 2010

Aku melihat kemiskinan bergulung-gulung dijalanan, menggerogoti jiwa orang-orang. Lalu apakah kemiskinan itu? Kemiskinan bukanlah kerinduan rasa lapar terhadap makanan, bukan pula keinginan tubuh menggigil terhadap hangatnya pakaian. Kemiskinan adalah usaha menggunakan berbagai rintangn dan alas an untuk merendahkan martabat orang lain. Kemiskinan adalah ketakutan pemilik harta terhadap berkurangnya kekayaan mereka. Kemiskinan adalah perbuatan orang lapar yang memakan daging sesame. Kemiskinan adalah sebuah kata yang selalu berteriak membencilah, membencilah, membencilah.

Kini, disamping penderitaan, dibawah panji-panji penindasan,prajurit-prajurit kemiskinan berbaris menyokong bala tentara kejahatan yang ingin membalas dendam. Mahluk-mahluk itu dipimpin oleh setan yeng merupakan bendahara kerajaan. Pembunuhan, pencurian, penghasutan, pengkhianatan, rayuan kemarahan, kekerasan dan tirani. Itulah calon-calon pasukan tambahan sekaligus warga Negara baru.

Entah Sampai Kapan

February 1, 2010

Malam dingin mencekik tulang ketika roda waktu berputar menggilas jaman
Hanya hitam kelam bersama angin mendesir layaknya tangan-tangan kematian
Tak banyak yang kudapati disini
Cuma seongggok tulang dibungkus daging berbalut kulit warna-warni
Dibawah kilat dan halilintar tanpa kepala mereka berjalan
Kadang terdengar geletar cambuk turut mengantarkan
Tanpa mulut mereka berteriak, menjerit dan merintih
Karena tapak-tapak kaki menginjak permadani berbulu belati
Telah menunggu naga bersisik emas siap menerkam
Garang menantang diatas sebuah jembatan
Mempercepat langkah lautan garam disiramkan
Menyentuh kulit luka yang menganga lebar
Kata tak lagi bermakna diam-pun tiada wibawa
Tangis, tawa, duka, bahagia, nestapa, dan ceria musnah terbakar
Menyisakan arang-arang batu akhirnya menjadi dasar
Dibalik awan ia bersembunyi dengan pedang bermata dua erat digenggaman
Bidadari dan malaikat mematung penuh kesetiaan
Mereka berkata mataku telah terbutakan, hingga
Tulisan ini tak bisa kuselesaikan

Untukmu (Nietzsche)

February 1, 2010

Engkau adalah seorang lelaki ditawan oleh kebijaksanaan, kessunyian dan kesepian menjadi rumahmu, kehampaan adalah teman sejatimu, ketenangan hatimu telah dirampas, dan kebahagiaan turut pula menyingkirkanmu.

Suatu saat nanti, kata-katamu akan menjadi sebuah tragedi. Aku bisa merasakannya dari tatap matamu yang jauh lebih tajam dari matahari serta cahaya wajahmu yang yang benderang hingga api yang mengalir kadadamu terus memancarkan sinar yang tiada habisnya. Suara serulingmu membawa nada-nada melodi lama. Belum pernah kulihat rantai yang bisa menghalangi jalanmu. Pesan antikmu tak tersuarakan oleh siapapun bahkan oleh para martyr yang mendahului. Setiap pidatomu tajam laksana ingin membelah bumi menjadi dua. Emosimu tak pernah bisa ditapaki dan kau meraih ekstase karena kegilaanmu.
Suatu saat mereka pasti akan mendengarkanmu sahabatku. Karena apa yang engkau sampaikan sedang berjalan menuju kenyataan. Sekarang memang belum waktu tepat karena masih terlalu banyak orang-orang munafik turut yang menghujat. Mereka berkata “dirimu telah disinari oleh cahaya namun kau tidak menyadari keberadaan cahaya tersebut. Laksana akar yang jauh dari buahnya. Kau tentu tahu bahwa semakind alam pucuk pepohonan menjangkau cahaya, semakin dalam akarnya kepada kegelapan menuju kejahatan.”
Kau bukanlah seorang manusia lemah dan kalah, jadi kau sama sekali tidak pernah takut menjadi manusia dan melakukan segala sesuatunya disini hanya untuk bumi. Kau tak pernah mengeluh, merintih, serta meminta pertolongan pada hal-hal yang sama sekali berada diluar kemanusiaanmu. Telingamupun telah muak mendengar kata “bahwa yang jahat akan mendapat balasan setimpal suatu saat nanti.”
Teman, kau mendorong manusia untuk menjadi manusia. Berusaha dengan tangan mereka sendiri. Harapan akan anugerah, bagimu tak ubahnya bagai rintihan orang-orang kalah yang meminta belas kasihan. Sobat, kau ajarjan padaku bahwa kemenangan diraih bukan hanya dengan kepercayaan dan keyakinan tapi dengan perang, terluka dan saling melukai. Siapapun yang kuat dan bertahan paling lama adalah pemenang sejati dan pemenang sejati selalu dipenuhi bekas luka. Kebenaranmu akan teruji ditempat itu. Sebuah tempat dimana firman mengalir tanpa pertolongan kata-kata!